Ibu Pertiwi sudah lama menangis, air mata juga punya batas
dan tak bakal mengalir selamanya....
Ibu Pertiwi juga sering kurang makan, kurang gizi dan mudah-
mudahan tak disikat busung lapar yang galak itu.
Sementara itu yang namanya para pemimpin (termasuk ulama)
sibuk menggiring kita ke arena doa, zikir, puasa dan sebagainya
tanpa pernah tegas dan jelas berbuat apa yang benar dan perlu
didahulukan (bukan kepentingan golongan/diri sendiri) buat
Ibu Pertiwi.
Lantas mau apa kita kalau situasi dan kondisi NKRI ini sudah
jadi begini?
Ibu Pertiwi menangis dan orang di luar (negara tetangga) hanya
bisa tersenyum (atau cekikikan?) melihat kita ini.
Aduhai nasib, apakah daya....
Salam
Las.
wahyudi yudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Negeri indah adalah Indonesia, sekarang negeri penuh kekayaan;
seperti kaya korupsi, kemiskinan, pengangguran, musibah dan bencana alam.
Negeri yang sumberdaya alamnya banyak tapi diambil oleh orang asing. Kita hanya
menjadi buruh, kuli dan budak di negeri sendiri. Negeri ini milik siapa pemodal
asing atau milik rakyat Indonesia. Ibu pertiwi menangis melihat anak bangsa
saling bertengkar, saling memaki dan saling menyalahkan orang lain. Di berita
tadi malam anggota dpr bertengkar sambil memukul-mukulkan gelas di meja,
penonton bola saling lempar batu saling menyerang, sesama menteri kabinet
saling menyerang dan menyanggah soal korupsi, presiden tebar pesona karena
tidak bisa mengatasi persoalan-persoalan yang ada di negeri ini, partai politik
pasang kuda-kuda untuk pemilu 2009. Rakyat miskin Indonesia yang lagi pusing
masalah mengurusi perut tentang beras, harga-harga sembakau mahal dan
penghasilan yang di bawah UMR kota. Pemimpin pada lupa, lupa akan asal-usulnya
yang
lahir dari negeri ini yaitu INDONESIA. Atau negeri ini sedang sakit atau
pemimpinnya yang sakit?