FPK wan Puja-puji untuk Widjojo yang ditulis di bawah ini kiranya "comes at the wrong time and at the wrong place." Kalau ini ditulis pada saat Orde Baru sedang di puncak kejayaannya, sungguh pada tempatnya. Sesudah ekonomi Indonesia ambruk pada 1997, orang sadar bahwa tim ekonomi Orde Baru membuat serangkaian kesalahan amat fatal. Secara sederhana saja, orang bertanya: mengapa bangunan ekonomi Orde Baru sedemikian gampang runtuh setelah 30 tahun? Bandingkan dengan Cina, yang tetap kokoh, juga ketika mengalami badai pada tahun 1997? Atau, bandingkan dengan Malaysia? Pasti ada salah, dan kesalahan besar itu dibuat oleh arsiteknya. Mereka biasanya berkilah bahwa memasuki tahun 1990-an, Suharto sudah tidak mau mendengarkan nasehat Widjojo. Lo, kalau begitu rumus ekonomi kalah dengan rumus politik? Dengan kata lain, bukan ekonomi-nya Widjojo, tapi politiknya Suharto yang hebat. Either way, kehebatan Widjojo (dan Berkeley Mafia-nya!) patut dipersoalkan, puja-puji baginya patut ditunda. Strategi pembangunan ekonomi Indonesia sekarang jangan menoleh ke masa lampau yang sudah rusak itu.
Salam iww ----- Original Message ----- From: Agus Hamonangan To: [email protected] Sent: Saturday, March 10, 2007 10:10 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Widjojo di Mata Sahabat [ Was Widjojonomics ] Oleh ST SULARTO http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/10/utama/3372790.htm =========================== Nama Prof Dr Widjojo Nitisastro (79) tak bisa dipisahkan dari pembangunan ekonomi Indonesia periode 1966-1997. Dialah arsitek ekonomi atau pemikir ekonomi Orde Baru. Dialah satu-satunya konseptor dan arsitek ekonomi Orde Baru, tulis Ali Wardhana. Sosok kepribadiannya, menurut Emil Salim, secara simbolis tergambar dalam beberapa patung kecil di ruang kerja Widjojo saat berkantor di Gedung Bappenas, Jalan Suropati, Jakarta. Satu patung seorang dirigen sedang memimpin orkes, lainnya patung tiga monyet duduk berdampingan, yang satu menutup mulut, satu lagi menutup mata, satu lagi menutup telinga. Menurut Emil Salim, berkecimpung dalam pemerintahan selama 45 tahun, Widjojo dalam posisi memimpin ibarat "seorang dirigen". Mulai dari asisten dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dalam usia 25 tahun hingga memimpin dan merintis perombakan ekonomi Indonesia selaku Ketua Tim Ahli Ekonomi Staf Pribadi Ketua Presidium Kabinet Jenderal Soeharto yang dimulainya dalam usia 38 tahun. Dalam posisi itu Widjojo banyak mengetahui, mendengar, melihat, dan mengalami. Namun, dia pun mengambil posisi diam, lebih banyak berada di belakang panggung, tidak mau populer di bawah lampu sorot dan tepuk tangan. Terbitnya dua buku kumpulan tulisan para sahabatnya-keduanya diterbitkan Penerbit Buku Kompas-menurut Ketua LPEM UI Muhammad Chatib Basri (Kompas, 26/2) barangkali sedikit mengobati kerinduan itu. Buku pertama ditulis 55 sahabatnya di Indonesia berjudul Kesan Para Sahabat tentang Widjojo Nitisastro; buku kedua ditulis 71 sahabat orang asing berjudul Tributes for Widjojo Nitisastro by Friends from 27 Foreign Countries. Naskah kedua buku itu dipersiapkan sebagai festschript 70 tahun usia Widjojo, 23 November 1997, hampir sepuluh tahun lalu. Dieditori Moh Arsyad Anwar, Aris Ananta, dan Ari Kuncoro. Mereka