Nampaknya sukar sekali mengajarkan sejarah kalau sampai kini
kita masih saja belum jelas siapa dibalik peristiwa 30 September 1965!
Apakah CIA, PKI, Dewan yang ini atau yang itu, Soekarno atau
Soeharto dkk?
Apakah tidak mungkin untuk dibuka kembali semua informasi dari
mana saja buat jadi penelitian sejarah sebagai ilmu pengetahuan?
Bagaimana dengan RMS, DI/TII, PRRI/PERMESTA, OPM, GAM
dan berbagai front yang ini dan yang itu plus laskar ini dan laskar itu?
Bagaimana kita menuliskannya dalam sejarah?
Apakah ada rekan-rekan yang pernah jadi guru sejarah yang cerdas
atau masih bertugas sebagai guru sejarah (yang cerdas)?
Please explain deh!
Makasih!
Salam
Las.
Pak Harijanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
DICARI: GURU SEJARAH CERDAS
Tanggapan Seputar Kontroversi Pelarangan Buku Pelajaran Sejarah
Beberapa waktu lalu Kejaksaan Agung mengeluarkan surat 'larangan' peredaran
buku-buku sejarah yang berlandaskan pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Buku-buku tersebut dilarang beredar karena meniadakan tiga huruf PKI pada akhir
singkatan G 30 S dan Peristiwa Madiun. Surat itu memancing kontroversi di
masyarakat. Kalangan akademisi banyak menyayangkan keluarnya surat tersebut.
Depdiknas mengklarifikasi bahwa peniadaan tiga huruf PKI sudah dikonsultasikan
dengan para ahli sejarawan. Sementara guru-guru sejarah bingung. "Manakah yang
harus diikuti?"
Memang dua hari yang kelam dan belum tersingkap pada pergantian bulan September
dan Oktober 1965 itu masih gelap. Ada beberapa versi di kalangan sejarawan
mengenai peristiwa G 30 S. Pemerintah Orde Baru menyatakan yang melakukan G 30
S adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Anthonie C. Dake, seorang sejarawan
Belanda, menyatakan 'dalang' G 30 S adalah Soekarno sendiri. Beberapa sejarawan
menyatakan bahwa G 30 S adalah konflik internal Angkatan Darat (AD). Beberapa
lagi menyatakan CIA terlibat dalam G 30 S dalam rangka melemahkan Soekarno.
Dan, versi-versi lainnya. Manakah dari versi-versi tersebut yang harus
diajarkan kepada siswa?
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebenarnya setiap guru diberi
kebebasan untuk menentukan indikator dan sumber belajar, termasuk guru sejarah.
Nah, sebaiknya guru-guru sejarah menggunakan kesempatan yang diberikan KTSP
tersebut. Guru dapat menjelaskan beragam versi G 30 S dalam indikator
pembelajaran yang mereka buat. Mereka juga bisa menggunakan beragam sumber
belajar untuk menunjang kegiatan belajar mengajar (KBM) yang mereka ampu.
Jangan hanya menggunakan buku pelajaran dari satu penerbit saja. Guru dapat
menggunakan buku-buku lain yang bersifat primer, seperti Sejarah Nasional
Indonesia jilid VI, Soekarno File, Pledoi Umar Dhani, Menyingkap Kabut Halim
1965, dan buku-buku lainnya.
Ada baiknya juga, guru mengajak siswanya mengidentifikasi mengapa para penguasa
sangat antusias untuk menggunakan sejarah sebagai alat untuk melanggengkan
kekuasaan. Guru juga bisa mengajak siswanya untuk menjawab, "Adakah hubungan
antara sejarah dengan pewarisan ingatan dan nilai-nilai sebuah bangsa?"
Memang G 30 S amat rumit untuk diajarkan. Supaya siswa tidak bosan dan bingung,
strategi pembelajaran juga dibuat menarik. Misalnya, guru mengajar siswa
bermain peran jika ia menjadi Jenderal Soeharto pada saat itu, apa yang harus
mereka lakukan. Atau, jika mereka menjadi D.N. Aidit, yang berhasil membuat PKI
dari partai kader menuju partai massa, ketika menyaksikan 'peluang' untuk
mengambil-alih kekuasaan dengan potensi yang dimiliki PKI. Pada pembuatan
strategi pembelajarn ini, sebaiknya guru sejarah mengasah kreativitas yang
dimilikinya.
Nah, jika guru sejarah mampu menjelaskan beragam versi G 30 S dengan sumber dan
strategi pembelajaran yang menarik, maka siswa akan dapat menikmati pelajaran
sejarah mereka. Pengalaman belajar yang nikmat, asyik dan menarik akan teringat
dalam benak siswa untuk selamanya. Oleh karena itu, Andakah guru sejarah cerdas
yang selama ini dicari-cari?
Haryo M.
(Guru Sejarah dan Social Studies SMA SMART Ekselensia Indonesia)
Mohon tanggapan, kritik dan saran dari teman-teman pembaca Kompas...
-