Mas Stephanus Mulyadi,

matur nuwun...panjenengan mengangkat seruan Amos ke ranah publik kesadaran 
untuk melakukan tobat. Saya juga sangat tertarik terhadap seruan para pemimpin 
kita untuk adanya tobat nasional. Seruan seperti itu selalu muncul ketika 
negeri ini ada dalam keterjepitan (tahun '80an, tahun 1997an, tahun 2000an dan 
sekarang 2007). 

Maksud saya, kalau situasi itu sudah juga menjepit para pemimpin kita, barulah 
mereka mengajak rakyat untuk bertobat. Tapi kalau keterjepitan itu hanya 
dirasakan oleh rakyat jelata, seruan tobat itu tidak ada atau tidak terdengar. 
Itu artinya apa?

Jangan-jangan itu bukan ajakan untuk bertobat (melakukan tobat sebagai gerakan, 
bukan sekedar penyadaran diri), melainkan seruan SUPAYA ORANG LAIN BERTOBAT 
tapi yang menyerukan atau mengajak tidak punya niatan untuk bertobat. Lha kados 
pundi menawi makaten?

Nuwun sewu.


  ----- Original Message ----- 
  From: stephanusmulyadi 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, March 14, 2007 2:52 AM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tobat massal? Zikir Massal? BUKAN ITU 
JAWABANNYA!


  Untuk kita renungkan...

  Amos, meskipun ia sendiri tidak mau disebut sebagai nabi, namun ia
  tercatat sebagai salah satu Nabi yang paling berani mengkritik
  kejahatan penguasa di jamannya. Ia berani dengan lantang mengutuk raja
  dan bangsa Israel dengan berbagai bencana, karena berbagai
  kejahatan-kejahatan yang telah mereka lakukan. Ia mengingatkan bangsa
  itu, kalau mereka tidak mau bertobat dan berbuat baik, mereka akan
  menanggung banyak malapetaka.

  Meskipun kita ini bukan bangsa Israel, ada baiknya paparan Nabi Amos
  tersebut dijadikan sebagai bahan renungan pribadi dan bersama. Apakah
  kita bersih dari dosa-dosa sebagaimana yang dipaparkan Amos itu?
  Ataukah kita termasuk orang yang perlu bertobat?

  Demikian kejahatan-kejahatan itu disebutkan:
  1. mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena
  sepasang kasut; 
  2. mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan
  membelokkan jalan orang sengsara; 
  3. anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, 
  4. mereka merebahkan diri ...di atas pakaian gadaian orang, 
  5. dan minum anggur orang-orang yang kena denda...
  6. mereka melakukan pemerasan 
  7. mereka tidak tahu berbuat jujur,
  8. mereka menimbun kekerasan dan aniaya di dalam purinya.
  9. mereka memeras orang lemah, 
  10. mereka menginjak orang miskin, 
  11. mereka suka pergi ke villa-vila dan melakukan perbuatan jahat, 
  12. mereka suka ke luar negeri untuk berbuat jahat
  13. mereka suka memberikan sumbangan-sumbangan sukarela untuk mencari
  muka dan demi politik
  14. mereka tidak bisa mensyukuri rahmat Tuhan atas negeri mereka yang
  kaya raya; 
  15. mereka tidak sadar-sadar dan bertobat/berbalik pada Tuhan juga,
  meskipun sudah ada berbagai bencana (kemarau, hama, penyakit sampar,
  gempa) 
  16. mereka mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan
  kebenaran ke tanah
  17. mereka benci kepada yang memberi teguran 
  18. mereka keji kepada orang yang berkata dengan tulus ikhlas
  19. mereka menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak
  penghasilan dari padanya,
  20. mereka menjadikan orang benar terjepit, menerima uang suap dan
  mengesampingkan orang miskin
  21. mereka menganggap jauh hari malapetaka, tetapi mendekatkan
  pemerintahan kekerasan; 
  22. mereka mengubah keadilan menjadi racun dan hasil kebenaran menjadi
  ipuh,
  23. mereka menginjak-injak orang miskin, dan membinasakan orang
  sengsara di negeri ini
  24. mereka menawarkan beras dengan mengecilkan takaran, berbuat curang
  dengan timbangan palsu,
  25. mereka membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin
  karena sepasang kasut; 
  26. mereka menjual beras rosokan.....

  Demikian antara lain kejahatan bangsa itu. Dan atas kejahatan itu
  bangsa Israel harus mendapat hukuman. 

  Mengharukan bahwa para pemimpin kita mengajak kita untuk bertobat dan
  berzikir. Bertobat artinya, kita semua, yang merasa diri berdosa,
  diajak untuk menghentikan perbuatan jahat kita dan kembali pada Allah.
  Kembali pada Allah berarti memulai untuk mengubah pikiran, perkataan
  dan perbuatan (kelakuan diri) kita agar sejalan dengan kehendak Allah. 

  Mengubah pikiran, perkataan dan perbuatan (kalakuan) ini bukanlah
  sekedar kata-kata atau keinginan saja. "Mengubah" adalah kata kerja,
  maka mengubah baru berarti ketika orang berbuat. Maka sepantasnya,
  para pemimpin/penguasa dan kita semua, tidak hanya mengajak orang lain
  untuk mengubah perilaku hidup dengan kata-kata ajakan, "marilah kita
  bertobat," melainkan orang lain bisa melihat dari perbuatan kita,
  bahwa "kita sudah bertobat." 

  Lalu apa yang harus kita lakukan dalam pertobatan itu? 26 point diatas
  dapat dijadikan acuan refleksi dan bahan untuk bermawas diri. Bahasa
  dan konteksnya mungkin berbeda dengan kehidupan keseharian kita saat
  ini, namun intinya toh tetap relevan.

  Bagi saya dan saudara-saudara yang beragama Katolik, ajakan para
  pemimpin untuk bertobat saat ini sangat relvan, karena saat ini kita
  sedang menjalani masa puasa. Dalam masa puasa ini tobat adalah salah
  satu inti perjuangan kita. Bertobat bagi kita tidak hanya tidak
  melakukan kejahatan, melainkan proaktif untuk berbuat baik, berbuat
  amal, berbuat kasih.

  Salam
  Mulyadi

  

Kirim email ke