Kang, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang benar "bus".
Kalau "bis" artinya kotak kecil milik kantor pos untuk kirim surat.
Kalau nurutin Kang Asep Surasep semuanya akan jadi rame karena semua
dokumen akan di-"potokofi".
He.. he....

On Tue, 2008-08-12 at 21:50 +0000, kangucup wrote:
> Pak Prie.. 
> kalau naik "busway" (ini juga "salah kaprah", jalur bus kok dinaiki)
> koridor 4 Dukuh Atas - Pulogadung menjelang Arion Mall di corong
> (speaker) akan terdengar rekaman si embak (kalau nggak salah denger)
> "Next destination.... bla, bla, bla..." dan di dalam bus (bis, bus
> atau bas?), di atas paramudi (istilahnya memang begitu) terdapat
> "hurup berjalan" (running text) "PELODROME".. 
> Aduh jadi ingat kang Asep Surasep yang kagak punya TV tapi punyanya
> LCD TIPI...
> 
> Penasaran akhirnya membuka Wikipedia:
> 
> 
>         A velodrome is a sporting arena for track cycling. Modern
>         velodromes feature steeply banked oval tracks, consisting of
>         two 180-degree circular bends connected by two straights. The
>         straights transition to the circular turn through a moderate
>         easement curve.
>         
> 
> 
> 
> --- In [email protected], PRIANTO TIRTOPRODJO <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> > Jeng Iin, kulo bade urun rembug ( yang ini juga boleh dikritik).
> > Â 
> > Kebetulan kok ada umpan untuk mengeritik bahasa Indonesia yang
> sering dipergunakan oleh media koran, televisi dan artis
> (selengibrit) atau tokoh politik di negeri ini.
> > Misalnya,
> > "Â EVEN ", apa di bahasa Indonesia ada huruf " V ", maksudnya
> mungkin "EVENT" yang artinya kurang lebih adalah acara atau kejadian,
> nah kalau EVEN artinya didalam bahasa Indonesia yaitu angka genap,
> atau kata sifat yang menekankan sesuatu...gitu jeng Iin.
> > " KONSEN ", yang ini saya sering bingung, apakah yang dimaksud
> "Concent" yang artinya perjanjian (accord), "Consent" yg artinya
> adalah persetujuan atau "Concern"Â  yang artinya menjadi perhatian
> atau tertarik akan sesuatu, atau "Concentration" yang artinya
> konsentrasi.
> > " ENTERTAIN " (kata kerja),  misalnya si A bergerak didalam bidang
> entertain, mestinya bidang "ENTERTAINMENT" (kata benda).
> > Masih banyak yang lain, yang itu kan hanya sekedar contoh yang
> paling sering terbaca atau terdengar, hanya mereka para penulis,
> redaktur di koran, majalah, atau media lain2Â itu, apakah
> orang pinter atau orang nggak pinter (bahasa halusnya stupid), tidak
> mengerti atau mencoba menciptakan kosa kata baru. 
> > Sok nyoba2 nyampur-nyampur (ini pasti bhs indonesia-jawa) bahasa
> inggris tapi malah menjadi nggak bener...jadi keblinger....mendingan
> mendengarka Cinthya Laura suaza. 
> > Kecuali kalau dengan alasan bahwa bahasa itu berkembang, maka itu
> lain cerita, hanya tentunya agar dibakukan masuk dalam kamus bahasa
> Indonesia, kecuali bahasa gaul yang memang bisa timbul, menjadi
> terkenal, dan kemudian hilang lagi...misalnya "beken" (sekarang "top
> habis"), "binen" (sekarang "tajir") dll, dlsb.
> > Â 
> > Nah satu tambahan lagi  " Rp " tidak perlu pakai titik " Rp. ",
> karena hal ini bukan merupakan singkatan dari Rupiah, Â tetapi
> merupakan simbol mata uang, nggak percaya apakah USD pakai titik USD.
> atau GBP pakai titik GBP.
> > Â 
> > Matur nuwun Jeng Iin, tawaran untuk mengeritik.
> > Â 
> > Prianto
> > 
> > --- On Tue, 12/8/08, Indiah Marsaban [EMAIL PROTECTED] wrote:
> > 
> > From: Indiah Marsaban [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: [exbe2de] Buat teman-teman yang rajin 'mengkritisi'..
> > To: [email protected]
> > Date: Tuesday, 12 August, 2008, 9:52 AM
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Terima kasih pak Boedi atas "pencerahan" nya.
