Bu Mariana,

Dari kemarin saya tidak menggeneralisir. Saya cuma bilang 
kecenderungan wanita kepada pria dominan itu alamiah sifatnya dan 
dalam hubungan (romantis) laki-laki perempuan, kecenderungan itu 
terlihat. Saya tidak membantah bahwa manusia itu memiliki akal sehat 
dan dalam berbagai kondisi akal sehatnya mengalahkan kecenderungan 
alamiahnya. 

Saya juga memberi alasan ilmiah, saya tunjukkan riset-riset yang 
mendukung. Tentu ada penelitian dan rujukan yang menentang; banyak 
malah. Tapi kalau itu datangnya dari saya juga, namanya kuliah umum, 
Bu, bukan diskusi. Sebenarnya itu saya harapkan datangnya dari Anda, 
tapi sayang tidak kunjung datang. 
  
Pengalaman tentu saja data yang valid, Bu. Tapi pengalaman pribadi 
Anda barulah satu titik data. Saya yakin anda paham bahwa riset ilmu-
ilmu sosial biasanya dijalankan ratusan atau ribuan responden dengan 
metode yang terkontrol untuk menghindari bias. Itupun belum sampai ke 
kesimpulan. Riset tersebut harus diulang atau ditantang lagi berkali-
kali sebelum bisa dijadikan rujukan.

Saya cuma menghindari membawa diskusi ini ke wilayah moral, wilayah 
baik dan buruk, karena di situ nilai-nilai pribadi terlalu dominan. 
Mungkin karena dari dulu saya suka mencibir kalau ada yang berusaha 
menjejalkan pandangan agamanya di milis. Buat saya agama dan politik 
itu sama saja, Bu. Sama-sama untuk dipahami agar saling mengerti, 
bukan untuk dijejalkan ke orang lain.

Soal orangutan, berikut kutipan dari kuliah Biologi Dasar di Indiana 
University.

Orangutans are large apes that are forced to spread out through the 
forest to avoid competing for food with each other. So they lead 
solitary lives because of ecological constraints. Males must also 
compete with each other for access to females... to increase your 
chances of reproductive success, the goal is to have access to as 
many females as possible, and to try to maintain exclusive access to 
those females (by excluding other males)... sort of a "harem" 
structure. But it is difficult for orang males to monitor females 
because they are so spread out, and they come into estrus so 
infrequently. (Males also compete for food, and will cover 3-4x the 
area of a female orangutan.) What seems to happen is one dominant 
male will "claim" several females, and try to keep the other males at 
a distance, through confrontations. 

Andi 

--- In [email protected], Mariana Amiruddin 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Pak Andi, jangan terlalu percaya diri membicarakan perempuan selain
> karena (mungkin) Anda adalah laki-laki. Dengarkan apa yang dialami
> langsung oleh perempuan.
> 
> Memang ada perempuan yang suka laki-laki dominan, tapi tidak 
semuanya
> Pak. Hati-hati Anda telah mereduksi, telah melakukan generalisasi 
tanpa
> mendengarkan fakta yang lain!
> 
> Point nomor 4 itu sudah jelas gugur (sudah pernah dikatakan oleh Pak
> Manneke dengan sangat jelas) karena saya punya pengalaman
> (dan pengalaman menurut saya data yang paling valid karena
> langsung berintraksi dengan kehidupan yang berkaitan dengan
> pikiran, rasa dan reaksi tubuh). Itulah kelemahan ilmu pasti
> yang seringkali membuat sesuatu jadi tidak pasti karena rawan
> dengan reduksi.
> 
> Soalnya apa yang saya alami lain, dan banyak juga teman-teman
> perempuan saya yang memiliki pengalaman sama. Kami, para perempuan,
> ya kami benar-benar perempuan, seringkali gagal melakukan relasi
> dengan laki-laki yang dominan, bahkan yang terjadi terus menerus
> konflik. Coba deh sederhana saja, kriteria laki-laki yang kami
> sukai adalah yang punya cara berpikir terbuka: percaya bahwa
> kesetaraan membuat hidup lebih mudah, tidak dipenuhi dengan mitos!
> Dan itu terbukti. Saya merasakan kemudahan itu.
> 
> Anda pernah membuat perumpamaan monyet, dan langsung menarik
> kesimpulan seperti itu. Orang Utan, figur laki-lakinya adalah
> 'membangun keluarga' dan mempraktekkan monogami. Coba deh ke taman 
safari
> dan tanya bagaimana orang utan itu pasangan setia. Bahkan
> bapaknya itu selalu melindungi anak-anaknya, sama dengan ibunya.
> Ini kasus pada orang utan, dan saya tidak bilang mereka sama dengan
> manusia. Just orang utan!
> 
> Soal konstruksi sosial (point 6), ya semuanya adalah konstruksi,
> pikiran manusia itu konstruksi, kebodohan juga konstruksi, sekarang
> tinggal pilih mau dikonstruksi oleh ketololan atau kecerdasan?
> Manusia punya kebebasan kehendak, jadi pakailah kehendak itu!
> Apalagi orang seperti kita yang sudah bermain di milis, seharusnya
> banyak informasi positif yang kita pilih.
> 
> 
> Mariana
> 
> 
> Wednesday, March 21, 2007, 3:49:58 PM, you wrote:
> 
> 
> 
> > 4. Argumen saya bahwa perempuan itu dari sononya (tidak peduli 
dia di 
> > Oslo atau di Solo) suka laki-laki yang dominan. Dasar saya adalah 
> > evolusi.
> 
> > 5. Pemahaman saya (dan ini saya garis bawahi) Anda berargumen 
bahwa 
> > karena interaksi dengan lingkungannya (yang mempropagandakan 
hidup 
> > monogamis) si "moral sense" ini menekan kecenderungan untuk 
mencari 
> > pria dominan sebagai partner.
> 
> > 6. Jadi pada dasarnya Anda cuma mau bilang kalau kemauan 
perempuan 
> > mencari partner "setara" itu cuma konstruksi sosial? Ya monggo, 
Pak. 
> > Dengan demikian Anda tidak jadi berseberangan dengan saya toh?
> 
> > Gitu kok saya yang dituduh mbulet. Anda sih Prozac disangka 
Rujac, 
> > jadi main sendok saja...
> 
> > Andi
>


Kirim email ke