Saya merasa pembahasan ini akan panjang dan tak kunjung bertemu titik terang. Berawal dari konvoi HD lantas melebar hingga ke orang miskin, nasi aking, polusi, suara gaduh, partwal dll.
Saya percaya bahwa kita semua tidak ada yang setuju koq dengan yang namanya "arogansi" dalam bentuk apa pun, termasuk jika gagah-gagahan dengan motor besar (HD) apalagi di depan rakyat susah. Ini mah logika dan etika lah (yah semoga masih punya etika) Kenapa HD jadi lebih ekslusif, sudah dijelaskan Pak Mula.. yah saya juga tahu bahwa Kasum Suyono adalah penggemar motor besar, begitupun Sutiyoso, dan banyak lagi petinggi polisi atau aparat. Sudah jelas bahwa ketika mereka dikawal karena mereka dalam keadaan konvoi. Iya juga karena saya jarang melihat 2 HD melintas dengan dikawal biasanya ya jalan sendiri2 aja. Tapi ketika rombongan (konvoi) ya dikawal boleh lah asal tidak merasa yang jadi punya jalan aja Sudah jelas pula bahwa yang namanya konvoi atau arak-arakan cenderung mengganggu jalannya lalu-lintas, ya gak cuma konvoi HD.. ya konvoi Yamaha Mio lah.. Honda Supra-X lah... Yamaha Komeng lah.. sama aja.. termasuk konvoi menteri atau mobil pejabat. Nah tinggal siapa yang prioritas siapa yang tidak. Semoga masih pada ingat kisah seorang ibu yang berseteru dengan pengendara HD saat konvoi? Lantas ibu itu kecewa dan menulis kisah marahnya di milis, para simpatisan pun muncul subur hingga mem-forward email keluhan ibu tadi ke milis2 lain. Cilakanya email tersebut sampai juga ke komputer Pak Sutiyoso. Alhasil Sutiyoso memerintahkan untuk mengecek surat izin semua motor HD di Indonesia (merembet ya gak cuma Harley Davidson tapi semua motor besar dengan segala merek). Apa yang terjadi? Saya inget sekali peredaran motor besar di Jakarta - Bandung ciut seketika. Ternyata motor HD yang beredar di jalan itu hampir 60% tanpa surat-surat (alias bodong). Sejak itu polantas jadi "berburu" para motor besar bodong ini. Nah jika sudah begitu apa iya para pengendara motor HD tadi mau minta pengawalan lagi? Yang ada nanti konvoi menuju mabes. Saya gak punya motor besar, apalagi Harley Davidson.. cuma Vespa tahun 1965. Ini juga gank yang sering konvoi.. haduh bikin pusing juga, tapi ya sudahlah.. asal gak mengganggu dan menyusahkan orang / pengendara lain saya pikir gak masalah. Semoga jadi santai Motulz (pengen punya motor-matic) Muhammad Rivai Andargini <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ini bukan soal memaki-maki pak. See previous posting, tidak ada sampai keluar ucapan yang memaki-maki :-). Kekurang setujuan pada ide tentang konvoi HD didasari pada kejadian-kejadian sebelumnya. Soal Patwal misalnya, kok sepertinya polisi dikhususkan pada kenyamanan sebagian kelompok, sementara sebagian besar lainnya dipinggirkan. Apa yang saya alami saat bertemu rombongan konvoi (baik itu HD maupun lainnya), baik saat berkendara mobil maupun motor, biasanya kurang enak kejadiannya. Entah itu dipinggirkan, diklakson-klakson supaya minggir dll. Soal penting dan tidak bikin macet, seberapa penting urusannya dan seberapa urgen kepentingannya. Soal hak setiap orang, tentu saja kekurangsetujuan ini tidak dimaksudkan sebagai "iri pada kemampuan orang lain memiliki sesuatu yang kita tidak / belum mampu". Tidak juga untuk memaksakan pendapat. Ini lebih kepada sounding mengenai sikap. Soal konvoi tetap dilaksanakan, paling tidak sudah ada masukan-masukan bagaimana baiknya hal tersebut dijalankan. Soal ibu-ibu RT yang sombong (karena masuk TV dan punya kemampuan antri beras dan minyak) saya pikir dalam konteks bercanda. Mereka antri bukan karena sok banyak uang tapi karena pilihan lainnya nggak ada ! Soal masyuk TV, ya mereka pas lagi di shoot masa mesti ngumpet. Apalagi itu kesempatan langka buat menyampaikan pesan pada penyelenggara pemerintahan. BTW, pikir saya posting pertama kali lebih kepada soal informasi konvoi, mungkin jadi agak melebar diskusinya :-) Vavai http://www.vavai.com/blog/index.php
