Yuli,

Kalau contoh dekatnya, Jakarta, yang seratus tahun lalu masih banyak dijumpai 
"hutan kota", kebun karet, dll kini berubah jadi "hutan beton".
Ini bisa masuk MURI juga lho..

Salam.

Note : kalau masih mau menikmati kesegaran "hutan kota" (dalam skala mini), 
cobalah jalan-jalan ke Lippo Karawaci di Tangerang (bukan promosi)..c'est la 
vie?

----- Original Message ----
From: Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, March 19, 2007 11:18:34 PM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Juara Merusak Hutan

Jika informasi-informasi tentang penghancuran kekayaan alam Indonesia ini 
dijadikan sebagai "patokan" sejarah dan dimasukkan kedalam buku-buku pelajaran 
sejarah nasional dan para murid mempelajari betapa Indonesia pada jaman "orde 
baru" sangat terkenal dengan penjualan-penjualan "Tanah (pasir dan granit); Air 
dan Hutan; juga hasil tambang" nya, maka ada kemungkinan generasi mendatang 
akan belajar untuk menjaga dan melestarikan semua kekayaan alam di Indonesia 
demi bangsa dan tanah air nya dimasa-masa mendatang.

Yang saya herankan kalau "MURI" selalu mencatat hal-hal yang sepele seperti 
pawai terpanjang HD, mengapa Muri tidak mencacat hal-hal yang akan membantu 
generasi mendatang menjaga negara sendiri, seperti: Kehancuran hutan yang 
terbesar didunia pada abad ke 21 adalah negara Indonesia; yang diakibatkan oleh 
kebodohan pemimpin-nya. Yang meg-akibat-kan; yaitu: banjir; longsor; dan 
kehilangan penghasilan bagi rakyat yang hidup dipinggiran hutan-hutan yang 
dibabat tersebut. Akibatnya terjadinya kemiskinan penduduk, karena miskin tidak 
bisa mendapatkan pendidikan yang selayaknya. Dan kehancuran ekonomi negara 
Indonesia.
Juga penghancur lingkungan yang tercepat dengan menjual pasir dan granit nya ke 
Singapura, sehingga beberapa pulau di kepulauan Riau hampir tenggelam. 
Hal beginilah yang seharusnya dimasukkan kedalam catatan MURI.
Jadi bisa dipakai untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia, tidak membodohkan.
Dan hal-hal tersebut diatas memang benar-benar terjadi, bukan sejarah yang 
dibuat-buat demi kepentingan politik suatu golongan partai saja.

Salam,
Yuli

Kirim email ke