Tuh kan, sama saya Pak Andi bilangnya "kecenderungan",
tapi pada Pak Manneke bilangnya "secara alamiah" ya wis
ini generalisasi. Ngeri deh ya, perempuan dicap-cap kayak
gini kesannya nggak berdaya banget dan mau aja didominasi.
Perempuan jadi stupid gitu loh! Pak Andi semakin tidak
nyambung nih.

Mariana

This is a forwarded message
From: si_andi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Date: Friday, March 23, 2007, 12:58:00 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RELATIVITAS GENDER

===8<==============Original message text===============
Pak Manneke, 

Saya bilang:

A. Perempuan itu secara alamiah maunya laki-laki yang dominan. 
B. Konstruksi sosial yang monogamislah yang mengajari wanita mencari 
pria yang "setara" karena yang dominan itu sering-sering bukan materi 
yang sesuai untuk hidup monogami.

Pilihannya sekarang mana yang alamiah mana yang bukan kan? Anda 
bilang sebaliknya B-lah yang alamiah dan dan A yang konstruksi 
sosial. Sekarang diskusi bisa dibikin lebih ringkas. Tinggal Anda 
buktikan, bagaimana logikanya, mana data dan referensinya, bahwa 
secara alamiah perempuan itu maunya laki-laki yang "setara". 

Argumen terakhir yang Anda berikan, saya kutip:
"Bahwa pada akhirnya perempuan melawan, dan patriarki kini mengalami 
krisis serius akibat perlawanan itu, adalah bukti bahwa kehendak 
menjadi setara adalah suatu dorongan naluriah yang tak dapat diredam. 
Jadi, dalam perspektif evolusi, perempuan tidak secara genetik 
berbeda dari laki-laki."

Kalimat pertama tidak nyambung, Pak. Non-sequituur kalau dalam logat 
Banyumasan. Perlawanan banyak alasannya. Tidak semata-mata dorongan 
alamiah.

Kalimat kedua jelas tidak benar. 

Perempuan memiliki jumlah sel telur yang terbatas, 500-an butir saja; 
tidak bisa difoya-foya seperti jutaan sel sperma laki-laki. Kalau sel 
telurnya dibuahi, maka konsekuensinya dia harus hamil, melahirkan, 
dan menyusui. Sebaliknya, tindakan berhubungan seks bagi laki-laki 
tidak memiliki konsekuensi apa-apa. Kondisi seperti ini menentukan 
manusia perempuan yang sintas mempunyai pilihan yang berbeda 
(dibandingkan laki-laki) dalam mencari pasangannya. Kalau dia kawin 
dengan lelaki sembarangan, tidak ada jaminan sel telurnya yang 
terbatas itu akan menjadi manusia yang mampu bertahan hidup dalam 
persaingan, sementara "biaya" yang dia keluarkan sungguh tidak 
sebanding dengan yang dikeluarkan pasangannya. Jadi tidak ada 
gunanyalah dia mencari partner setara.

Dan untuk yang kesekian ratus kalinya saya bilang, saya tidak 
menganggap laki-laki itu lebih tinggi dari perempuan. Saya masih 
bicara pilihan perempuan dalam mencari pacar.

Andi

Kirim email ke