bertiga yang merencanakan, mengirimkan permintaan kepada penyumbang tulisan, dan mengedit. Hampir 10 tahun naskah itu mengendap. Baru pada akhir 2006 mulai diproses untuk diterbitkan. "Saya maju mundur untuk menerbitkan kumpulan tulisan itu. Tetapi ketika beberapa kontributornya meninggal, saya tidak enak untuk tidak menerbitkannya segera," kata Widjojo kepada Jakob Oetama, salah satu rekan dekatnya. Dari 55 kontributor sahabat Indonesia, hingga November 2006-saat naskah ditangani untuk diterbitkan-14 di antaranya sudah meninggal, dari 71 kontributor sahabat asing 12 di antaranya sudah meninggal. "Saya merasa tak enak. Belum lagi setiap kali ada pertanyaan dari beberapa rekan kapan buku itu terbit," katanya. Memang, akhirnya kedua buku itu terbit pertengahan Januari 2007. Dan pada Selasa (13/3) pukul 13.00, buku tersebut akan didiskusikan di Hotel Santika dengan pembahas Emil Salim, M Sadli, Muhammad Chatib Basri, dan Ari Kuncoro. Menko Perekonomian Boediono, salah satu kontributor, menggambarkan sosok Widjojo sekaliber Mohamad Hatta dan Sumitro Djojohadikusumo. "Beliau-beliau adalah men of letters dan sekaligus men of affairs. Beliau-beliau telah memberikan bentuk dan warna terhadap perkembangan pemikiran ilmu ekonomi di Indonesia dan pelaksanaan kebijakan ekonomi di Tanah Air." Emil Salim, rekan sekolega dalam kelompok kerja yang diberi label "Mafia Berkeley" itu, menunjukkan tiga ciri pokok Widjojo. Pertama, Widjojo seorang intelektual yang pada asasnya bertindak sebagai hati nurani masyarakat. Kedua, seorang pekerja keras, nyaris gila kerja (workaholic), teguh memegang sasaran yang ingin dicapai. Ketiga, sikap berjuang tanpa pamrih. Bagi Widjojo, terwujudnya cita- cita jauh lebih penting ketimbang pamrih yang melekat dengan pelaksanaan pekerjaan itu. Dalam konteks ketiga pokok di atas-dengan istilah masing-masing, seperti pekerja keras menurut Astrid S Susanto, perfectionist menurut BS Muljana, Adrianus Mooy, dan Kunarjo, sepi ing pamrih rame ing gawe menurut Jakob Oetama, hari kerja bukan 6 hari, tetapi kalau bisa 8 hari menurut Ali Wardhana, sosok luar biasa menurut istilah John Bresnan, penemu sejumlah kebijakan yang berpihak kepada rakyat seperti konsep trilogi pembangunan (stabilitas, pertumbuhan, pemerataan) menurut Saleh Affif-Widjojo tidak bisa lepas dari sebutan arsitek atau pemikir ekonomi Orde Baru satu-satunya menurut Ali Wardhana. Dialah "dirigen" sebuah pertunjukan orkes, "lurah" atau digelari sinis "Don Mafia Berkeley". Tulis Emil Salim, ". bisa dibayangkan kejengkelannya ketika orang mengungkapkan istilah Widjojonomics yang memberi pengakuan pada diri Widjojo atas perkembangan ekonomi Indonesia". Dalam hubungan dengan media massa, Jakob Oetama menilai Widjojo menjalin akrab dengan pers, memberikan penjelasan setiap awal tahun anggaran baru, berdialog langsung dengan pemimpin redaksi mengenai latar belakang, tujuan, dan implikasi kebijakan-kebijakan strategis ekonomi. Pengalaman Jakob tentang hubungan akrabnya dengan pers digambarkan juga oleh Sumadi bahwa "dalam pandangan pers dan masyarakat, Pak Widjojo adalah juru bisa ekonomi Indonesia". Kebiasaan pertemuan para menteri bidang ekuin termasuk Widjojo dengan media membangun suasana saling menghargai dan memercayai. Mengambil