Wa'alaikum salam wr.wb.

Pak Fathurrohman YdA.,

Ketika SANERING, uang Rp1000 menjadi Rp1, dan harga barang yang tadinya Rp1000 
tetap Rp1000. Sehingga, setelah sanering, harga barang melonjak tiba2. Hal ini 
dilakukan untuk mengurangi excess money supply yang sudah keterlaluan. Artinya, 
pada akhirnya ditujukan untuk mengendalikan hyperinflasi yang terjadi saat itu.

Ketika REDENOMINASI, uang Rp1000 menjadi Rp1, tetapi bharga barang disesuaikan 
juga, yang tadinya Rp1000 menjadi Rp1. Ketika masa transisi, akan ada dua 
harga. Kalau bayar dengan uang lama Rp1000, kalau bayar dengan uang baru Rp1. 
Uang beredar tetap tidak berubah.

Allahu a'lam.

Ascarya

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
On Behalf Of M Said Fathurrohman
Sent: Thursday, August 05, 2010 9:35 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Ulasan Oppusunggu



Assalaamu'alaikum

Mohon penjelasan lebih lanjut tentang perbedaan redenominasi yang direncanakan 
dengan sanering masa Soekarno. Saya tidak mengerti ketika dikatakan sanering 
menurunkan nilai mata uang, padahal sanering itu sendiri dilakukan untuk 
meredam inflasi. Saya sulit memahami bagaimana bisa menghentikan penurunan 
nilai mata uang (inflasi) dengan cara menurunkan nilai mata uang (inflasi) 
lebih jauh secara paksa.

Sementara ini, saya memahami sanering persis dengan redenominasi: total nominal 
uang beredar (currency) dikurangi, sehingga harga nominal akan turun sebesar 
rasio sanering/redenominasi itu. Beda sanering dan redenominasi saya lihat cuma 
pada fisik metodenya: antara gunting uang dan penghapusan angka nol.

Mengenai terjadinya penurunan nilai uang pasca sanering, saya memahaminya bukan 
karena sanering itu sendiri, tetapi karena inflasi memang masih berlanjut pasca 
sanering. Ada pula kemungkinan keterkejutan masyarakat akibat sanering ikut 
memperparah inflasi tersebut.

Maaf atas keawaman saya dan mohon petunjuk dari para pakar moneter di milis ini.

Wassalaamu'alaikum
---
Muhamad Said Fathurrohman
Networking: [cid:~WRD000.jpg] Facebook<http://facebook.com/msaidf> 
[cid:~WRD000.jpg] LinkedIn<http://linkedin.com/msaidf> [cid:~WRD000.jpg] 
Twitter<http://twitter.com/msaidf>



2010/8/5 Ascarya <[email protected]<mailto:[email protected]>>

Assalamu'alaikum wr.wb.

Perlu untuk diketahui, REDENOMINASI itu tidak sama dengan SANERING.
Redenominasi hanya mengubah satuan uang saja, sedangkan daya beli uang yang 
kita pegang tidak berkurang. Sedangkan SANERING jaman dulu, daya beli uang yang 
kita pegang dipotong paksa oleh pemerintah.
Dengan redenominasi, uang 100 juta nantinya menjadi 100 ribu. Tapi, barang yang 
harganya 100 juta juga menjadi 100 ribu. Daya beli uang kita tetap sama. Tidak 
ada masyarakat yang dirugikan. Pemerintah atau BI saja yang mengeluarkan biaya 
dan usaha untuk sosialisasi. Pencetakan uang baru juga biaya, tetapi karena 
bertahap, akan sama dengan biaya "CLEAN MONEY POLICY" yang mencetak uang baru 
untuk menggantikan uang lusuh.

Wassalam.

Ascarya.


From: [email protected]<mailto:[email protected]> 
[mailto:[email protected]<mailto:[email protected]>]
 On Behalf Of Dharma Hutauruk
Sent: Tuesday, August 03, 2010 1:18 PM
To: Pers Indonesia Net; Jurnalisme Net; 
[email protected]<mailto:[email protected]>; 
wartawan jakarta; wartawanindonesia; ekonomi syariah; Ekonomi Nasional; 
[email protected]<mailto:[email protected]>
Subject: [ekonomi-syariah] Ulasan Oppusunggu



Sayang sekali saya tidak menonton tayangan tv yang menampilkan Gubernur Baru 
Bank Indonesia.
Kalau ini benar, berapa yang akan diberikan kepada para pengamen?
Lalu uang coin kita mau kita kemanakan kemudian????

