Ibu Yuliati Soebeno,

Salah satu indikator pribadi seseorang benar-benar matang sebagai pribadi akan 
terlihat ketika ia berada di jalan raya yang merupakan fasilitas umum 
(bersama). Apakah dia bisa santun di sana? Apakah dia bisa menghormati sesama 
pengguna jalan? Apakah sebaliknya ingin menang sendiri? Merasa berhak atas 
previlese atau perlakuan istimewa/khusus?

Salah satu sumber kesemrawutan jalan raya kita adalah banyaknya orang yang 
sebenarnya tidak memiliki lisensi yang sah/memadai untuk berkendara (karena 
mendapatkan SIM-nya dengan cara membeli atau koneksi). Tentu termasuk di 
dalamnya model-model konvoi (HD atau motor-motor biasa yang sejenis yang 
ikut-ikutan gaya HD dengan variasi-variasi klakson atau asesoris lainnya). 

Kadang dalam hati saya hanya berdesah mangkel: "Emange iki dalane mbahe?"

Nuwun sewu kalau kata-kata saya tidak tepat.

edy pur.


  ----- Original Message ----- 
  From: Yuliati Soebeno 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, March 13, 2007 1:37 AM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Konvoi Motor Harley Davidson


  Pak Kukuh Yth,

  Gimana kalau Dirjen pajak adalah juga salah satu pemilik Harley Davidson itu 
sendiri? Alih-alih harus bayar pajak, malahan semua belajar untuk bagaimana 
menghindari pembayaran pajak, bukan?
  Mudah-mudahan sich Dirjen Pajak bukan salah satu pemilik HD, kalaupun iya, 
maka harus mengajarkan norma-norma yang baik bagi pemilik HD di Indonesia. 
Membayar pajak dengan benar, tidak mengganggu pemakai jalan raya yang lain-nya. 
Tidak membuat "noise polution" dengan suaranya yang memekak-kan telinga (yang 
menurut salah satu anggota FPK, hanya satu angka - "decibel" - dibawah pesawat 
terbang jet yang akan "take off"). My goodness! Harus selalu membawa "ear plug" 
- just incase dijalanan ketemu dengan se-rombongan HD untuk menjaga gendang 
telinga kita.

  Salam,
  Yuli

  

Kirim email ke