Mas Tedy ngga perlu minta ijin lah....namanya juga kita diskusi..
Kalau Mas punya data mengenai hutan...maaf saya tidak punya data apa-
apa...saya cuma ibu dari seorang anak...yang suka terenyuh kalau 
melihat muka dia pada saat tidur....masa depan seperti apa yang akan 
dia dapat nanti...

Okelah kita tidak bicara hutan lindung dan lain sebagainya yang jauh 
dari mata kita...walaupun segala informasinya gampang kita akses.

Coba lihat disekitar lingkungan Mas...apakah masih banyak ruang 
terbuka yang bisa dijadikan tempat main untuk anak-anak? Jika ada 
layakkah? Masih adakah atau pernah adakah taman umum yang memang 
dirancang untuk anak-anak? 

Kemudian seandainya hutan kita tidak terlalu cepat berkurang, 
darimana datangnya banjir itu, darimana kekeringan itu?

Masih banyakkah kita melihat lapangan di sekitar kita...mungkin 
kalau lapangan parkir banyak ya.......

Belum lagi soal air...

Belum lagi soal polusi...

salam prihatin
--wenny--



--- In [email protected], Andreas Tedy Mulyono 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mohon ijin kalau saya agak berbeda.
> 
> Apakah benar hutan kita rusak dengan 'kecepatan' yang demikian 
tinggi, hingga menjadi juara?  Berapa kecepatannya? Apakah data itu 
sudah akurat?  Bagaimana metoda pengukurannya?  Jangan-jangan hal 
ini hanya digembar-gemborkan oleh pihak tertentu yang punya 
kepentingan khusus terhadap Indonesia?  (Indonesia ini salah satu 
negara besar, kaya dan luas lho.....)
> 
> Saya pernah 'ngobrol di warung kopi' katanya, sebagian besar data 
hutan kita masih pakai gambar yang dibuat oleh orang Belanda dulu.  
Khususnya mengenai hutan lindung.  Katanya lagi, kawasan hutan 
lindung itu sengaja di-plot, 'ditandai' oleh mereka kalau kelak 
datang kembali ke Indonesia.
> 
> Faktanya, memang di area hutang lindung itulah kita sering 
menemukan sumber daya alam (energi dan mineral) yang potensial.  
Saya punya beberapa data tentang hal itu.  Apakah tidak mungkin, ada 
pihak-pihak (negara) yang kuatir bahwa Indonesia akan maju berkat 
dari kekayaan alamnya sendiri?  Banyak lho, LSM (dalam dan luar 
negeri, non profit) yang didanai khusus untuk memantau pemanfaatan 
alam Indonesia.  Beberapa teman saya - orang lokal - pun kerja di 
sana.  Atas nama pelestarian lingkungan, mereka masuk ke daerah-
daerah potensial di Indonesia.  Selain itu, mereka pun disinyalir 
mempunyai akses khusus ke pembuat kebijakan terkait dengan hal 
ini.   Ah, mudah-mudahan saya ndak sepenuhnya benar....
> 
> 
> Rgds / Tedy
> 
> 
>


Kirim email ke