> > 
> > Penggunaan kata "bagi" dan "daripada" serta penulisan kata "silakan"
> juga
> > sering salah ya.
> > 
> > Contoh:
> > 
> > "Bagi mahasiswa yang telah lulus dan melunasi uang kuliah dapat
> mengikuti
> > acara wisuda...."
> > 
> > Seharusnya: tanpa kata "Bagi" -----> sehingga menjadi:
> > "Mahasiswa yang telah lulus dan melunasi uang kuliah dapat
> mengikuti... .."
> > 
> > "Penggunaan daripada Bahasa Indonesia akhir-akhir
> ini..." (mengingatkan
> > kita pada zaman pak Harto ya? He...he..tidak usah pakai "daripada"
> lah
> > yao)
> > 
> > Kata "silakan" ditulis tanpa "h".
> > 
> > Ayo siapa lagi yang bisa menemukan kesalahan umum berbahasa
> > Indonesia.(Memangny a ada perlombaan)
> > 
> > Ternyata susah ya untuk dapat berbahasa Indonesia formal yang baku
> sesuai
> > kaidah.
> > 
> > Apalagi saya, karena saya lebih sering pakai bahasa gaul. Mesti
> lebih
> > banyak belajar.
> > 
> > Namun seperti kata orang bijak,... mengapa kita tidak mulai
> melakukan hal
> > "kecil" secara akurat (Jika menggunakan suatu bahasa entah itu
> berbahasa
> > Indonesia atau berbahasa Inggris ataupun pakai bahasa kalbu, kita
> upayakan
> > penggunaanya secara akurat.)
> > 
> > Salam,
> > In
> > 
> > Kita juga sering salah dalam menggunakan bahasa Indonesia
> sehari-hari
> > > yang bisa ditiru oleh anak cucu kita. Beberapa contoh:
> > > - merubah --> seharusnya "mengubah" (banyak lirik lagu yang
> menggunakan
> > > kata "merubah")
> > > - apotik --> seharusnya "apotek"
> > > - resiko --> seharusnya "risiko"
> > > - analisa --> seharusnya "analisis"
> > > - kwitansi --> seharusnya "kuitansi"
> > > - kwantitas dan kwalitas --> seharusnya "kuantitas dan kualitas"
> > > - jadual --> seharusnya "jadwal"
> > > - karir --> seharusnya "karier"
> > > - jam 12.00 --> seharusnya "pukul 12.00"
> > > - diatas --> seharusnya "di atas"
> > > - legalisir --> seharusnya "legalisasi"
> > > dan masih banyak lagi.
> > > Saat saya masih aktif di BBD Urusan Pemeriksaan Intern (UPI),
> salah satu
> > > tugas saya adalah memeriksa rancangan surat edaran yang menyangkut
> > > sistem dan prosedur dari semua urusan dan menyusun buku Pedoman
> > > Pemeriksaan Intern. Saya sering rapat membahas rancangan surat
> edaran
> > > dan bertemu dengan Bapak Yunus Malik (saat itu beliau di Urusan
> Dalam
> > > Negeri). Beliaulah yang sangat rajin dan telaten memeriksa dan
> > > mengoreksi kesalahan kata dan kalimat dalam surat edaran, titik
> komanya
> > > pun diperhatikan oleh beliau. Kata-kata asing juga dicari
> padanannya
> > > secara maksimal. Saya sungguh kagum atas kegigihan beliau dalam
> > > menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
> > > Setelah itu, saya tergerak untuk membaca buku tentang "kesalahan
> > > berbahasa". Ternyata memang cukup banyak kesalahan-kesalahan yang
> telah
> > > saya lakukan selama ini dan tidak saya sadari.
> > > Menurut pengamatan saya, kita ini takut/malu melakukan kesalahan
> > > menulis/mengucapkan bahasa asing (terutama Inggris), tetapi kita
> tidak
> > > takut/malu melakukan kesalahan menulis/mengucapkan bahasa ibu kita
> > > sendiri. Aneh ya?
> > > Siapa yang bisa meluruskan agar bahasa Indonesia bisa digunakan
> dengan
> > > baik dan benar? Tentunya kita semuanya.
> > > Salam,
> > > boedi dayono
> > >
> > > On Mon, 2008-08-11 at 13:16 +0700, Indiah Marsaban wrote:
> > >> Berbahasa Indonesia yang baik..
