Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa contoh: - merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu yang menggunakan kata "merubah") - apotik --> seharusnya "apotek" - resiko --> seharusnya "risiko" - analisa --> seharusnya "analisis" - kwitansi --> seharusnya "kuitansi" - kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan kualitas" - jadual --> seharusnya "jadwal" - karir --> seharusnya "karier" - jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00" - diatas --> seharusnya "di atas" - legalisir --> seharusnya "legalisasi" dan masih banyak lagi. Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern (UPI), salah satu tugas saya adalah memeriksa rancangan surat edaran yang menyangkut sistem dan prosedur dari semua urusan dan menyusun buku Pedoman Pemeriksaan Intern. Saya sering rapat membahas rancangan surat edaran dan bertemu dengan Bapak Yunus Malik (saat itu beliau di Urusan Dalam Negeri). Beliaulah yang sangat rajin dan telaten memeriksa dan mengoreksi kesalahan kata dan kalimat dalam surat edaran, titik komanya pun diperhatikan oleh beliau. Kata-kata asing juga dicari padanannya secara maksimal. Saya sungguh kagum atas kegigihan beliau dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang "kesalahan berbahasa". Ternyata memang cukup banyak kesalahan-kesalahan yang telah saya lakukan selama ini dan tidak saya sadari. Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan kesalahan menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama Inggris), tetapi kita tidak takut/malu melakukan kesalahan menulis/mengucapkan bahasa ibu kita sendiri. Aneh ya? Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa digunakan dengan baik dan benar? Tentunya kita semuanya. Salam, boedi dayono
On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban wrote: > Berbahasa Indonesia yang baik.. > > Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008 > Bahasa > > Kritisi dan Fundamental > > Sori Siregar > > * Penulis cerita pendek > > KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak ditemukan dalam penggunaan > bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya > sampai lusuh karena begitu seringnya saya membukanya, agar dapat > berbahasa > Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar orang yang salah kaprah > dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah jumlahnya. > > Misalnya, ada orang yang mengatakan "mengkritisi", padahal yang > dimaksudkannya adalah "mengeritik". Kita beralasan untuk terkejut dan > kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga sering terjadi di kalangan > kaum > terpelajar kita baik ketika mereka menulis maupun pada saat berbicara. > Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk show di sebuah stasiun > televisi, dengan yakin mengucapkan kata "mengkritisi". Mungkin, banyak > orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia karena terlalu lama > belajar > di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu peduli dengan bahasa > Indonesia. > > Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya "kritik", "kritikus", dan > "kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka mengatakan "mengkritisi", > sedangkan yang mereka maksudkan adalah "mengeritik". Mengapa ini dapat > terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika mereka ingin > menggunakan > kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa Inggris, bukan pada > kamus > bahasa Indonesia. > > Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah kaprah itu mungkin seperti > ini. > Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut "criticism". Jadi, jika kata > benda > ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu memberikan awalan "me", > sehingga lahirlah kata kerja gado-gado "meng-criticism". Mungkin pula > kata > yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata ini diberi awalan "me", > lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize". Kemudian kata inilah yang > dinasionalisasi menjadi "mengkritisi". > > Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum berubah, yaitu ke-caman > atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau pertimbangan > baik-buruk > terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Arti > "mengeritik" > juga masih tetap mengemukakan kritik atau mengecam. Begitu juga dengan > kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah orang yang ahli dalam > memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang baik-buruknya sesuatu, > sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah kaum kritikus. Itu > menurut KBBI. > > Karena terlalu sering merujuk kepada kamus bahasa Inggris, tidak > jarang > pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan kata-kata bahasa > Inggris > yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan itu. Artinya, kita > tetap > mempertahankan kata gado-gado. Karena itu, tidaklah mengherankan jika > kita > menemukan kata-kata seperti men-training atau di-training, > men-sweeping > atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing, di-backing atau > mem-backing, dan men-support atau di-support. Kekeliruan mungkin akan > terus terjadi jika kita selalu merujuk pada kamus bahasa Inggris, > padahal > yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia. > > Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam tulisan-tulisan tentang > ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda pernah menemukan kata > "fundamental" dalam kalimat seperti ini, "fundamental ekonomi > Indonesia > kuat, karena itu tak perlu khawatir". > > Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak mengetahui apa > bedanya > "fundamen" dan "fundamental". Fundamen adalah kata benda atau nomina, > sedangkan fundamental adalah kata sifat atau adjektiva. Berdasarkan > sifat > kata yang digunakan kalimat yang disebutkan tadi, seharusnya ditulis > "fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu khawatir". > > Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah bersifat dasar (pokok), > atau > mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan kalimat: "Iman merupakan > suatu > hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia". Dalam bahasa > Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat dianggap sebagai kata benda. > > Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai kata sifat, > "fundamental" > dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat, "fundamental" > bermakna of > or forming a foundation, of great importance, serving as a starting > point. > Dalam posisinya sebagai kata benda, "fundamental" berarti essential > part. > Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis "the fundamentals of > mathematics". Jika kata-kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa > Indonesia > secara harfiah, artinya fundamental matematika. > > Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the fundamental of > economics", yang artinya kira-kira sama dengan fundamental ekonomi. > Konon, > begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di negeri ini sehingga > mereka > tetap menggunakan kata-kata "fundamental ekonomi" walaupun yang mereka > maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi. > > Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini saya kutip dari Oxford > Advanced Learner's Dictionary of Current English susunan A.S. Hornby, > A.P. > Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford University Press, > Oxford, > Inggris. > > Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur yang disiarkan sebuah > stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon gubernur Chofifah Indar > Parawansa mengatakan akan me-manage pemerintahannya dengan baik jika > ia > terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak dapat disalahkan karena > bukan ia yang merintis penggunaan kata "me-manage" itu. Ia hanya > mengulang > apa yang pernah dikatakan pendahulunya. > > Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi. Karena itu, saya bertekad > tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu depan setelah me-write > sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke majalah Tempo". > > Wahyu W. Basjir > > Transparency Specialist > > Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and Development > (AIPRD) > > Local Governance and Infrastructure for Communities in Aceh (Logica) > Project > > Jl. Kebun Raja No. 2 > > Ie Masen, Ulee Kareng > > Banda Aceh > > Phone: 081377072131 > > Fraud hotline: 08126991695 > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > >
