Menurut saya hal yang paling bijak yang harus dilakukan pihak perbankan syariah adalah mencari sumber dana murah. Kalau saya perhatikan selama ini pihak marketing funding masih terkonsentrasi untuk mendapat dana sebesar mungkin dengan secepat mungkin, kalau bisa ratusan juta milyaran rupiah per nasabah. Tentu saja nasabah besar ini tidak akan mungkin mau membuka rekening dalam bentuk tabungan saja dan bagian terbesar dari dananya tentu saja dalam bentuk deposito bahkan kalau bisa dengan meminta special rate.
Bukannya nasabah dengan nominal besar ini tidak penting..tentu saja penting..tapi kalau kita perhatikan di bank2 besar (Mandiri, BNI, BCA dll) perbandingan antara deposito, tabungan dan giro relatif seimbang. Kalau kita perhatikan cek bilyet giro yang beredar masih di dominasi oleh bank konvensional besar tersebut. Padahal tabungan dan giro merupakan sumber dana murah yang tentu saja mereka akan dapat memberikan tingkat suku bunga yang lebih murah lagi. Hal ini tentu saja memerlukan kreatifitas dan perjuangan yang lebih besar dari pihak perbankan syariah sendiri untuk mengedukasi masyarakat agar mau menabung di bank syariah dan juga kreatifitas untuk melahirkan produk2 baru. Kita tentu saja jangan cuma terjebak dalam halal dan haram dalam memasarkan suatu produk karena secara faktual sebagian besar masyarakat kita belum memikirkan hal tersebut. Menurut pengamatan saya bagaimanapun masyarakat tetap akan lebih mengutamakan standar pelayanan yang prima dibandingkan halal haram. Kalau kita coba perhatikan di BCA misalnya kenapa mereka bisa punya nasabah yang sangat loyal kepada mereka. Saya kira bukan cuma karena dulunya bank ini (maaf) disebut "Bank Cina Asli" karena faktanya sangat banyak pribumi yang menabung disana, tapi saya kira lebih kepada kwalitas pelayanan mereka yang bagus dan juga ditunjang oleh keunggulan teknologi mereka. Jadi saya kira kira kunci utamanya kita harus terus mendorong agar perbankan syariah kreatif lagi dan agar lebih bisa memberikan pelayanan yang lebih berkwalitas kepada nasabah agar masyarakat mau menabung disana dan tentunya ini akan bisa menurunkan pricing dari pembiayaan kita. Wassalam --- On Mon, 4/26/10, ekonom_ui <[email protected]> wrote: From: ekonom_ui <[email protected]> Subject: [ekonomi-syariah] Re: Kritik Membandingkan Pricing Bank Syariah dg Pricing Bank Konvensional To: [email protected] Date: Monday, April 26, 2010, 12:12 PM Masalah utamanya bukan itu. Masalahnya adalah biaya dana (cost of fund) yang mau ga mau bank syariah masih harus di-drive oleh pasar konvensional. Tlg baca dulu tulisan saya sebelumnya. Salam Kindy Miftah Pengamat & Praktisi Perbankan Syariah --- In ekonomi-syariah@ yahoogroups. com, noven suprayogi <mujahidmuda21@ ...> wrote: > > Sebenarnya untuk masalah pricing bank syariah yang lebih mahal daripada bank > konven perlu dilakukan evaluasi secara komprehensif, artinya jangan sampai > hanya pihak konsumen (masyarakat) yang dipersalahkan saja, tetapi pihak bank > syariah perlu melakukan evaluasi secara komprehensif kenapa pricingnya lebih > mahal. Kalau saya berpikir sederhana saja bahwa pricing bank syariah lebih > mahal karena biaya operasionalnya masih tinggi, selama ini benchmarkingnya > biaya operasionalnya ke bank konven, banyak biaya2 di bank yang terlalu > bermewah atau berlebihan, sehingga perlu manajemen bank syariah melakukan > evaluasi atas biaya2 operasionalnya. Evaluasi lain kenapa bank syariah tidak > memegang prinsip "sedikit-sedikit asal banyak" artinya ambil untung sedikit > supaya yg beli banyak,,,karena bank syariah itu secara filosofi adalah jualan > barang, sewa barang, dan bagi hasil. Harusnya ada benchmark biaya operasional > yang wajar bagi bank syariah agar biaya operasionalnya > lebih wajar dan efesien > > > > > > ____________ _________ _________ __ > From: ali <ali.h...@.. .> > To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com > Sent: Friday, April 23, 2010 6:13:11 > Subject: [ekonomi-syariah] Re: Kritik Membandingkan Pricing Bank Syariah dg > Pricing Bank Konvensional > > > Salam rekan-rekan milis MES Yth, > > Terimakasih Pak Fathurrohman atas commentnya, kalau boleh saya analogikan > kondisi bank syariah sekarang ini seperti warung-warung kecil melawan > perusahaan retail raksasa seperti minimarket atau hypermarket, yaitu pricing > bank syariah pada saat start awalnya memang agak lebih mahal selain karena > filosofinya berbeda juga karena komposisi penguasaan dana murah tabungan > masyarakat menurut majalah Infobank 70% adalah dikuasai oleh 2 bank > konvensional papan atas. > > Jadi, kalau bank syariah mau pricingnya murah dari awal harus mendapatkan > dukungan dari masyarakat Islam Indonesia agar mau menaruh dananya di bank > syariah bukan di bank konvensional, karena banyak