Nimbrung yahh,

Menyoal Program Acara Empat Mata bersama Thukul Arwana, saya rasa
tulisan Garin Nugroho yg lalu bukan bermaksud utk "membela" acara
Thukul Arwana itu. Menurut hemat saya, Pak Garin hanya memaparkan
fenomena yg menjadi ruang lingkup acara itu. Jujur saja, saya suka
menonton acara Mas Thukul itu, walaupun tidak rutin menontonnya. Terus
terang, saya tidak mencoba mencari alasan kontemplatif atau filosofis
atas fenomena yg menjadi ruang lingkup acara Empat Mata. Tp, saya
sepakat dgn opini Pak Garin Nugroho bahwa acara Empat Mata telah
menjadi semacam dunia singgah bagi penontonnya yg penat akan rutinitas
& rentetan musibah di negeri ini. 
Dan, saya juga sangat sepakat bahwa Empat Mata menampilkan wajah
budaya populer masyarakat Indonesia dewasa ini. Saya kutip dari
tulisan Garin Nugroho, "Sebuah dunia campur aduk, dari profan hingga
kasar, yang tidak perlu tetapi diperlukan, dipuja dan diolok,
metropopolis dan ndeso, penuh senyum dan brutal, religius dan munafik,
terbuka dan fanatik"...Bukankah kita bagian dari itu semua? Kenapa
harus menolak? Apakah rasa malu dapat menjadi dasar penolakan itu?
Kalau kita malu, bagaimana bisa kita mengubahnya? Jadi, Empat Mata
bersama Thukul Arwana?? Kenapa tidak?!!!    

Salam hangat,

Patrick Hutapea
Mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional
Fisip - Universitas Katolik Parahyangan Bandung


--- In [email protected], Blasius Slamet Lasmunadi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear all, 
> Fenomena "Empat Mata bersama Thukul" merupakan salah satu indikasi
"proses pembebasan diri dari keterkungkungan berbagai macam aturan",
atau dikatakan Pak Garin, "ikon ketertindasan". Itulah rasanya yang
menjadi "cakrawala" dari acara Empat Mata.  Ikon itu menggambarkan
proses pembebasan dari...Orang baru mau belajar untuk "mengenal diri
sebagai pribadi" yang hidupnya ditentukan orang lain. Selama kita
selalu berusaha untuk hidup yang diwarnai pembebasan dari segala macam
"yang dianggap menindas", kita hidup dalam "gaya reaktif'. Gaya
reaktif menjadi ciri khas yang paling konkret dari "masyarakat
televisi". Orang yang begitu sering nonton Televisi lalu lebih trampil
bereaksi dan berkomentar. Kebiasaan berkomentar membuat orang akhirnya
suka mencari "kambing hitam" daripada belajar untuk "berefleksi".
Akhirnya orang itu juga miskin inisiatif dan kreatifitas. 
> 
> Saya sendiri tidak merasa tertarik dengan empat mata..entah kenapa.
Namun saya perhatikan orang yang gemar nonton Empat Mata punya
kecenderungan "reaktif daripada proaktif". Bagaimana membangun pribadi
proaktif kalau tidak berani memilih alternatif banyak baca buku
daripada banyak nonton TV!
> 
> Semoga masyarakat kita makin belajar proaktif daripada suka reaktif!
> 
> salam hangat, 
> bslametlasmunadipr
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Monday, March 12, 2007 10:48:41 AM
> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Puas, Puas, Puas?
> 
> 
> Untuk tulisan Pak Garin Nugroho,
> 
> Masyarakat yang Anda maksud tidak termasuk saya.
> Karena apa? Buat saya tukul malah memperkuat penindasan.
> Ketika antagonis kultural diciptakan maka muncul oposisi biner
> dimana cara berpikir hitam-putih makin merasuk di masyarakat
> kita. Yang terjadi adalah eksploitasi 'kehinaan'.
> 
> Tapi untungnya saya cukup ganti channel saja ketika
> menonton acara ini.
> 
> Mariana Amiruddin
> 
> -- 
> Best regards,
> Mariana mailto:[EMAIL PROTECTED] puan.com
>


Kirim email ke