allo..
mm..I think that's not what I asked...& anyway we don't really want dragging those
economists here, do we..? he he...
the question actually is if (gula mentah = unrefined sugar) then why people in
Indonesia are told it's pretty unsafe for consumption?...as far as i know it's pretty
common here (england) and I suppose in most other western country...it can be under
other names (brown sugar/sucrose/turbinado/demera/ molasses). one reason people buy
this sugar (it's more expensive than white sugar) is because it's perceived to have
less environmental impact for its production. (no further purification hence less
energy to be put in during manufacturing)...less waste...less chemical used (no
purification).
(well some manufacturers do actually cheats by putting the colourings into the white
sugars to prop up the price)
other reasons are..mm.. it's quite safe for diabetic sufferers ( i was told) and good
sources for minerals...I guess those dirts aren't too bad ..eh
and since you start talking about something else...well I'm still quite agree with
mahathir, if you need to import the sugar, use less of it then...otherwise unrefined
sugar is a smart choice and cheaper !!!...
on the manufacturing side, building one of those plant isn't exactly rocket science,
any decent chemical engineer should be able to build one (even those local
graduates.....not that I ever think of them as bad engineers...he he..)... so i tend
to blame those on the top (the managers etc) for their short-termism...but then may be
it's also caused by some other reasons..i don't know..
and about those overseas graduates who are becoming talk host regulars etc.mmm...I
don't think I know one who has gone that shallow..but may be things should improve if
we start paying reseachers more decent wages... six figure number (in Rupiah!!) a
month for a good graduate isn'r really a smart move from the government...don't you
think?
bye
On Thu, 25 Nov 1999 12:53:18 +0700 Diah Parahita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>-----Original Message-----
>From: muaz <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Thursday, November 25, 1999 4:31 AM
>Subject: Re: [envorum] gula mentah berbahaya?
>
>
>>At 18:18 23.11.99 +0000, you wrote:
>>yang menjadi pertanyaan kenapa sih gula produksi dalam negeri lebih mahal
>>? logikanya khan lebih murah. Kalau masalah produktivitas yang rendah,
>>efisiensi proses (dari jadwal panen sampai di dan diolah pabrik), maka
>>harus dicari jawabnya. alangkah anehnya kita membuat kebiakan memelihara
>>ketidak efisienan.
>
>Setahu saya sich masalahnya bukan cuma itu. Kalau masalah ketidakefisienan
>dll itu sich masalah lama dan mungkin hanya dijadikan s ebagai kambing hitam
>permasalahan. Yang saya tahu dan pernah saya denger adalah kekuatan lobbying
>para importir dengan pejabat di negeri ini atau pihak-pihak lain yang
>berwenang. Keberadaan para importir inilah yang kadang ikut menjadi penentu
>harga barang-barang import tersebut. Keberadaan mereka itu sudah seperti
>mafia. Selain itu ketidakefisienan produk lokal tersebut yang menyebabkan
>harganya lebih mahal, juga musti dilihat dari sisi mana sejak dari sisi
>produksinya, distribusi, atau apa. Dari situ baru bisa ditentukan apa yang
>harus dipotong. Mungkin ini bisa lebih jelas lagi kalau di milis ini ada
>ahli ekonomi yang paham betul dengan marketing mix-nya.
>
>Pabrik-pabrik Gula di indonesia saya kira sebagaian
>>besar dibangun Belanda. Apa enggak ketinggalan zaman tehnologinya ya?
>>Trus apa memang enggak ada yang ahli proses tebu menjadi gula yang lebih
>>modern, lebih efisien, lebih ramah lingkungan...heran... udah banyak
>
>Mungkin ada tetapi apa yang bisa mereka lakukan kalau ternyata permasalahan
>bukan hanya di sisi produksi/teknisnya. Bagaimana kalau hal itu lebih
>disebabkan oleh masalah lain yang bersifat non teknisnya? Kalau saya lihat
>sich, lebih kepada permasalahan ini.
>
>utang
>>nyekolahin ... eh pulang-pulang cuma jadi ahli seminar dan talk show.
>
>Yach soalnya cuma itu yang mereka bisa lakukan agar tetap exist. Karena
>seperti yang saya bilang, good will-nya yach musti dari kebijakan
>pemerintah yang bukan saja dari sisi produksi tetapi lebih kepada sisi non
>produksinya/non teknisnya alias marketing/ekonominya.
>
>Demikian tanggapan saya.
>salam
>Diah
>
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
>Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>dan di http://www.egroups.com/list/envorum
>
>
**************************************************************
Danial Irfachsyad
[EMAIL PROTECTED]
Department of Chemistry
University of Southampton
**************************************************************
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
dan di http://www.egroups.com/list/envorum