anggota masyarakat Islam yg > mengkritik pricing pembiayaan bank syariah tapi perbuatannya yaitu > menabungnya di bank konvensional. > > Ada suatu hal yg terpenting yg harus terus menerus diberikan adalah > memberikan edukasi kepada kalangan masyarakat mengenai keunggulan konsep > pembiayaan bank syariah dibandingkan dg konsep kredit bank konvensional dg > system bunganya yaitu walaupun mungkin pricing bank syariah agak mahal pada > start awalnya tapi tidak seperti di bank konvensional yg berfluktuatif tinggi. > > Masih banyak sekali anggota masyarakat khususnya kalangan pengusaha yg belum > mengerti akan hal tsb , mereka banyak yg terjebak pada tingkat suku bunga > rendah pada saat pengajuan awal kredit di bank konvensional baik untuk modal > kerja usaha ataupun untuk Konsumtif seperti KPR, setelah berjalan 1 atau 2 > tahun tiba-tiba tingkat suku bungan naik tinggi tidak terduga, akibatnya > seringkali terjadi kredit macet. > > Kalau mau bukti, silahkan saja seraching di google keluhan-keluhan anggota > masyarakat yg terjebak bunga tinggi kpr bank konvensional. > > Bukti lain yitu pada tahun 1998, saya bekerja di salah satu perusahaan retail > market terbesar di Indonesia karena kenaikkan tingkat suku bunga pinjaman s/d > 70% maka perusahaan retail tsb harus rela diambil alih oleh bank konvensional. > > Masalah target pangsa pasar 5% untuk bank syariah, menurut pendapat saya > pribadi tidak perlu terburu-buru yg harus didahulukan adalah menjaga produk - > produk bank syariah baik tabungan maupun pembiayaannya agar tetap sesuai dg > koridor syariah, jangan sampai terburu-buru mengejar target 5% ternyata > konsepnya s/d bank konvensional, misalnya dg seenaknya merubah pricing harga > jual yg sudah disepakati di awal akad pembiayaan atau mengenakan denda > keterlambatan yg sangat memberatkan bagi si peminjam. > > Demikian, mohon maaf atas segala kekurangan. > Salam Ukhuwah > > Alihozi http://alihozi77. blogspot. com > > --- In ekonomi-syariah@ yahoogroups. com, M Said Fathurrohman <muh.said@ .> > wrote: > > > > Dengan ungkapan lain, > > > > silahkan bandingkan secara lengkap fitur dan harga antara bank syariah > > dengan bank konvensional. mau yang keliatan murah di awal, tapi "bunga > > sewaktu-waktu bisa berubah", atau yang mahalan dikit tapi pasti. > > > > Tapi maklum pak Ali, konsumen kan lebih mudah membandingkan harga daripada > > fitur. Jelasin fitur butuh mulut berbusa, kalau banting harga cukup > > bandingin angka. Makanya, barang China yang murah laris manis walau dipakai > > sebentar rusak. > > > > Lebih bagus lagi sih kalau bank syariah bisa lebih bagus dan lebih murah, > > insya Alloh target pangsa aset 5% cepat tercapai. > > > > ------ > > Muhamad Said Fathurrohman > > Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga > > id.linkedin. com/in/msaidf > > > > > > 2010/4/20 ali <ali.hozi@ .> > > > > > > > > > > > Salam rekan-rekan milis MES Yth, > > > > > > Menurut saya yg sudah lama mengamati praktek bank syariah di tanah air, > > > anggota masyarakat baik kalangan akademisi,pengamat maupun kalangan > > > pengusaha yg masih membandingkan pricing bank syariah dg bank konvensional > > > merupakan suatu hal yg menandakan pola berfikir (mindset) yg belum > > > terlepas > > > dari system bunga. > > > > > > Merupakan suatu yg tidak adil membandingkan antara pricing bank syariah > > > dan > > > bank konvensional karena keduanya mempunyai filosofi yg berbeda. > > > > > > Pada tulisan-tulisan artikel saya yg lalu saya sudah menceritakan > > > bagaimana > > > system bunga membuat kalangan pengusaha tidak bisa merencanakan > > > keuangannya > > > dg baik karena dihantui dg kenaikan suku bunga pinjaman yg tiba-tiba > > > tinggi > > > (padahal pada saat akad kredit suku bunga yg dikenakan rendah), yg > > > pengaruhnya kepada kenaikan pembayaran angsuran ke bank konvensional. Hal > > > ini yg diakibatkan oleh terjadinya krisis ekonomi seperti pada kejadian > > > krisis tahun 1998 dan krisis global th 2008 lalu. > > > > > > Coba bandingkan dg system bank syariah apakah diperbolehkan menaikkan > > > harga > > > jual yg telah disepakati pada saat akad, pada saat terjadinya krisis tsb ? > > > tentu saja tidak boleh bukan ? Inilah yg menyebabkan beberapa pengusaha yg > > > mulai mengerti system perbankan syariah mulai mengalihkan pinjamannya ke > > > bank syariah, karena menginginkan perencanaan keuangan yg lebih baik. > > > > > > Perbankan syariah sudah banyak yg berdiri, alangkah bijaksananya kalau > > > kita > > > mau membandingkan pricing itu adalah antara bank syariah yg satu dg bank > > > syariah lain jangan membandingkan pricing bank konvensional. > > > > > > Mohon Maaf Atas Segala Kekurangan, > > > Salam Ukhuwah > > > > > > Alihozi http://alihozi77. blogspot. com > > > >
