Saya bandingkan Malaysia dan Indonesia saat ini.
Siapa saja (rakyat) Malaysia yang mau berusaha dengan sunguh-sungguh dapat 
dipastikan  akan berhasil. Mereka sama dengan kita sebenarnya gak punya modal 
untuk berwiraswasta, modalnya pinjam bank. tapi karena bunga bank sangat kecil 
hanya 6 % pertahun, maka setiap usaha akan untung. Di Indonesia bunga bank 
kalau saya hitung 35 % per tahun kalau tidak menggunakan sistim cicilan.  Mana 
ada usaha yang akan berhasil. Tidak rasional. Artinya semua keuntungan akan 
digunakan untuk membayar bunga dan utang pokok. Kita hanya diperas disuruh 
bekerja keras tapi untungnya yang menikmati bank. Akhirnya bangkrut. Yang 
terjadi di Indonesia orang malas untuk berwiraswasta dan berduyun-duyun ingin 
menjadi pegawai negri walaupun harus menyuap. Bukan rahasia lagi kalau mau 
masuk jadi polisi harus menyediakan uang 25 juta kontan. Ini yang saya dengan 
dari kiri dan kanan.
Yang membuat saya penasaran, mengapa bunga bank di Malaysia kok rendah tapi di 
Indonesia kok tinggi banget.  Apakah ada yang dapat menjawab?
Sekarang malaysia sudah bergerak maju di bidang peternakan kambing, Indonesia 
sudah ketinggalan jauh. Sebenarnya di Indonesia tidak kurang profesor pandai di 
bidang ini, lahan tersedia luas, pasar sangat terbuka luas, tenaga kerja 
tersedia melimpah. Malaysia siap mengimpor kambing Boer berapaun yang ada. Saya 
amati bermacam-macam kendala diantaranya modal dan koordinasi pemerintah dan 
masyarakat peternak yang kurang solid apabila dibandingkan dengan di malaysia. 
Sehingga potensi Indonesia terabaikan. Atau yang berbau pemberdayaan petani dan 
peternak atau masyarakat kecil ini selalu dihindari oleh pemerintah? Padahal 
malaysia sekarang ini sedang menggeliat bangun untuk membangun bidang pertanian 
dan peternakan. Karena sadar akan pemberdayaan masyarakat kecil yang jumlahnya 
lebih banyak dari pada masyarakat golongan menengah dan atas akan dapat 
mempercepat kemajuan. Urbanisasi berkurang dan bangsa makin mandiri.
Itu hanya salah satu contoh saja.
Salam 
Mahreni

----- Original Message ----
From: Suhaimi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, March 17, 2007 12:25:50 PM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Info tentang isitilah profesor dan profesor 
riset

Bapak.KK,

Salam hormat dan salam kenal, 
Saya Suhaimi tapi saya suka menganggap diri saya gendheng, karena itu silakan 
saja kalo mo sebut saya Ki Gendheng Suhaimi, sebab saya ini rakyat biasa tapi 
koq sok peduli dengan hal-hal yang seharusnya menjadi kepedulian dan 
tanggungjawabnya para petinggi negeri ini. 

Btw, setelah membaca postingan Bapak diatas, sebagai rakyat yang gendheng ini 
saya jadi tau wow... negeri kita ini sesungguhnya memiliki begitu banyak Prof 
ya Pak...? entah itu dari jalur PT kah maupun jalur non PT alias Riset kek, 
Litbang kek dll.

Logika ke_gendheng_ an saya Pak. he he he... kenapa ya Pak...? negeri kita ini 
koq semangkin memburuk? padahal banyak sekali orang pintarnya.

Contoh sederhana saja :
Dulu kita sempat mampu swasembada Pangan, e,,,belakangan kita koq malah import 
beras maning, sampe-sampe ada yang terpaksa makan nasi aking segala.
Dulu para tetangga kita yang namanya negara Malaysia, Singapore dan bahkan 
Australia mana berani ngeledek negara kita ! e ..belakangan negara kita malah 
mereka ledekin. 
Mutu penghidupan dan kehidupan rakyat semangkin melorot...

Sementara itu Pak. mayoritas bangsa kita ini beragama Islam kan Pak. ?
Nah, saya sering dengar ceramah entahkah itu lewat TV, lewat Khotba Jum'at juga 
melalui TOA Mesjid dan Musholah sering dikatakan salah satu ajaran dasar Islam 
itu adalah :
"Barang siapa yang hari ini Penghidupannya lebih baik dari hari kemaren, maka 
ia adalah termasuk orang yang beruntung"
"Barang siapa yang hari ini Penghidupannya sama saja dengan hari kemaren, maka 
sungguh ia termasuk orang yang merugi"
"Barang siapa yang ini Penghidupannya lebih buruk dari hari kemaren, maka 
sungguh ia termasuk orang yang terkutuk"
Apakah hal itu ada keterkaitanya dengan musibah dan bencana negeri kita ini Pak 
?

Mohon pencerahannya Bapak.....

Wassalam,
Ki Gendheng Suhaimi

Kirim email ke