Rasionalitas manusia terbatas kalau dilihat dari kekuasaan Tuhan. Tapi siapa
yang bisa melihat kekuasaan manusia dalam perspektif Tuhan kecuali lewat
firman-firman-Nya. Sayangnya firman-firman ini dipakai oleh manusia untuk
menempatkan dirinya yang paling benar. Maka jadilah "perang" antar Tuhan
melalui baju agama.
Padahal manusia tetaplah manusia dengan segala relativitasnya. Begitu juga
dalam menafsirkan firman-firman Tuhan. Oleh sebab itu, tak ada yang berhak
menilai bulat lonjongnya Tuhan kecuali manusia dengan tingkat relativitasnya.
Di sinilah toleransi dan kesediaan untuk memahami pandangan (teologi) orang
lain diperlukan.
Tuhan mati, Tuhan hidup, Tuhan berkuasa, Tuhan lemah, Tuhan terikat oleh
firman-Nya dan sebagainya adalah persepsi-persepsi manusia tentang Tuhan.
salam
raja
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ini teologi, Bung, yakni iman yang di-logos-kan. Salah satu aspek
ilmu memang adalah theorizing. Nggak usah jauh-jauh, gerakan jari-jari tangan
dalam meraih dan menggenggam suatu objek, yang di mata kita tampak sangat
sepele itu, dalam cognitive science ternyata penjelasannya juga bisa jadi
sangat mbulet kok. Merembetnya bisa sampai ke mekanisme kerja otak segala,
bukan cuma urusan tangan semata.
Dibuat-buat? Entahlah. Hanya orang yang menguasai kekristenan dengan cukup
dalam yang bisa menilai apakah penjelasan di bawah ini dibuat-buat atau enggak.
Yang berabe adalah jika orang yang tak cukup memahami teologi Kristen lalu
menilai bahwa ini semua dibuat-buat.
Saya orang Kristen, tapi bahkan saya pu tak berani menilai sejauh ini karena
saya bukan ahli teologi. Ibarat punya tangan, saya cuma bisa mempraktikkan
menggunakan jari-jari tangan untuk memegang sesuatu, tapi tak berpretensi
mengerti mekanisme apa di otak yang memberi perintah kepada tangan untuk
bergerak sedemikian rupa. Saya punya tangan, tapi tak menguasai ilmu yang
mempelajari tentang gerakan organ tubuh. Saya punya iman, tapi tak mengerti
soal pengilmuan iman tersebut dalam wilayah teologi.
Anda sudah cukup mengertikah sehingga bisa menilai?
manneke