Salam bung,
konspirasi elit telah membungkam alternatif hak pilih warga DKI, kayaknya
kita hanya ada dua pilihan. Fauzi atau Agum. Sarwono dan Rano susah dapat
tiket. Soal Rano karno, Fauzi Bowo tak mau Rano menjadi pendampingnya dan
Adang, PKS sudah punya kader internal sendiri sebagai cagub. Bung, kita sudah
hidup dalam demokrasi yang dikendalikan oligarki. uang mendikte jalannya
politik yang sehat.
Surya.
charles siahaan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
dear,
Ya, Foke memang kebanjiran "perahu". Tapi, Pilkada itu rakyat yang menentukan,
sedangkan Parpol hanya sebagai tiket untuk mendaftar ke KPUD. Walau ada tiga
parpol PDIP-Golkar-Demokrat (nasionalis), jelas tidak ada koalisi permanen
nantinya walaupun Foke menang. Yang terjadi di banyak daerah justru multipartai
seperti itu berpotensi berlomba-lomba mengambil konsesi di ladang basah seperti
mengutus wakilnya ke perusda-perusda yang ada.
Tapi Pilkada DKI memang cukup menarik, karena partai nasionalis yang pada
pemilu lalu babak belur di DKI oleh PKS (religius) bersatu melawan.
Partai-partai itu bisa kecele kalau ternyata rakyat memilih Sarwono - Rano
Karno..
salam...
chs