Tujuannya apa ya parade HD ini. Please dong info kan. Kalau ada tujuan amal dan
misinya positif sih ok ok saja, tapi kalau hanya pameran kepemilikan HD wah ya
lebih baik tinggal dirumah saja daripada kena macet dan saya rasa tidak ada
gunanya hal2 seperti ini dilakukan dalam situasi negara sedang mengalami macam2
bencana. Pagi tadi saya dengar di Sumatra ada gempa bumi lagi. Lebih baik kita
fokus kepada korban gempa ini kecuali parade HD ini mengumpulkan dana untuk
membantu mereka.
Salam
BS
Perpi Thomas <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Memang mereka rata-rata berpendidikan tinggi tapi pendidikan mereka
adalah
pendidikan untuk menindas, buktinya para "harleykers" hanya bisa pamer bahwa
mereka "punya" dan harus diistimewakan dengan cara dikawal. Saya setuju
dengan pendapat mbak Yuliati, supaya para "herleykers" itu disejajarkan
dengan ibu-ibu RT yang sedang antri beras atau minyak tanya. Semakin arogan
saja orang-orang kaya negeri ini......SHIT!!!!!
Pada tanggal 07/03/06, Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
> Waduh....Mas Harry dan Mas Didik....ini sudah "salah kaprah" seperti
> kata pak Manneke kalau sudah enggak tahu juntrungnya.
>
> Kalau serombongan pengendara Harley adalah dari kalangan "Berpendidikan",
> lalu minta di-konvoi oleh polisi agar mendapatkan jalan special untuk lewat,
> kenapa enggak sekalian saja dipastikan rombongan Harley itu terjadi
> (lewatnya bersebelahan) sewaktu rakyat kecil juga ber-bondong-bondong
> ngantre beras, ngantre minyak tanah dan ngantre sembako korban banjir? Jadi
> jalan sebelah kiri untuk Harley, dan sebelah kanan untuk rakyat yang antri
> beras, minyak, dan sembako. Kontras, kan? Ini namanya kan "Indonesia" tanah
> yang "Gemah limpah loh jinawi".
>
> Hayoo....mana yang akan dibela duluan oleh para polisi? Membantu rakyat
> kecil agar mendapatkan jatah berasnya dengan teratur? (Serta berasnya enggak
> dipalak para tengkulak). Ataukah membiarkan mereka saling berebutan, saling
> terinjak-injak dan pengantre ibu-ibu tua pada semaput?
> Sedangkan rombongan Harley dengan mudahnya lewat dengan pengawalan polisi
> yang berseragam lengkap, serta dengan suara kerasnya yang memekak-kan
> telinga (berapa "decibel" ya?).
>
> Ah bapak-bapak....kalau memang merasa berpendidikan dan sanggup membeli
> apa saja, lha mbok ya enggak usah "PAMER" gitu ya? Lha wong yang menderita
> masih se-jibun kok?
>
> Salam,
> Yuli
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]