dharma
---------- Forwarded message ----------
From: HMT Oppusunggu <[email protected]<mailto:[email protected]>>
Date: 2010/8/3
Subject:
To: Presiden SBY <[email protected]<mailto:[email protected]>>, Presiden Yudhoyono 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>, MenKeu Dpt Keuangan 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, "Pres.Dr Soesilo 
Yudhoyono" <[email protected]<mailto:[email protected]>>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, KADIN 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>, Kwik Kian Gie 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>, Sri-Edi Swasono 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>, Gubernur Bank Indonesia 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>, Komisi korupsi 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>
Cc: [email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, Aristides Katoppo 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>,
 [email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>, 
[email protected]<mailto:[email protected]>
Dalam tayangan TV kemarin malam -2 Juli 2010- kita dikejutkan oleh Darmin 
Nasution, yang berencana bahwa semua uang yang sudah dikeluarkan BI akan 
'dipotong 1000': uang Rp 100 000 akan menjadi Rp 100 saja, dll. ... tapi uang 
recekan diapain? Ini suatu tindakan gila dan membabi buta belaka.
 Sewaktu di zaman Soekarno, Gubernur BI Syafrudin Prawiranegara memotong uang 
Rp 100 000 menjadi Rp 100, hanyalah karena run away inflation naik sesukanya 
600-800%, sebagai akibat dari belanja negara yang dilakukan dengan pencetakan 
uang  saja hingga menaikkan harga semaunya. Bedanya antara Syafrudin dan 
Darmin, hanyalah karena Syafrudin memang ahli-moneter walaupun latar 
belakangnya pendidikan SH, sedang Darmin sama sekali buta-huruf saja mengenai 
teori moneter dan ke-Bank Sentral-an, walaupun ijazahnya dari Sorbonne, Paris.

Pada zaman Syafrudin, begitu cepatnya peredaran uang, hingga timbul 
kecenderungan kuat untuk tidak memegang cash, tapi lari ke barang hingga harga 
barang membubung terus. Sekarang pada zaman Darmin, tidak ada inflasi dan tidak 
ada kecenderungan lari ke barang dan atau  kecenderungan untuk tidak memegang 
cash. Walaupun rakyat kecil semakin tidak mampu memegang cash tapi itu timbul 
karena pendapatan mereka semakin kecil; tapi orang kaya bangsa sendiri (anggota 
KADIN, BUMN, Pertamina dan BI serta perbankan Pemerintah) dan asing semakin 
lebih kaya lagi dan mampu memperoleh cash banyak -khusus sebagai akibat 
penerimaan cash yang berlebih-lebihan, tapi disimpan di luar negeri atau 
dibelanjakan di dalam negeri. Export-lah sumber peredaran uang terbanyak 
disusul belanja pengeluaran birokrasi raksasa pemerintahan Kabinet SBY. Rakyat 
kecil semakin tersudut dan terpisah dari ekonomi modern. Kepincangan antara si 
kaya dan rakyat si miskin  semakin melebar. Kepincangan ini dan kepincangan 
struktur  dan pertumbuhan perekonomian kita sudah lama berlangsung dengan 
timbulnya high cost economy dan high-'valas'-export-revenues dari sejak 
krisis-valas 1998 hingga detik ini. Kepincangan tsb akan lebih dipercepat dan 
diperburuk lagi oleh Darmin Nasution. Adakah rasa malu dan jujur-ilmiah dari 
Darmin?

Darmin, sama sekali tidak mempedulikan penjualan SBI yang merugikan BI -dan 
negara sendiri- lebih dari Rp 20 triliun setiap tahun, dll yang sudah sering 
kami kemukakan selama ini. Ya, Darmin buta total tentang berlakunya 
Undang-Undang palsu BI No. 23, 1999.
Darmin juga pendukung 1 000 000% dari Sri Mulyani yang dengan 
KEBIJAKAN-MONETERNYA melanggar prinsip-prinsip dan dalil ilmu moneter membail 
out Bank Century dan mencaploknya kemudian menjadi Bank Mutiara MILIK 
PEMERINTAH.

Tentu saja Pres. SBY mensyahkan Darmin sebagai Gubernur BI yang baru dan 
sekaligus pemotongan uang dengan 1000, KARENA DPR 100% PENDUKUNG PRES. SBY 
TERLEPAS DARI PEMAKZULAN SBY SEHUBUNGAN DENGAN KRIMINILATAS MONETER PARA 
GUBERNUR BI termasuk BOEDIONO DAN DARMIN NASUTION SERTA MENTERI KEUANGAN,SRI 
MULYANI.

3-8-2010.                                                                hmt 
oppusunggu
                                                                                
website: 
www.hmtoppusunggu.wordpress.com/<http://www.hmtoppusunggu.wordpress.com/>



________________________________
"This e-mail (including any attachments) is intended solely for the addressee 
and could contain information that is confidential; If you are not the intended 
recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or 
dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited and you 
should immediately delete it. This message does not necessarily reflect the 
views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer 
viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus 
and any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient 
should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of 
e-mail transmission through Internet."


<<inline: ~WRD000.jpg>>

<<inline: image001.jpg>>

<<inline: image002.jpg>>

Kirim email ke