> > >>
> > >> Tempo Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008
> > >> Bahasa
> > >>
> > >> Kritisi dan Fundamental
> > >>
> > >> Sori Siregar
> > >>
> > >> * Penulis cerita pendek
> > >>
> > >> KEKELIRUAN atau salah kaprah sangat banyak ditemukan dalam
> penggunaan
> > >> bahasa Indonesia. Akibatnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
> saya
> > >> sampai lusuh karena begitu seringnya saya membukanya, agar dapat
> > >> berbahasa
> > >> Indonesia dengan benar. Ini saya lakukan agar orang yang salah
> kaprah
> > >> dalam berbahasa Indonesia tidak bertambah jumlahnya.
> > >>
> > >> Misalnya, ada orang yang mengatakan "mengkritisi" , padahal yang
> > >> dimaksudkannya adalah "mengeritik" . Kita beralasan untuk
> terkejut dan
> > >> kecewa, karena kekeliruan seperti itu juga sering terjadi di
> kalangan
> > >> kaum
> > >> terpelajar kita baik ketika mereka menulis maupun pada saat
> berbicara.
> > >> Seorang cendekiawan, dalam sebuah acara talk show di sebuah
> stasiun
> > >> televisi, dengan yakin mengucapkan kata "mengkritisi" . Mungkin,
> banyak
> > >> orang yang mulai lupa kepada bahasa Indonesia karena terlalu lama
> > >> belajar
> > >> di luar negeri. Atau memang mereka tidak begitu peduli dengan
> bahasa
> > >> Indonesia.
> > >>
> > >> Akibatnya mereka tidak tahu lagi apa bedanya "kritik",
> "kritikus", dan
> > >> "kritisi". Karena itu, dengan yakin mereka mengatakan
> "mengkritisi" ,
> > >> sedangkan yang mereka maksudkan adalah "mengeritik" . Mengapa ini
> dapat
> > >> terjadi? Tampaknya, mereka salah rujukan. Ketika mereka ingin
> > >> menggunakan
> > >> kata "kritik", mereka merujuk pada kamus bahasa Inggris, bukan
> pada
> > >> kamus
> > >> bahasa Indonesia.
> > >>
> > >> Dasar pemikiran orang yang berbahasa salah kaprah itu mungkin
> seperti
> > >> ini.
> > >> Dalam bahasa Inggris, "kritik" disebut "criticism". Jadi, jika
> kata
> > >> benda
> > >> ini dijadikan kata kerja, pemakai hanya perlu memberikan awalan
> "me",
> > >> sehingga lahirlah kata kerja gado-gado "meng-criticism" . Mungkin
> pula
> > >> kata
> > >> yang dirujuk adalah "criticize". Setelah kata ini diberi awalan
> "me",
> > >> lahirlah kata baru, yaitu "meng-criticize" . Kemudian kata inilah
> yang
> > >> dinasionalisasi menjadi "mengkritisi" .
> > >>
> > >> Sejauh yang saya ketahui, makna "kritik" belum berubah, yaitu
> ke-caman
> > >> atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau pertimbangan
> > >> baik-buruk
> > >> terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Arti
> > >> "mengeritik"
> > >> juga masih tetap mengemukakan kritik atau mengecam. Begitu juga
> dengan
> > >> kata "kritikus" dan "kritisi". Kritikus adalah orang yang ahli
> dalam
> > >> memberikan pertimbangan (pembahasan) tentang baik-buruknya
> sesuatu,
> > >> sedangkan yang dimaksudkan dengan kritisi adalah kaum kritikus.
> Itu
> > >> menurut KBBI.
> > >>
> > >> Karena terlalu sering merujuk kepada kamus bahasa Inggris, tidak
> > >> jarang
> > >> pula kita memberi awalan "me" atau "di" di depan kata-kata bahasa
> > >> Inggris
> > >> yang lain tanpa mengubah kata yang diberi awalan itu. Artinya,
> kita
> > >> tetap
> > >> mempertahankan kata gado-gado. Karena itu, tidaklah mengherankan
> jika
> > >> kita
> > >> menemukan kata-kata seperti men-training atau di-training,
> > >> men-sweeping
> > >> atau di-sweeping, di-briefing atau mem-briefing, di-backing atau
> > >> mem-backing, dan men-support atau di-support. Kekeliruan mungkin
> akan
> > >> terus terjadi jika kita selalu merujuk pada kamus bahasa Inggris,
> > >> padahal
> > >> yang ingin kita ketahui adalah bahasa Indonesia.
> > >>
> > >> Kalau Anda memperhatikan dengan cermat, dalam tulisan-tulisan
> tentang
> > >> ekonomi di surat kabar atau majalah mungkin Anda pernah menemukan
> kata
> > >> "fundamental" dalam kalimat seperti ini, "fundamental ekonomi
> > >> Indonesia
> > >> kuat, karena itu tak perlu khawatir".
