Perlu ditakutkan karena :

pemmerintah gak menyiapkan  misalnya infrastruktur dgn   baik


pemerintah tidak mampu bernegosiasi dgn baik shg
benar benar  yg kita bisa ekspor yg dpt kemudahan
masuk ke LN, sementara yg memang kita butuh

dan gak ganggu dalam negeri  yg di beri kemudahan masuk ke dalam negeri


banyak contoh ttg dua hal ini9


saya yakin para pakar bis a nambahi lagi
mislanya, samakan dong  bbunga bank dgn di negara
partener  FTA kita , atau jangan dong ekpor bahan
baku doang yg di banggakan, malah biarkan bahan baku diolah dalam negeri



nah dgn kebijakan kedodoran spt itu kok mau sok FTA ??


di negara lain  ,pemerintah  nya mendukung dgn
membuat kebijakan dan aturan yg tepat
bagi  rakyatnya , kalau disini pemerintah nya
bikin  kebijakan  agar citranya dimata  para penganut neo lib jadi keren

percaya dee ..pengusaha kita bukan penakut ..cuma
sebel aja lihat pemerintah nya kedodoran dalam
menyiapkan mialaya soal infrastruktur  itu , lalu
kebijakan utk gak ekpor bahan baku spt gas alam
ke negara pesaing kita , sementara PLN dan pabrik pupuk kita gak kebagaian




HS

At 01:02 PM 1/6/2010, you wrote:
>Globalisasi dan perdagangan bebas adalah hal
>yang tak terelakkan. Kalau memang prediksi bahwa
>terdapat ancaman dibalik perubahan zaman yg
>pasti akan terjadi tsb, maka sebaiknya juga
>diberikan solusi seolah hal tersebut sedang
>terjadi. Sebagai orang awam saya melihat bahwa
>tetap terdapat peluang. Sebelum pemberlakuan FTA
>telah dimulai kita sering mendengar banyak
>barang selundupan dari China. Apa yang berbeda
>jika kebijakan resmi dicanangkan. Tidak ada kata
>terlambat meskipun sistim perdagangan baru tersebut sudah diambang mata.
>Jauh hari sebelum perdagangan bebas dimulai
>imbasnya diperekonomian sudah mulai terasa, saya
>tak melihat hal itu membahayakan secara fatal.
>Sehebat apapun suatu produk, dan seunggul apapun
>strategi marketing asing tetap saja mereka akan menggandeng partner lokal.
>Perubahan itu adalah sesuatu yang mutlak, yang
>perlu menjadi prioritas ialah kemampuan kita
>mempersiapkan diri dan beradaptasi dengan
>keadaan, dan rasanya hal itu tak terlalu sulit
>dikarenakan terjadi di rumah kita sendiri.
>Apakah bangsa ini berusaha mempertahankan sistim
>konvensional yang juga tetap tidak bisa
>dinikmati secara merata semua kesejahteraan yang dihasilkan.
>
>Sebelum FTA berlaku, data BPS juga mencatat
>sekitar 30% persen rakyat Indonesia berada di
>bawah garis kemiskinan. Tak ada yang tau apakah
>hal tersebut akan bertambah dikarenakan sistim
>perdagangan bebas. Atau justru sebaliknya akan
>mengurangi jumlah penduduk miskin. Saya tidak
>berusaha optimis tetapi realistis, jika saya
>berada dalam posisi pemerintah yang berada
>diantara tekanan dunia internasional, dan
>tuntutan dalam negeri sebaiknya tetap melakukan
>harmonisasi yang tepat namun semua berjalan alami.
>Mohon penjelasan dari para ahli yang kompeten
>dibidangnya mengapa FTA dan sistim perdagangan
>bebas perlu begitu ditakutkan? sebab mekanisme
>perdagangan baru tsb tak secara langsung merubah
>persendian perekonomian masyarakat. Akan tetapi
>saya tak menutup bahwa pendapat saya benar,
>tetapi alangkah sombongnya kita menolak
>perubahan yang secara nyata akan terjadi.

>Joko Hamdani

Kirim email ke