Pak Edy,
Begitulah gambaran masyarakat kita, semrawut; ambur adul dan mau menang
sendiri. Juga kalau bersalahpun masih mengancam orang lain, tidak malah meminta
maaf. Alih-alih minta maaf, malahan mobil orang dipukul-in. Padahal pengendara
motor itu sendiri yang coba nyerobot dari kanan untuk belok kekiri. Dan
memaki-maki dengan kata-kata kasar. Jadi bagi saya makian itu adalah gambaran
si pengendara motor itu sendiri.
Sekali-kali, jika mau ketenangan, maka pak Edy harus pergi ketempat-tempat
yang tenang, naik gunung dan melihat-lihat petani menanam sayuran dan kentang
(seperti di Wonosobo), betapa tekun nya mereka dan tidak ada rasa
ke-tergesa-gesaa-an dalam menjalankan tanggung jawab nya bercocok tanam.
Rasanya sangat damai. Dan kalau ditanya berapa harga sayur sawi dan kol nya,
maka mereka akan memberikan harga yang amat rendah. Tidak ada rasa serakah dan
ngangah-angah didalam kehidupan mereka, yang membuat hati saya sangat
"trenyuh". Betapa jujur dan damainya para petani tersebut.
Andaikan saja para pemimpin kita ber tingkah laku seperti para petani di
Wonosobo, maka saya rasa Indonesia akan tenteram dan damai, dan semua rakyat
nya merasa "ter-ayomi" oleh para penegak bangsa ini.
Tetapi yang ada, penegak bangsa ini adalah sebaliknya, bertabiat seperti
pengendara motor di Jakarta, bukan? Serobot sana, serobot sini, mengancam dan
malahan merugikan masyarakat.
Salam,
Yuli
Edy P <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jelas-jelas begitu banyak warga masyarakat mengeluh atas perilaku
liar atau brutal atau istilah lain lagi yang bisa untuk menggambarkan betapa
tidak seharunya begitu para pengendara sepeda motor di jalanan, tapi kenapa
polisi kita tidak mengambil tindakan tegas. Apa karena pengendara sepeda motor
lebih banyak jumlahnya dibanding jumlah polisi yang menjadikan para polisi ini
takut mengambil tindakan tegas. Atau ada unsur pembiaran karena kalau ditindak
toh paling menunjukkan dompet kosong atau isi uang cukup untuk mengisi tanki
bahan bakarnya aja.
Saya sebagai pengendara sepeda motor juga merasa "trataban" dan "sport jantung"
kalau dipotong tiba-tiba, atau disalib tiba-tiba dengan suara klakson yang
sangat keras dengan berbagai variasinya. Dan anehnya, orang-orang itu
sepertinya bangga dan senang kalau ada orang lain kaget atau mati mendadak
karena serangan jantung gara-gara kekagetannya itu.
Kalau mau membaca karakter bangsa Indonesia, bacalah kesemrawutan jalan raya.
Itulah cerminan paling nyata. Tidak butuh survei dengan biaya mahal atau
ketakutan data tidak sahih. Menurut saya, fakta jalan raya adalah arena survei
murah...data valid atau sahih ... responden ada dari segala usia, tingkat
pendidikan, tingkat kemakmuran, dll.
Tolong donk jalanan ditertibkan. Saya yang mencoba tertib menjadi takut dengan
yang nekad-nekad itu (tapi tetap aja saya konsisten dengan tertib, sebab ini
adalah komitmen).
Salam