Pak Andi, Kata-kata Anda sebelumnya bukan 'kecenderungan' loh, tapi 'sudah dari sononya'. Ini generalisasi. Baca lagi deh. Makanya saya merespon begini.
Kedua, kalimat "tapi pengalaman pribadi Anda baru setitik data", lalu kenapa? Setitik atau seribu titik itu juga kebenaran, karena 'dialami langsung' toh? Dalam ilmu sosial, terutama dalam metodologi kualitatif, data yang minoritas itu penting, untuk menghindar generalisasi. Nah dalam ilmu pasti tuh pukul rata; menggilas fakta-fakta yang tidak sama padahal benar adanya. Lagipula bukan pengalaman saya saja, tetapi mayoritas perempuan di keluarga saya maupun teman-teman di lingkungan saya tidak suka dengan laki-laki yang dominan; "mereka sampai bilang amit-amit deh, kebanyakan gaya atau sok berkuasa". jadi metodologi yang anda pakai sudah kacau. Soal orang utan, itu urusan orang utan. Saya lagi bicara manusia perempuan. Mariana Friday, March 23, 2007, 10:48:14 AM, you wrote: > Bu Mariana, > Dari kemarin saya tidak menggeneralisir. Saya cuma bilang > kecenderungan wanita kepada pria dominan itu alamiah sifatnya dan > dalam hubungan (romantis) laki-laki perempuan, kecenderungan itu > terlihat. Saya tidak membantah bahwa manusia itu memiliki akal sehat > dan dalam berbagai kondisi akal sehatnya mengalahkan kecenderungan > alamiahnya. > Saya juga memberi alasan ilmiah, saya tunjukkan riset-riset yang > mendukung. Tentu ada penelitian dan rujukan yang menentang; banyak > malah. Tapi kalau itu datangnya dari saya juga, namanya kuliah umum, > Bu, bukan diskusi. Sebenarnya itu saya harapkan datangnya dari Anda, > tapi sayang tidak kunjung datang. > > Pengalaman tentu saja data yang valid, Bu. Tapi pengalaman pribadi > Anda barulah satu titik data. Saya yakin anda paham bahwa riset ilmu- > ilmu sosial biasanya dijalankan ratusan atau ribuan responden dengan > metode yang terkontrol untuk menghindari bias. Itupun belum sampai ke > kesimpulan. Riset tersebut harus diulang atau ditantang lagi berkali- > kali sebelum bisa dijadikan rujukan. > Saya cuma menghindari membawa diskusi ini ke wilayah moral, wilayah > baik dan buruk, karena di situ nilai-nilai pribadi terlalu dominan. > Mungkin karena dari dulu saya suka mencibir kalau ada yang berusaha > menjejalkan pandangan agamanya di milis. Buat saya agama dan politik > itu sama saja, Bu. Sama-sama untuk dipahami agar saling mengerti, > bukan untuk dijejalkan ke orang lain. > Soal orangutan, berikut kutipan dari kuliah Biologi Dasar di Indiana > University. > Orangutans are large apes that are forced to spread out through the > forest to avoid competing for food with each other. So they lead > solitary lives because of ecological constraints. Males must also > compete with each other for access to females... to increase your > chances of reproductive success, the goal is to have access to as > many females as possible, and to try to maintain exclusive access to > those females (by excluding other males)... sort of a "harem" > structure. But it is difficult for orang males to monitor females > because they are so spread out, and they come into estrus so > infrequently. (Males also compete for food, and will cover 3-4x the > area of a female orangutan.) What seems to happen is one dominant > male will "claim" several females, and try to keep the other males at > a distance, through confrontations. > Andi
