Rekan Joko Hamdani ysh, Saya mencoba menampilkan dampak dari adanya FTA atau ACFTA bagi industri yg "belum" mampu bersaing.
Setidaknya dari kaca mata saya... Begitu diberlakukan maka untuk barang dan mungkin juga "jasa" yg semula bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri, akan bisa digantikan dg produk2 dari China atau negara lain karena lebih murah. Bisa lebih murah karena berbagai hal; 1. Tdk lagi ada BM (bea masuk). 2. Skala produksi lebih besar di negara lain ketimbang di Indonesia. 3. Ongkos transport di Indonesia lbh mahal krn buruknya infrastuktur. 4. Birokrasi di kita masih tdk effisien, contoh di negara lain barang bisa sampai di pabrik dlm waktu 2-3 hari di kita bisa lebih dari seminggu, otomatis ongkosnya juga lebih mahal. 5. Ada jg negara yg memberikan subsidi bagi pabrikan yg mengekspor produknya, dikita boro2 disubsidi, dapatin restitusi aja susah malah bisa2 dipalakin. 6. Dan masih banyak faktor yg menyebabkan kita belum siap. 7. Kalau diterus2in lalu apa untungnya bagi perusahaan untuk berproduksi di Indonesia yg listriknya merem-melek, daripada pusing mending impor aja dari luar, toh lebih murah. Contoh ada pabrik yg baru2 ini tutup dan pindah ke negara tetangga, padahal negara kita adalah satu penghasil terbesar didunia bahan baku untuk pabrik tsb. 8. Belum lagi bunga Bank yg tdk bersahabat dgn sektor riil kita (msh diatas 10%) sementara di negara lain cuma 1-2%. 9. Nah kalau satu satu pabrik pada tutup dan pindah ke negara lain, lalu rakyat kita yg tadinya kerja di pabrik harus dikemanakan? Awalnya msh bisa senang dpt pesangon (kalau dpt) dan belanja barang2 konsumtif produksi negara lain....lama2 untuk makan aja nggak ada krn nggak punya kerja. Itulah yg bisa saya rasakan, bisa aja salah mungkin cerdik cendekia di milis ini bisa menambahkan atau membetulkan apa yg saya rasakan dan alami, karena saya sdg tdk berandai-andai. Yg jelas hal seperti tdk bisa diatasi dgn membentuk Panitia angket atau debat tiap saat tiap malam diberbagai media....yg cuma bikin saya tambah "empet bin muak sebel" Salam Kukuh Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: fishbed warlord <[email protected]> Date: Tue, 5 Jan 2010 22:02:25 To: <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kok Pasar Modal Globalisasi dan perdagangan bebas adalah hal yang tak terelakkan. Kalau memang prediksi bahwa terdapat ancaman dibalik perubahan zaman yg pasti akan terjadi tsb, maka sebaiknya juga diberikan solusi seolah hal tersebut sedang terjadi. Sebagai orang awam saya melihat bahwa tetap terdapat peluang. Sebelum pemberlakuan FTA telah dimulai kita sering mendengar banyak barang selundupan dari China. Apa yang berbeda jika kebijakan resmi dicanangkan. Tidak ada kata terlambat meskipun sistim perdagangan baru tersebut sudah diambang mata. Jauh hari sebelum perdagangan bebas dimulai imbasnya diperekonomian sudah mulai terasa, saya tak melihat hal itu membahayakan secara fatal. Sehebat apapun suatu produk, dan seunggul apapun strategi marketing asing tetap saja mereka akan menggandeng partner lokal. Perubahan itu adalah sesuatu yang mutlak, yang perlu menjadi prioritas ialah kemampuan kita mempersiapkan diri dan beradaptasi dengan keadaan, dan rasanya hal itu tak terlalu sulit dikarenakan terjadi di rumah kita sendiri. Apakah bangsa ini berusaha mempertahankan sistim konvensional yang juga tetap tidak bisa dinikmati secara merata semua kesejahteraan yang dihasilkan. Sebelum FTA berlaku, data BPS juga mencatat sekitar 30% persen rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Tak ada yang tau apakah hal tersebut akan bertambah dikarenakan sistim perdagangan bebas. Atau justru sebaliknya akan mengurangi jumlah penduduk miskin. Saya tidak berusaha optimis tetapi realistis, jika saya berada dalam posisi pemerintah yang berada diantara tekanan dunia internasional, dan tuntutan dalam negeri sebaiknya tetap melakukan harmonisasi yang tepat namun semua berjalan alami. Mohon penjelasan dari para ahli yang kompeten dibidangnya mengapa FTA dan sistim perdagangan bebas perlu begitu ditakutkan? sebab mekanisme perdagangan baru tsb tak secara langsung merubah persendian perekonomian masyarakat. Akan tetapi saya tak menutup bahwa pendapat saya benar, tetapi alangkah sombongnya kita menolak perubahan yang secara nyata akan terjadi. Joko Hamdani