> > >>
> > >> Sebenarnya, agak aneh jika warga Indonesia tidak mengetahui apa
> > >> bedanya
> > >> "fundamen" dan "fundamental" . Fundamen adalah kata benda atau
> nomina,
> > >> sedangkan fundamental adalah kata sifat atau adjektiva.
> Berdasarkan
> > >> sifat
> > >> kata yang digunakan kalimat yang disebutkan tadi, seharusnya
> ditulis
> > >> "fundamen ekonomi Indonesia kuat, karena itu tak perlu khawatir".
> > >>
> > >> Menurut KBBI, adjektiva "fundamental" adalah bersifat dasar
> (pokok),
> > >> atau
> > >> mendasar. Kamus ini memberi contoh dengan kalimat: "Iman
> merupakan
> > >> suatu
> > >> hal yang sangat fundamental di dalam kehidupan manusia". Dalam
> bahasa
> > >> Indonesia, kata "fundamental" tidak dapat dianggap sebagai kata
> benda.
> > >>
> > >> Lain halnya dalam bahasa Inggris. Selain sebagai kata sifat,
> > >> "fundamental"
> > >> dianggap sebagai kata benda. Sebagai kata sifat, "fundamental"
> > >> bermakna of
> > >> or forming a foundation, of great importance, serving as a
> starting
> > >> point.
> > >> Dalam posisinya sebagai kata benda, "fundamental" berarti
> essential
> > >> part.
> > >> Karena itu, dalam bahasa Inggris dapat ditulis "the fundamentals
> of
> > >> mathematics" . Jika kata-kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa
> > >> Indonesia
> > >> secara harfiah, artinya fundamental matematika.
> > >>
> > >> Analog dengan ini, semestinya ada kata-kata "the fundamental of
> > >> economics", yang artinya kira-kira sama dengan fundamental
> ekonomi.
> > >> Konon,
> > >> begitulah dasar pemikiran sejumlah ekonom di negeri ini sehingga
> > >> mereka
> > >> tetap menggunakan kata-kata "fundamental ekonomi" walaupun yang
> mereka
> > >> maksudkan fundamen atau dasar-dasar ekonomi.
> > >>
> > >> Kata-kata "the fundamental of mathematics" ini saya kutip dari
> Oxford
> > >> Advanced Learner's Dictionary of Current English susunan A.S.
> Hornby,
> > >> A.P.
> > >> Cowie, dan A.C. Gimson yang diterbitkan Oxford University Press,
> > >> Oxford,
> > >> Inggris.
> > >>
> > >> Dalam debat pemilihan kepala daerah Jawa Timur yang disiarkan
> sebuah
> > >> stasiun televisi pada 19 Juli 2008, calon gubernur Chofifah Indar
> > >> Parawansa mengatakan akan me-manage pemerintahannya dengan baik
> jika
> > >> ia
> > >> terpilih menjadi gubernur. Ibu Chofifah tidak dapat disalahkan
> karena
> > >> bukan ia yang merintis penggunaan kata "me-manage" itu. Ia hanya
> > >> mengulang
> > >> apa yang pernah dikatakan pendahulunya.
> > >>
> > >> Kekeliruan seperti ini seharusnya dikurangi. Karena itu, saya
> bertekad
> > >> tidak akan pernah menulis seperti ini: "Minggu depan setelah
> me-write
> > >> sebuah artikel, saya akan men-send-nya ke majalah Tempo".
> > >>
> > >> Wahyu W. Basjir
> > >>
> > >> Transparency Specialist
> > >>
> > >> Australia-Indonesia Partnership for Reconstruction and
> Development
> > >> (AIPRD)
> > >>
> > >> Local Governance and Infrastructure for Communities in Aceh
> (Logica)
> > >> Project
> > >>
> > >> Jl. Kebun Raja No. 2
> > >>
> > >> Ie Masen, Ulee Kareng
> > >>
> > >> Banda Aceh
> > >>
> > >> Phone: 081377072131
> > >>
> > >> Fraud hotline: 08126991695
> > >>
> > >> [Non-text portions of this message have been removed]
> > >>
> > >>
> > >>
> > >>
> > >>
> > >>
> > >
> > >
> > >
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Send instant messages to your online friends
> http://uk.messenger.yahoo.com
> >
> 
> 
> 
> 
>  


Kirim email ke