--- In [email protected], "IC" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

> Saat ini, saya kurang respek thd para guru itu. Guru2 sekolah anak 
saya masih sering melakukan hal2 tidak terpuji dengan melakukan 
pungutan2 liar setiap tahun ajaran baru. Ah..kalau gitu, Guru bukan 
lagi pahlawan tanpa tanda jasa. Dia sama aja kok dengan yang lainnya 
(paling nggak sekarang ini).


iscab:

Ideologi "Pahlawan tanpa Tanda Jasa" adalah ideologi usang. Sekarang 
adalah jaman materialistis. Seorang guru harus memperoleh gaji layak.

Aku pernah jadi guru, dan aku melihat cara rekan guru lain memperoleh 
penghasilan. Ada yang buka bisnis menjahit, ada yang membuka tempat 
fitnes, ada yang memberi les privat, ada yang mengajar di sekolah 
lain, ada yang mengajar di bimbel, ada yang bisnis MLM, dll. Itu 
semua dilakukan di kota besar bernama Bandung. Kesempatan memperoleh 
penghasilan sampingan sangat besar di kota ini.

Nah, kalau guru yang mengajar di daerah miskin. Tentu nasibnya beda. 
Dia tidak akan mudah memperoleh penghasilan sampingan. 

Nah, kembali lagi mengenai ideologi "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". 
Ideologi ini cocok sekali untuk guru-guru jaman dahulu, yang biasanya 
punya padepokan, pesantren, dan apapun namanya, dengan tanah yang 
luas. Dia tidak butuh gaji, karena guru tersebut punya tanah untuk 
bertani dan biasanya tanah tersebut digarap oleh murid-muridnya yang 
belajar di padepokan itu.  Lalu hasil panennya dimakan bersama oleh 
guru, keluarganya, dan murid-muridnya.

Jaman sekarang, guru itu biasanya tidak punya tanah luas. Dia harus 
memberi makan untuk dirinya dan keluarganya. Bayar uang kontrakan 
rumah, atau bayar kredit rumah. Bayar listrik, gas, transportasi ke 
tempat kerja, dll. Pendidikan dan kesehatan anaknya pun juga harus 
diperhatikan, dan itu butuh biaya. Sekarang adalah jaman 
materialistis, bukan saatnya bicara "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Guru 
harus dapat upah layak, bukan cuma ditempeli gelar "Pahlawan Tanpa 
Tanda Jasa" di jidatnya lalu upahnya ditekan di bawah upah minimum.

Hal yang aneh, jika seseorang yang menjadi guru, tidak memperoleh 
upah layak dari profesinya sehingga harus melakukan profesi lain 
untuk memperoleh penghasilan sampingan. Di negara maju, guru memang 
bergaji tidak setinggi profesi lain, tapi jarang sekali guru harus 
banting tulang melakukan pekerjaan sampingan untuk menghidupi 
keluarganya.

Oh, ya, hal ini juga berlaku untuk dosen. Dosen juga seorang guru, 
cuma muridnya berbeda namanya, yaitu mahasiswa. Kebetulan sekarang 
aku menjadi dosen. Dari hitung-hitungan gaji, jadi dosen pun sama. 
Upah dosen sama sekali tidak menyenangkan, kalau mau maju (meneliti, 
mengirim jurnal ke dunia internasional, dll) harus punya dana. 
Caranya adalah dengan "proyek". Intinya baik guru maupun dosen harus 
mencari penghasilan sampingan.

Perlu diingat setiap pekerjaan butuh jam kerja, kadang-kadang 
pekerjaan sampingan "memakan" jam kerja seorang guru atau dosen. 
Banyak kejadian (tapi tidak di sekolah elit), seorang guru tidak 
hadir dalam kelas. Dosen juga ketika dekat dengan tenggat waktu 
proyek, tiba-tiba tidak hadir dalam kelas. Selama upah tenaga 
pendidikan di bawah upah minimum, saya rasa nasib pendidikan di 
Indonesia, yah begini-begini saja.

MAri berterima kasih kepada guru-guru dan dosen-dosen kita yang 
bergaji rendah namun masih mau mengajar atau menguliahi kita. Walau 
kadang-kadang omongannya bikin kita mengantuk di kelas, atau kadang-
kadang kurang bermutu, masih mending daripada tidak hadir sama sekali 
dalam kelas.


Condro

Kirim email ke