Sekedar sharing Kebetulan saya tinggal di perkampungan yang berseberangan dengan perumahan elite Pantai Indah Kapuk, hal yang saya lihat dan temukan adalah :
1. Ketika hari pertama kerusuhan melanda Jakarta (diawali dengan pembakaran pom bensin depan trisakti) keadaan di Kapuk masih aman-aman saja, belum ada ekses sama sekali. Karena malem itu saya sempat ke ATM salah satu bank di pasar PIK, dan antrean panjang sehingga ATM sempat kosong karena uang terkuras habis oleh nasabah.Tetapi sudah ada kemacetan di sepanjang perempatan kapuk raya yang menghubungkan cengkareng - kota 2. Pagi harinya (Kamis, 14 mei 98) kalau tidak salah. Seluruh kegiatan sebenarnya berjalan biasa hal ini ditandai angkot dan pekerja pabrik pergi seperti biasanya. Namun sekitar pukul 08.30, banyak buruh pabrik yang dipulangkan,sementara itu angkot dan metromini berhenti narik, sehingga terjadi penumpukan massa dijalanan sepanjang kapuk raya karena tidak ada angkot, sepanjang jalanan seperti lautan manusia. Konsentrasi massa terpusat di perempatan PIK, suasanya seperti tdk terkendali dan chaos, tiba-tiba ada isu jika toko bangunan di pasar darurat kapuk melawan dan menyiksa pembantunya. Nah inilah titik api pertama dilemparkan ke massa. Sehingga seluruh orang yang sedianya mau pulang kerumah (buruh pabrik & massa) jadi berbelok dan menyerang toko tersebut. 3. Ketika saya hendak melihat aksi massa tersebut, saya bertemu dengan wartawan photo bule di atas jembatan kali baru kapuk, dan sempat saya tanya anda dari mana? maksudnya majalah atau koran apa, dijawab asal negaranya USA,setelah itu tdk ada percakapan lagi karena situasi sangat rame oleh massa dan chaos. 4. Penjarahan di perumahan PIK terjadi sekitar mulai kira-kira pukul 11.00 siang hingga larut malam. Semua barang dijarah, seperti makanan snak, gula, beras, tabung gas, tv, kulkas, motor, springbed, dan benda berharga lainnya semua dikuras habis oleh penjarah, entah setan mana yang menggerakkan? Ada beberapa hal yg akan saya sampaikan sesuai dengan apa yang saya lihat di PIK: 1. Ketika penjarahan terjadi hampir seluruh rumah sudah kosong ditinggal oleh penghuninya, artinya tidak mungkin ada perkosaan disini! 2. Kalaupun ada penghuninya hanya para pembantu pribumi dan para sopir serta para satpam pabrik yg kebetulan disuruh jaga rumah bosnya yang tinggal di PIK 3. Sepenglihatan saya para penjarah hanya konsentrasi mengambil barang (Karena ketika hari H penjarahan saya dan pengurus RT mencari warga RT kami agar jangan ikuta-ikutan menjarah) 4. Pada hari Jumat, 15 April, saya pastikan PIK sudah aman dan terkendali karena dijaga oleh Pasukan seragam hitam-hitam lengkap dengan bedil peluru karet dan peluru tajam, hal ini saya katakan karena ada kesaksian tetangga yang akan ikut menjarah lagi pada hari jumat di PIK ditembaki dan terkena pecahan peluru karet di kakinya, sehingga di sempat trauma beberapa bulan kedepan, padahal dia laki-laki dewasa. 5. Hari Minggu, kami dan pengurus RT berinisiatif mengumpulkan barang jarahan warga kami untuk dikembalikan lagi ke PIK dan terkumpul ada sekitar 13 TV ukuran besar kecil dan berbagai peralatan lainnya, hal ini berkordinasi dengan RW dan Kelurahan KApuk. Akhirnya seluruh barang yang berhasil dikumpulkan dikembalikan lagi ke PIK. Karena ada isyu yang sangat meresahkan warga Kapuk, yaitu 'Isu balasan ingin membumihanguskan perkampungan kapuk' sehingga kami dan warga berinisiatif ronda malam hingga 1 bulan kedepan. tetapi nyatanya isyu tersebut hanya isapan jempol doang alis bohong. Inilah sekelumit pengalaman pribadi saya sekitar kerusuhan mei 98 khusunya di sekitar Kapuk. salam, moyo ----- Original Message ----- From: Yuni Anggreini To: [email protected] Sent: Monday, April 02, 2007 12:34 AM Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kebohongan Perkosaan Masal Mei 1998 Terungkap Sepanjang penglihatan saya ketika pulang dari kampus pada saat kerusuhan terjadi, saya sendiri tidak melihat adanya penyiksaan terhadap etnis tertentu. Yang saya lihat adalah banyaknya penjarahan dan pembakaran. Properti siapa yang dibakar? Ada orangnya atau tidak? Yang punya properti dilecehkan dulu atau tidak? Tidak terlihat oleh saya. Pada hari terjadinya kerusuhan Mei 1998, seorang sahabat pria saya yang bertampang sangat Tionghoa (sebutlah namanya A) mengantarkan kekasihnya pulang dengan selamat ke Cinere. Lalu karena tidak ada kendaraan umum, A pulang berjalan kaki, dan sampai tempat tinggalnya di Cipinang juga dengan selamat sentosa. Saya sangat bersyukur tidak ada yang menyakiti dia seperti yang dialami orang-orang lain yang juga berwajah khas keturunan Tionghoa (yang dibakar, lah, diseret dengan kendaraan hingga tewas, dan lain-lain). Teman baik lain, S, aktif membantu di sebuah pusat rehabilitasi pasca kerusuhan Mei 1998. Menurutnya, kejadian pemerkosaan massal itu nyata adanya. Dari segala apa yang dia pernah tuturkan, sampai saat ini pun saya yakin sekali teman ini berkata jujur. Hampir sembilan tahun berlalu, kasus ini belum juga jelas... salam pusing, Yuni
