Tulisan Pak Pri: .......... " EVEN ", apa di bahasa Indonesia ada huruf " V "....... Menurut saya huruf "V" ada di bahasa Indonesia --> efektivitas, kreativitas, universitas. Kalau kata "even" benar apa tidak, saya tidak mangertos... Maaf, menulis tanda baca " EVEN " tidak tepat --> seharusnya "EVEN" --> tidak ada spasi setelah dan sebelum tanda kutip. Demikian juga "adalah :" --> seharusnya "adalah:", tanpa spasi. Salam, boedi dayono
On Tue, 2008-08-12 at 01:31 -0700, PRIANTO TIRTOPRODJO wrote: > Jeng Iin, kulo bade urun rembug ( yang ini juga boleh dikritik). > > Kebetulan kok ada umpan untuk mengeritik bahasa Indonesia yang sering > dipergunakan oleh media koran, televisi dan artis (selengibrit) atau > tokoh politik di negeri ini. > Misalnya, > " EVEN ", apa di bahasa Indonesia ada huruf " V ", maksudnya mungkin > "EVENT" yang artinya kurang lebih adalah acara atau kejadian, nah > kalau EVEN artinya didalam bahasa Indonesia yaitu angka genap, atau > kata sifat yang menekankan sesuatu...gitu jeng Iin. > " KONSEN ", yang ini saya sering bingung, apakah yang dimaksud > "Concent" yang artinya perjanjian (accord), "Consent" yg artinya > adalah persetujuan atau "Concern" yang artinya menjadi perhatian atau > tertarik akan sesuatu, atau "Concentration" yang artinya konsentrasi. > " ENTERTAIN " (kata kerja), misalnya si A bergerak didalam bidang > entertain, mestinya bidang "ENTERTAINMENT" (kata benda). > Masih banyak yang lain, yang itu kan hanya sekedar contoh yang paling > sering terbaca atau terdengar, hanya mereka para penulis, redaktur di > koran, majalah, atau media lain2 itu, apakah orang pinter atau orang > nggak pinter (bahasa halusnya stupid), tidak mengerti atau mencoba > menciptakan kosa kata baru. > Sok nyoba2 nyampur-nyampur (ini pasti bhs indonesia-jawa) bahasa > inggris tapi malah menjadi nggak bener...jadi keblinger....mendingan > mendengarka Cinthya Laura suaza. > Kecuali kalau dengan alasan bahwa bahasa itu berkembang, maka itu lain > cerita, hanya tentunya agar dibakukan masuk dalam kamus bahasa > Indonesia, kecuali bahasa gaul yang memang bisa timbul, menjadi > terkenal, dan kemudian hilang lagi...misalnya "beken" (sekarang "top > habis"), "binen" (sekarang "tajir") dll, dlsb. > > Nah satu tambahan lagi " Rp " tidak perlu pakai titik " Rp. ", karena > hal ini bukan merupakan singkatan dari Rupiah, tetapi merupakan > simbol mata uang, nggak percaya apakah USD pakai titik USD. atau GBP > pakai titik GBP. > > Matur nuwun Jeng Iin, tawaran untuk mengeritik. > > Prianto > > --- On Tue, 12/8/08, Indiah Marsaban <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > From: Indiah Marsaban <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [exbe2de] Buat teman-teman yang rajin 'mengkritisi'.. > To: [email protected] > Date: Tuesday, 12 August, 2008, 9:52 AM > > > Terima kasih pak Boedi atas "pencerahan" nya. > > Penggunaan kata "bagi" dan "daripada" serta penulisan kata > "silakan" juga > sering salah ya. > > Contoh: > > "Bagi mahasiswa yang telah lulus dan melunasi uang kuliah > dapat mengikuti > acara wisuda...." > > Seharusnya: tanpa kata "Bagi" -----> sehingga menjadi: > "Mahasiswa yang telah lulus dan melunasi uang kuliah dapat > mengikuti... .." > > "Penggunaan daripada Bahasa Indonesia akhir-akhir > ini..." (mengingatkan > kita pada zaman pak Harto ya? He...he..tidak usah pakai > "daripada" lah > yao) > > Kata "silakan" ditulis tanpa "h". > > Ayo siapa lagi yang bisa menemukan kesalahan umum berbahasa > Indonesia.(Memangny a ada perlombaan) > > Ternyata susah ya untuk dapat berbahasa Indonesia formal yang > baku sesuai > kaidah. > > Apalagi saya, karena saya lebih sering pakai bahasa gaul. > Mesti lebih > banyak belajar. > > Namun seperti kata orang bijak,... mengapa kita tidak mulai > melakukan hal > "kecil" secara akurat (Jika menggunakan suatu bahasa entah itu > berbahasa > Indonesia atau berbahasa Inggris ataupun pakai bahasa kalbu, > kita upayakan > penggunaanya secara akurat.) > > Salam, > In > > Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia > sehari-hari > > yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa contoh: > > - merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu yang > menggunakan > > kata "merubah") > > - apotik --> seharusnya "apotek" > > - resiko --> seharusnya "risiko" > > - analisa --> seharusnya "analisis" > > - kwitansi --> seharusnya "kuitansi" > > - kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan > kualitas" > > - jadual --> seharusnya "jadwal" > > - karir --> seharusnya "karier" > > - jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00" > > - diatas --> seharusnya "di atas" > > - legalisir --> seharusnya "legalisasi" > > dan masih banyak lagi. > > Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern > (UPI), salah satu > > tugas saya adalah memeriksa rancangan surat edaran yang > menyangkut > > sistem dan prosedur dari semua urusan dan menyusun buku > Pedoman > > Pemeriksaan Intern. Saya sering rapat membahas rancangan > surat edaran > > dan bertemu dengan Bapak Yunus Malik (saat itu beliau di > Urusan Dalam > > Negeri). Beliaulah yang sangat rajin dan telaten memeriksa > dan > > mengoreksi kesalahan kata dan kalimat dalam surat edaran, > titik komanya > > pun diperhatikan oleh beliau. Kata-kata asing juga dicari > padanannya > > secara maksimal. Saya sungguh kagum atas kegigihan beliau > dalam > > menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. > > Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang > "kesalahan > > berbahasa". Ternyata memang cukup banyak kesalahan-kesalahan > yang telah > > saya lakukan selama ini dan tidak saya sadari. > > Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan > kesalahan > > menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama Inggris), tetapi > kita tidak > > takut/malu melakukan kesalahan menulis/mengucapkan bahasa > ibu kita > > sendiri. Aneh ya? > > Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa > digunakan dengan > > baik dan benar? Tentunya kita semuanya. > > Salam, > > boedi dayono > > > > On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban wrote: > >> Berbahasa Indonesia yang baik.. > >> > >> Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008 > >> Bahasa > >> > >> Kritisi dan Fundamental > >> > >> Sori Siregar > >> > >> * Penulis cerita pendek > >> > >> KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak ditemukan dalam > penggunaan > >> bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia > (KBBI) saya > >> sampai lusuh karena begitu seringnya saya membukanya, agar > dapat > >> berbahasa > >> Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar orang yang > salah kaprah > >> dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah jumlahnya. > >> > >> Misalnya, ada orang yang mengatakan "mengkritisi" , padahal > yang > >> dimaksudkannya adalah "mengeritik" . Kita beralasan untuk > terkejut dan > >> kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga sering terjadi > di kalangan > >> kaum > >> terpelajar kita baik ketika mereka menulis maupun pada saat > berbicara. > >> Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk show di sebuah > stasiun > >> televisi, dengan yakin mengucapkan kata "mengkritisi" . > Mungkin, banyak > >> orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia karena > terlalu lama > >> belajar > >> di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu peduli > dengan bahasa > >> Indonesia. > >> > >> Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya "kritik", > "kritikus", dan > >> "kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka mengatakan > "mengkritisi" , > >> sedangkan yang mereka maksudkan adalah "mengeritik" . > Mengapa ini dapat > >> terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika mereka > ingin > >> menggunakan > >> kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa Inggris, > bukan pada > >> kamus > >> bahasa Indonesia. > >> > >> Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah kaprah itu > mungkin seperti > >> ini. > >> Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut "criticism". Jadi, > jika kata > >> benda > >> ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu memberikan > awalan "me", > >> sehingga lahirlah kata kerja gado-gado "meng-criticism" . > Mungkin pula > >> kata > >> yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata ini diberi > awalan "me", > >> lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize" . Kemudian kata > inilah yang > >> dinasionalisasi menjadi "mengkritisi" . > >> > >> Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum berubah, > yaitu ke-caman > >> atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau > pertimbangan > >> baik-buruk > >> terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Arti > >> "mengeritik" > >> juga masih tetap mengemukakan kritik atau mengecam. Begitu > juga dengan > >> kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah orang yang > ahli dalam > >> memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang baik-buruknya > sesuatu, > >> sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah kaum > kritikus. Itu > >> menurut KBBI. > >> > >> Karena terlalu sering merujuk kepada kamus bahasa Inggris, > tidak > >> jarang > >> pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan kata-kata > bahasa > >> Inggris > >> yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan itu. > Artinya, kita > >> tetap > >> mempertahankan kata gado-gado. Karena itu, tidaklah > mengherankan jika > >> kita > >> menemukan kata-kata seperti men-training atau di-training, > >> men-sweeping > >> atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing, di-backing > atau > >> mem-backing, dan men-support atau di-support. Kekeliruan > mungkin akan > >> terus terjadi jika kita selalu merujuk pada kamus bahasa > Inggris, > >> padahal > >> yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia. > >> > >> Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam > tulisan-tulisan tentang > >> ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda pernah > menemukan kata > >> "fundamental" dalam kalimat seperti ini, "fundamental > ekonomi > >> Indonesia > >> kuat, karena itu tak perlu khawatir". > >> > >> Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak mengetahui > apa > >> bedanya > >> "fundamen" dan "fundamental" . Fundamen adalah kata benda > atau nomina, > >> sedangkan fundamental adalah kata sifat atau adjektiva. > Berdasarkan > >> sifat > >> kata yang digunakan kalimat yang disebutkan tadi, > seharusnya ditulis > >> "fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu > khawatir". > >> > >> Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah bersifat dasar > (pokok), > >> atau > >> mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan kalimat: "Iman > merupakan > >> suatu > >> hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia". > Dalam bahasa > >> Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat dianggap sebagai > kata benda. > >> > >> Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai kata > sifat, > >> "fundamental" > >> dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat, > "fundamental" > >> bermakna of > >> or forming a foundation, of great importance, serving as a > starting > >> point. > >> Dalam posisinya sebagai kata benda, "fundamental" berarti > essential > >> part. > >> Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis "the > fundamentals of > >> mathematics" . Jika kata-kata ini diterjemahkan ke dalam > bahasa > >> Indonesia > >> secara harfiah, artinya fundamental matematika. > >> > >> Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the > fundamental of > >> economics", yang artinya kira-kira sama dengan fundamental > ekonomi. > >> Konon, > >> begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di negeri ini > sehingga > >> mereka > >> tetap menggunakan kata-kata "fundamental ekonomi" walaupun > yang mereka > >> maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi. > >> > >> Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini saya kutip > dari Oxford > >> Advanced Learner's Dictionary of Current English susunan > A.S. Hornby, > >> A.P. > >> Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford University > Press, > >> Oxford, > >> Inggris. > >> > >> Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur yang > disiarkan sebuah > >> stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon gubernur Chofifah > Indar > >> Parawansa mengatakan akan me-manage pemerintahannya dengan > baik jika > >> ia > >> terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak dapat > disalahkan karena > >> bukan ia yang merintis penggunaan kata "me-manage" itu. Ia > hanya > >> mengulang > >> apa yang pernah dikatakan pendahulunya. > >> > >> Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi. Karena itu, > saya bertekad > >> tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu depan > setelah me-write > >> sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke majalah Tempo". > >> > >> Wahyu W. Basjir > >> > >> Transparency Specialist > >> > >> Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and > Development > >> (AIPRD) > >> > >> Local Governance and Infrastructure for Communities in Aceh > (Logica) > >> Project > >> > >> Jl. Kebun Raja No. 2 > >> > >> Ie Masen, Ulee Kareng > >> > >> Banda Aceh > >> > >> Phone: 081377072131 > >> > >> Fraud hotline: 08126991695 > >> > >> [Non-text portions of this message have been removed] > >> > >> > >> > >> > >> > >> > > > > > > > > > > Send instant messages to your online friends > http://uk.messenger.yahoo.com > > > >
