Memang mereka rata-rata berpendidikan tinggi tapi pendidikan mereka adalah pendidikan untuk menindas, buktinya para "harleykers" hanya bisa pamer bahwa mereka "punya" dan harus diistimewakan dengan cara dikawal. Saya setuju dengan pendapat mbak Yuliati, supaya para "herleykers" itu disejajarkan dengan ibu-ibu RT yang sedang antri beras atau minyak tanya. Semakin arogan saja orang-orang kaya negeri ini......SHIT!!!!!
Pada tanggal 07/03/06, Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Waduh....Mas Harry dan Mas Didik....ini sudah "salah kaprah" seperti > kata pak Manneke kalau sudah enggak tahu juntrungnya. > > Kalau serombongan pengendara Harley adalah dari kalangan "Berpendidikan", > lalu minta di-konvoi oleh polisi agar mendapatkan jalan special untuk lewat, > kenapa enggak sekalian saja dipastikan rombongan Harley itu terjadi > (lewatnya bersebelahan) sewaktu rakyat kecil juga ber-bondong-bondong > ngantre beras, ngantre minyak tanah dan ngantre sembako korban banjir? Jadi > jalan sebelah kiri untuk Harley, dan sebelah kanan untuk rakyat yang antri > beras, minyak, dan sembako. Kontras, kan? Ini namanya kan "Indonesia" tanah > yang "Gemah limpah loh jinawi". > > Hayoo....mana yang akan dibela duluan oleh para polisi? Membantu rakyat > kecil agar mendapatkan jatah berasnya dengan teratur? (Serta berasnya enggak > dipalak para tengkulak). Ataukah membiarkan mereka saling berebutan, saling > terinjak-injak dan pengantre ibu-ibu tua pada semaput? > Sedangkan rombongan Harley dengan mudahnya lewat dengan pengawalan polisi > yang berseragam lengkap, serta dengan suara kerasnya yang memekak-kan > telinga (berapa "decibel" ya?). > > Ah bapak-bapak....kalau memang merasa berpendidikan dan sanggup membeli > apa saja, lha mbok ya enggak usah "PAMER" gitu ya? Lha wong yang menderita > masih se-jibun kok? > > Salam, > Yuli
