Pak Manneke, 

Saya bilang:

A. Perempuan itu secara alamiah maunya laki-laki yang dominan. 
B. Konstruksi sosial yang monogamislah yang mengajari wanita mencari 
pria yang "setara" karena yang dominan itu sering-sering bukan materi 
yang sesuai untuk hidup monogami.

Pilihannya sekarang mana yang alamiah mana yang bukan kan? Anda 
bilang sebaliknya B-lah yang alamiah dan dan A yang konstruksi 
sosial. Sekarang diskusi bisa dibikin lebih ringkas. Tinggal Anda 
buktikan, bagaimana logikanya, mana data dan referensinya, bahwa 
secara alamiah perempuan itu maunya laki-laki yang "setara". 

Argumen terakhir yang Anda berikan, saya kutip:
"Bahwa pada akhirnya perempuan melawan, dan patriarki kini mengalami 
krisis serius akibat perlawanan itu, adalah bukti bahwa kehendak 
menjadi setara adalah suatu dorongan naluriah yang tak dapat diredam. 
Jadi, dalam perspektif evolusi, perempuan tidak secara genetik 
berbeda dari laki-laki."

Kalimat pertama tidak nyambung, Pak. Non-sequituur kalau dalam logat 
Banyumasan. Perlawanan banyak alasannya. Tidak semata-mata dorongan 
alamiah.

Kalimat kedua jelas tidak benar. 

Perempuan memiliki jumlah sel telur yang terbatas, 500-an butir saja; 
tidak bisa difoya-foya seperti jutaan sel sperma laki-laki. Kalau sel 
telurnya dibuahi, maka konsekuensinya dia harus hamil, melahirkan, 
dan menyusui. Sebaliknya, tindakan berhubungan seks bagi laki-laki 
tidak memiliki konsekuensi apa-apa. Kondisi seperti ini menentukan 
manusia perempuan yang sintas mempunyai pilihan yang berbeda 
(dibandingkan laki-laki) dalam mencari pasangannya. Kalau dia kawin 
dengan lelaki sembarangan, tidak ada jaminan sel telurnya yang 
terbatas itu akan menjadi manusia yang mampu bertahan hidup dalam 
persaingan, sementara "biaya" yang dia keluarkan sungguh tidak 
sebanding dengan yang dikeluarkan pasangannya. Jadi tidak ada 
gunanyalah dia mencari partner setara.

Dan untuk yang kesekian ratus kalinya saya bilang, saya tidak 
menganggap laki-laki itu lebih tinggi dari perempuan. Saya masih 
bicara pilihan perempuan dalam mencari pacar.

Andi


--- In [email protected], Manneke Budiman 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Andi, sekali lagi (untuk sekian ratus kalinya), saya tak 
mempersoalkan "moral"-nya per se. Saya bicara soal "moral sense". 
Moral sense adalah potensi genetik yang memungkinkan manusia 
mengembangkan nilai-nilai moral. Bahwa moral itu sendiri adalah 
sistem penentu apa yang baik dan apa yang buruk, ya memang gitu. Lha 
yang mempersoalkan itu siapa?
>    
>   Sekarang kita urut juga pemikiran Anda yang amburadul dan muter-
muter itu:
>    
>   1) Referensi soal asal mula dan cara kerja moral sense: silakan 
baca Steven Pinker, The Blank Slate: The Modern Denial of Human 
Nature (Penguin, 2002). Waktu lahir, manusia secara genetik membawa 
potensi untuk memiliki moral sense. Jika potensi ini diaktifkan, maka 
manusia akan mampu mengenal apa yang baik dan buruk. Apa itu yang 
baik, dan apa itu yang buruk, bisa bervariasi dari satu sistem budaya 
ke yang lain. Udah tak lagi ada urusannya sama gen. Udah jelas? 
Jangan diputer-puter lagi.
>    
>   2) Nomer dua ini, Anda betul. Pinter. Nah, ini saya seneng.
>    
>   3) Nomer tiga, logika Anda betul. Yang salah adalah tuduhan Anda 
untuk saya, yakni bahwa saya bilang baik dan buruk itu absolut 
sifatnya. Yang absolut itu adalah potensi genetik pada diri manusia 
untuk memiliki moral sense, bukan nilai baik buruk untuk suatu 
perilaku tertentu (mencuri, amal, zinah, jujur, dll). So, siapa pula 
yang selama ini berkelit?
>    
>   4) Argumen Anda keliru. Evolusi dalama artian genetik tak 
membedakan kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan, gen-nya punya 
tujuan sama: sintas. Laki-laki menjadi dominan karena budaya, yaitu 
yang suka disebut dengan patriarki, jadi bukan dari sono-sononya. 
Lagian, apa betul perempuan di Oslo sana doyan laki-laki yang lebih 
dominan? Saya tak percaya. Kalo di Solo, masih ada kemungkinan, 
karena budaya Jawa tradisional memang rada patriarkis. Jadi, menurut 
saya, kasus bahwa laki-laki adalah dominan ini tidaklah berlaku 
universal.
>    
>   5) Pemahaman Anda (yang Anda garis bawahi itu) tentang argumen 
saya keliru besaaaar. Saya tak pernah sekalipun berargumen 
bahwa "karena interaksi dengan lingkungannya (yang mempropagandakan 
hidup monogamis) si 'moral sense' ini menekan kecenderungan untuk 
mencari pria dominan sebagai partner." Argumen saya adalah: Potensi 
manusia untuk memiliki moral sense ini diaktifkan oleh lingkungan, 
dalam artian, ada tantangan berupa problem yang harus dipecahkan 
manusia. Jadi, moral sense diaktifkan sebagai bagian dari mekanisme 
problem-solving. Jika ia egois dan tak bertenggang-rasa dengan orang 
lain, kemungkinannya untuk sintas lebih kecil dibanding jika ia mau 
berbaik hati dan lalu bekerja sama dengan orang lain itu dalam 
mengatasi problem yang ada di depan mata. Maka saat itu, ia pun 
belajar bahwa ternyata membantu orang lain juga berdampak positif 
bagi diri sendiri. Ini contoh aktivasi moral sense oleh (tantangan) 
lingkungan.
>    
>   6) Kemauan perempuan mencari partner setara bukan "konstruksi 
sosial." Yang merupakan konstruksi sosial adalah patriarki, yang mau 
mensubordinasi perempuan di bawah laki-laki. Bahwa pada akhirnya 
perempuan melawan, dan patriarki kini mengalami krisis serius akibat 
perlawanan itu, adalah bukti bahwa kehendak menjadi setara adalah 
suatu dorongan naluriah yang tak dapat diredam. Jadi, dalam 
perspektif evolusi, perempuan tidak secara genetik berbeda dari laki-
laki. Maka, hirarki tinggi-rendah pun tak ada. Budayalah yang lalu 
membuat hirarki tersebut. 
>    
>   Dalam hal inilah Anda dan saya berseberangan. Makanya mbulet! 
Makanya jangan keseringan sakau dan kebanyakan nenggak ineks.
>    
>   manneke
> 


Kirim email ke