Jangankan di Indonesia, di New York pun SBY sempatkan ke Wall Sreet. Rasanya cuma sekali pasar saham kita tak dibuka di awal tahun oleh SBY. Yang sekali itu dibuka oleh JK. Pertanda apa, ya.. Saya sih lihatnya SBY konsisten dengan politik pencitraannya. Tabik
--- On Tue, 1/5/10, suryo pratomo <[email protected]> wrote: Jangan Hanya Pasar Modal Senin, 4 Januari 2010 19:58 WIB Kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan perdana perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 memberi sinyal yang positif bagi pasar. Harga saham langsung bergerak naik dan di hari pertama perdagangan indeks harga saham gabungan ditutup menguat hingga 41,057 poin (1,62%) ke level 2.575,413. Sementara Indeks LQ 45 naik 9,626 poin (1,93%) ke level 507,914. Sebagai sebuah indikator perekonomian yang modern, pasar modal memang pantas untuk diperhatikan. Dari tempat itulah para pengusaha bisa mendapatkan dana yang relatif lebih murah bagi pengembangan usaha mereka. Karena itu wajar pantas apabila pejabat tinggi negara memberi perhatian ke sana. Hanya saja di sisi lain kita juga melihat betapa harapan bagi dimanfaatkannya pasar modal sebagai tempat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tidak sepenuhnya berjalan. Kapitalisasi yang didapatkan dari bergairahnya pasar modal, tidak dialirkan dalam bentuk pengembangan usaha yang bisa membuka lapangan pekerjaan baru. Kita lebih sering melihat pasar modal justru sebagai tempat untuk sekadar mengeruk keuntungan. Mereka masuk ke sana motifnya untuk mengeruk keuntungan jangka pendek. Pasar modal sekadar dilihat sebagai tempat untuk mendongkrak nilai perusahaan dan mendapatkan capital gain. Bahkan yang lebih ironis dalam kasus Indonesia, pasar modal dipakai sebagai tempat para investor asing untuk mengeruk keuntungan. Setiap tahun, Bursa Efek Indonesia menjadi salah satu pasar modal dengan tingkat keuntungan tertinggi di dunia. Tahun 2009 lalu, IHSG menjadi yang terbaik di Asia di mana pertumbuhannya lebih dari 85 persen. Tidak usah heran apabila investor asing berlomba-lomba masuk ke pasar modal kita. Lebih dari 60 persen kapitalisasi yang ada di pasar modal berasal dari uang asing. Mereka menikmati betul capital gain yang bisa mereka peroleh dari lantai bursa di sini. Apalagi sistem devisi bebas yang berlaku di Indonesia, membuat mereka untuk mudah sekali untuk memasukkan dan menarik dananya dari negeri ini. Dalam konteks itulah, kita ingin mengingatkan agar jangan hanya perhatian itu diberikan kepada pasar modal saja. Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah geliat yang ada di pasar-pasar yang lebih riil seperti misalnya Pasar Blok M, Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Beringharjo, Pasar Klewer . Di sana aktivitas perekonomian yang melibatkan banyak orang terjadi dan dampaknya langsung terasakan oleh rakyat banyak. Sekarang ini pasar-pasar itu sedang dihadapkan kepada kekhawatiran besar. Diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas dengan China mulai tanggal 1 Januari lalu ditakutkan akan memukul pengusaha dalam negeri. Para pengusaha kecil dan menengah yang sangat mengandalkan pasar-pasar itu sebagai saluran penjualan mereka, khawatir tidak akan mampu bertahan menghadapi serbuan produk-produk China yang harganya bisa jauh lebih murah. Sejak pergantian tahun akan terjadi, kalangan pengusaha sudah mengingatkan akan ketidaksanggupan produk-produk dalam negeri untuk bersaing dengan produk asal China. Persoalannya bukan hanya terletak pada masalah produktivitas, tetapi berkaitan dengan faktor lain seperti biaya modal yang lebih mahal karena tidak suku bunga pinjaman kita yang lebih mahal, keterbatasan infrastruktur, hingga kalahnya insentif yang diberikan pemerintah kepada pengusaha. Meski ancaman itu sudah begitu riil dan keluhan sudah disampaikan, namun kita tidak melihat tanggapan yang segera dari pemerintah. Menko Perekonomian Hatta Rajasa misalnya, hanya mengatakan bahwa pemerintah pasti akan melindungi industri dalam negeri. Tetapi bagaimana caranya, selalu dikatakan sebagai sesuatu yang tidak perlu dibuka. Pemerintah baru dijadwalkan untuk membahas khusus masalah dampak dari perdagangan bebas dengan China itu pada hari Selasa besok. Sesudah lima hari baru akan dilakukan pengkajian dan kita belum tahu berapa lama kemudian aksi yang akan diambil bisa melindungi pengusaha dalam negeri. Pemerintah paling tidak senang apabila disebut menerapkan neoliberalisme. Pemerintah sangat sensitif apabila dicap seperti itu. Namun praktik-praktik keseharian yang dilakukan menunjukkan sikap-sikap yang properdagangan bebas tanpa reserve. Paham yang dianut bahwa perdagangan bebas akan menguntungkan masyarakat, karena akan mendapatkan harga yang lebih murah. Tetapi tidak pernah dipikirkan, apakah perdagangan bebas itu dilaksanakan secara adil? Tidak pernah dipikirkan bahwa sebuah bangsa itu bukan hanya harus menjadi konsumen, tetapi harus memiliki juga kemampuan berproduksi. Kemampuan berproduksi ini bukan sekadar untuk membuat bangsa itu bisa menghasilkan sesuatu, tetapi membuat bangsa itu menjadi bangsa yang bekerja. Agar sebuah bangsa memiliki kemampuan berproduksi, kadang mereka harus diproteksi terlebih dahulu. Bahkan seringkali bangsa itu harus berkorban agar kemudian bisa memiliki industri yang bisa diandalkan. Itulah yang biasa dikenal sebagai cost of learning. Semua negara melakukan itu. Jepang, Korea, China, dan Amerika bisa menjadi negara industri maju karena pertama bangsanyalah yang mendukung industri di negara mereka untuk maju. Pertanyaannya, apakah kita sudah secara konsisten melakukan itu. Apakah secara sengaja kita sudah membangun bangsa ini memasuki tahap konsumtivisme setelah melalui proses panjang dari mulai revolusi yang melahirkan etos kerja dan disiplin untuk menghasilkan sebuah produk dan bahkan dikembangkan lagi menjadi produk yang lebih baru? Sebagai bangsa, kita belum pernah melakukan itu. Kita belum pernah membangun etos kerja, kita belum punya disiplin, dan kita belum pernah memiliki produk. Kalau tiba-tiba masyarakat dicekoki dengan paham konsumtivisme melalui harga yang lebih murah, maka matilah bangsa itu. Dalam konteks itulah kita ingin meminta Presiden Yudhoyomo untuk tidak hanya memperhatikan pasar modal di awal tahun 2010. Kunjungi pulalah pasar-pasar rakyat dan dengarkan langsung jeritan hati mereka. Pasar-pasar itu sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah agar bisa terus bertahan. Ratusan juta orang tergantung di sana, bukan hanya ratusan ribu seperti di pasar modal.