manfaat pengalaman itu, Jakob menulis "adakalanya saya berpikir, seberapa jauh dialog teratur itu ikut menjadi faktor yang menyebabkan peralihan strategi pembangunan ekonomi di negeri ini tidak disertai ketegangan dan gejolak yang mengganggu". Dalam konteks ausdauer, ada humor yang beredar antara Widjojo dan Ali Wardhana. Kalau usulan pemikiran Ali Wardhana ditolak, ia pulang dan bermain golf. Sebaliknya Widjojo akan kembali ke kantor dan memikirkan pola dan cara lain sampai akhirnya pemikiran dan usulan itu diterima. Tulis Jakob, "warisan yang ditinggalkan oleh Prof Widjojo yang ulet, sabar, cerdas, pintar, kreatif, dan inovatif mencari jalan dan menjual gagasannya, menghadapi aneka macam hambatan dan rintangan". Kebiasaan kerja ulet, tidak kenal waktu, menjadi bagian integral Widjojo. Lampu ruang kerjanya dengan jendela tetap terbuka di Gedung Bappenas hingga larut malam adalah pemandangan biasa. Sampai-sampai karyawan dan stafnya rikuh untuk pulang lebih dulu. Bagi Widjojo, otak dan kaki sama-sama perlu sport. Dikisahkan oleh Budhi Paramita, staf Ketua Bappenas (1967-1970), kegigihan Widjojo yang suka berpikir terlihat ketika dokter menganjurkan jalan kaki pada pagi hari. Kebetulan rumah Widjojo bersebelahan dengan Prof Sadli di Jalan Brawijaya. Dia ajak Sadli jalan kaki bersama. Sadli mengajukan syarat, "Setiap pagi kita keluar dari rumah masing-masing. Saya ke kiri, you ke kanan. Atau kalau you mau ke kiri, saya yang ke kanan." "Lho kok gitu," sergah Widjojo. Jawab Sadli, "Saya tidak mau jalan beriringan." Mengapa? "Nanti disuruh mikir terus, bukan jalan-jalan." Senada itu, Emil pernah mengeluh. Dalam kesempatan senggang setelah suatu pertemuan serius di Paris, Emil dan Widjojo berencana window shopping dan belanja. Yang terjadi sebaliknya, mereka berdiskusi tanpa henti di pusat perbelanjaan, rencana belanja pun berantakan. Kedua buku yang bertema "kesan para sahabat" itu tidak memaparkan kebijakan-kebijakan ekonomi dan dalil-dalil ekonomi yang dibangun Widjojo bersama timnya. Hampir sebagian besar tulisan tidak banyak bergeser dari sosok Widjojo. Lantas ada yang berpikir, untuk masa depan bangsa ini, perlu ditulis pemikiran kritis positif secara menyeluruh dan komprehensif. Kepentingan data yang mendetail seperti diingatkan Lawrenge H Summers dan Nathan Keyfitz di buku itu, salah satu ciri khas cara kerja Widjojo, niscaya menjadi tantangan. Memang, menjelang usia 80 tahun, 23 September 2007, Widjojo tengah mengumpulkan tulisan dan uraian tentang berbagai masalah "krusial" yang pernah dia sampaikan dalam berbagai forum. Lahir di Malang, lulus FEUI tahun 1955, lulus doktor ilmu ekonomi dari Universitas California tahun 1961, guru besar dalam usia 34 tahun, Widjojo dalam usia 39 tahun diangkat sebagai Ketua Bappenas sekaligus Ketua Tim Ahli Ekonomi Presiden sejak 1967, menteri dan menko, penasihat presiden. Sosok Widjojo juga dikenal luas di luar, sampai-sampai, katanya kepada Kompas, Kamis (8/3) lalu, "Kita pun pernah membantu negara-negara berkembang seperti Afrika Selatan dalam mengentaskan keterbelakangan dan kemiskinan." Sekarang sebaliknya? Dia tak berkomentar, dijawab dengan tertawa terbahak-bahak.; ciri khas Prof Widjojo Nitisastro. [Non-text portions of this message have been removed]
