Kalau mau lihat hutan mini, silakan main ke rumah saya di daerah percetakan negara, rumah saya kayak kampung, bisa buat nongkrong sambil minum teh hangat, masih ada pohon beringin, pohon timbul, pohon sukun, pohon sawo, pohon kelapa, pohon mengkudu putih, dan tanaman yang dibiarkan tumbuh liar, ikan-ikan dibawahnya, dan 6 katak berpasangan. Kalau hujan mau datang kodok-kodok itu pasti pasti kongres kasih alaram, trus kita siap-siap angkat jemuran. Enak kayak di kampung...
Burung-burung liar yang bulunya menyala bagus juga masih berkeliaran, walaupun banyak anak-anak kecil diajarkan menyakiti binatang, membawa katapel dan membunuh burung- burung itu tanpa tujuan, cuma sekedar menguji kegagahan. Trus di dekat rumah ada pasar, namanya pasar genjing juga masih ada taman yang tengah-tengahnya ada pohon beringin gede banget dari jaman belanda. Dulu waktu om-om saya masih merasakan jaman belanda, dan mereka bikin buku harian, wuih, di taman genjing itu penuh pohon dan belukar, dan sekitarnya masih banyak rawa, semak, dan bunyi jangkrik krik, krik, oh indah sekali saya membayangkannya. Wah, kalau samapai ini digusur juga, sedih banget deh, karena depannya pasar itu udah ada halte busway yang gede banget... belum lagi hotel-hotel dll. Untung ditengah ada lahan kosong dan tempat tumbuh satu pohon palm yang tinggiiiiiiiiii banget. Mas Agus Hamonangan juga tetanggaan sama saya pasti tau hehehe... Mariana Tuesday, March 20, 2007, 4:24:47 PM, you wrote: > Yuli, > Kalau contoh dekatnya, Jakarta, yang seratus tahun lalu masih > banyak dijumpai "hutan kota", kebun karet, dll kini berubah jadi "hutan > beton". > Ini bisa masuk MURI juga lho.. > Salam.
