Pak Andi, jangan terlalu percaya diri membicarakan perempuan selain
karena (mungkin) Anda adalah laki-laki. Dengarkan apa yang dialami
langsung oleh perempuan.

Memang ada perempuan yang suka laki-laki dominan, tapi tidak semuanya
Pak. Hati-hati Anda telah mereduksi, telah melakukan generalisasi tanpa
mendengarkan fakta yang lain!

Point nomor 4 itu sudah jelas gugur (sudah pernah dikatakan oleh Pak
Manneke dengan sangat jelas) karena saya punya pengalaman
(dan pengalaman menurut saya data yang paling valid karena
langsung berintraksi dengan kehidupan yang berkaitan dengan
pikiran, rasa dan reaksi tubuh). Itulah kelemahan ilmu pasti
yang seringkali membuat sesuatu jadi tidak pasti karena rawan
dengan reduksi.

Soalnya apa yang saya alami lain, dan banyak juga teman-teman
perempuan saya yang memiliki pengalaman sama. Kami, para perempuan,
ya kami benar-benar perempuan, seringkali gagal melakukan relasi
dengan laki-laki yang dominan, bahkan yang terjadi terus menerus
konflik. Coba deh sederhana saja, kriteria laki-laki yang kami
sukai adalah yang punya cara berpikir terbuka: percaya bahwa
kesetaraan membuat hidup lebih mudah, tidak dipenuhi dengan mitos!
Dan itu terbukti. Saya merasakan kemudahan itu.

Anda pernah membuat perumpamaan monyet, dan langsung menarik
kesimpulan seperti itu. Orang Utan, figur laki-lakinya adalah
'membangun keluarga' dan mempraktekkan monogami. Coba deh ke taman safari
dan tanya bagaimana orang utan itu pasangan setia. Bahkan
bapaknya itu selalu melindungi anak-anaknya, sama dengan ibunya.
Ini kasus pada orang utan, dan saya tidak bilang mereka sama dengan
manusia. Just orang utan!

Soal konstruksi sosial (point 6), ya semuanya adalah konstruksi,
pikiran manusia itu konstruksi, kebodohan juga konstruksi, sekarang
tinggal pilih mau dikonstruksi oleh ketololan atau kecerdasan?
Manusia punya kebebasan kehendak, jadi pakailah kehendak itu!
Apalagi orang seperti kita yang sudah bermain di milis, seharusnya
banyak informasi positif yang kita pilih.


Mariana


Wednesday, March 21, 2007, 3:49:58 PM, you wrote:



> 4. Argumen saya bahwa perempuan itu dari sononya (tidak peduli dia di 
> Oslo atau di Solo) suka laki-laki yang dominan. Dasar saya adalah 
> evolusi.

> 5. Pemahaman saya (dan ini saya garis bawahi) Anda berargumen bahwa 
> karena interaksi dengan lingkungannya (yang mempropagandakan hidup 
> monogamis) si "moral sense" ini menekan kecenderungan untuk mencari 
> pria dominan sebagai partner.

> 6. Jadi pada dasarnya Anda cuma mau bilang kalau kemauan perempuan 
> mencari partner "setara" itu cuma konstruksi sosial? Ya monggo, Pak. 
> Dengan demikian Anda tidak jadi berseberangan dengan saya toh?

> Gitu kok saya yang dituduh mbulet. Anda sih Prozac disangka Rujac, 
> jadi main sendok saja...

> Andi

Kirim email ke