Nuklir Iran, 
Saya bahkan sangat setuju, kalau setiap negara memiliki nuklir, tidak hanya 
Iran. Bahkan Indonesiapun kalau perlu, mengapa tidak? Bila semua negara punya 
nuklir, ada jaminan terjadinya keseimbangan. Satu negara tidak akan menekan 
negara lain, karena masing-masing punya kekuatan nuklir. Di era dunia paradoks 
dan ironi, tidak usahlah mencoba menekan-nekan negara lain, termasuk Iran, 
untuk menghentikan program nuklirnya. Biarlah Iran "bersibuk ria" dengan 
nuklirnya. Ngapain Indonesia jadi penengah segala. Apakah epektif? Bahkan 
dengan alasa, ingin ikut terlibat dalam proses menyusun draft resolusi PBB yang 
akan digulirkan, ah bulshit, bahlul. Mengapa Indonesia tidak tegas menolak 
saja. Lebih jelas, elegan dan ya, tidak ikut-ikutan kayak kambing congek. 
Memang kalau Iran diserang, Indonesia akan ikut membantu? Ah, boro-boro. Urusan 
dalam negeri saja, repot, apalagi ngurus orang lain.
Bravo Iran 


----- Pesan Asli ----
Dari: Maulana Raja Aisyana <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 29 Maret, 2007 2:47:15
Topik: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RI, DK PBB, dan Nuklir Iran

Ga usa jadi pahlawan kesiangan. Bahwa dengan membela Iran berarti melawan 
hegemoni Amerika. Ini logika biner yang menempatkan dunia ini hanya pada dua 
kekuatan, yaitu Iran (sebagai tertindas) dan selebihnya adalah sekutu Amerika 
(penindas). Sungguh pikiran yang naif dan simplistis. 

Penjelasan Dino sangat masuk akal. Reaksi DPR dan beberapa elit ormas Islam 
yang mempertanyakan dukungan RI atas resolusi sebenarnya terjawab dengan jelas 
dari tulisan Dino. 

Masalah Iran tidak ada urusannya dengan Islam. Ini masalah politik. Dan sekali 
lagi tak ada ruginya dengan mendukung resolusi tersebut. Kita buktikan nanti, 
apakah resolusi ini efektif atau justru meningkatkan tensi ketegangan global.

Kirim email ke