Sebelumnya, izinkan saya untuk menyampaikan satu hal, demi
menyamakan pemahaman kita secara umum terlebih dahulu:
Sikap "disiplin" bukan monopoli kalangan militer, jadi bagi seluruh
mahluk bermasyarakat, pengertian disiplin sebagai salah satu tujuan
dari proses pendidikan adalah sikap TERTIB dan TAAT terhadap ATURAN
yang telah merupakan KOMITMEN, baik itu UU, aturan Lalu Lintas,
Aturan Perusahaan, Persetujuan antar idividu, dll dll. Sedangkan
topik diskusi kita adalah "kekerasan sebagai methode pendidikan"
(yang konon untuk mewujudkan sikap disiplin). Kita setuju dalam hal
ini bukan ?

Saya hanya ingin menggunakan logika dalam menguraikan
beberapa fakta yang saya alami sendiri. Pertama, di beberapa negara
maju di eropa methode kekerasan didalam pendidikan telah diHAPUS
sejak berakhirnya perang dunia kedua. Kebetulan saya mempunyai
kesempatan belasan tahun terintegrasi dalam kalangan "produk methode
tanpa kekerasan" tersebut, walaupun methode pendidikan saya saat
kecil, seperti halnya yang lazim di sini (zaman saya belum ada
sekolah Montesouri?). Hasilnya, mereka jauh lebih disiplin dan
tertib dari pada saya yang selama belasan tahun itu hanya dapat
mengambil pelajaran dari lingkungan itu dengan cara KOMUNIKASI dan
MENIRU. Kedua, sejak belasan tahun terakhir saya memutuskan untuk
hidup serumah dengan hewan yang berpotensi tinggi untuk dikatakan
BERBAHAYA (berat lebih dari 50 kg, keliling leher nyaris 80 cm).
Setelah mempelajari dari sumber-2 yang kompeten secukupnya, baru
saya sadari bahwa satu-satunya cara untuk meminimize potensi bahaya
tersebut, adalah methode pengajaran yang TEGAS dan KERAS secara
terukur. Sebab bila tidak, bukan hewan yang menyesuaikan diri dengan
tuannya, melainkan sebaliknya !! Alias IMPOSSIBLE, karena itu bukan
niatan saya !!

Methode Komunikasi dan Pengertian tentu tidak akan
berfungsi dalam hal ini. Saya mohon dengan sangat, tetap fokus ke
topik kita, yaitu methode pendidikan atau pengajaran sehubungan
dengan kekerasan. Jadi tolong jangan dibelokkan, bahwa saya sedang
memanusiakan hewan atau menghewankan manusia. Untuk saya penting
contoh yang drastis ini, sebab Komunikasi tanpa kekerasan adalah
prioritas utama utk mencapai TERTIB pada MANUSIA, namun ada kondisi
yang mengharuskan lain. Btw, kemarin pihak militer telah
mengeluarkan statement, bahwa methode pendidikan di IPDN (terutama
apa yang kita lihat di TV) BUKAN methode pendidikan militer RI.
Begitu pula, korupsi berjamaah tidak harus merupakan produk
pendidikan Militer.

 Namun kita tentu dapat maklumi, bila kondisi "MANUT" atau yang pernah saya 
tulis "absolute hierarchy acceptance" itu terwujud di suatu kalangan pemegang 
wewenang, maka itu akan amat sangat menunjang pewujudan Korupsi berjamaah, yang 
kebetulan akhir-akhir ini terINDIKASI sangat marak terjadi dinegeri kita 
tercinta ini.

Salam,
Bodo


--- In [email protected], chairil sanie djailany
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya menangkap bahwa pak Bodo n pak Mulyadi dan juga rekan lain
yang senada, bahwa disiplin militer adalah suatu cara mendidik yang
sangat buruk kalau boleh tidak dikatakan sangat menakutkan.
>   Tapi saya tetap yakin rekan sekalian tetap dapat mengambil
manfaat dari metoda pendidikan disilplin kemiliteran bagi keperluan
di bidang lain, kecuali kalau rekan sekalian sudah secara membabi-
buta tidak mau melihat kebaikan yang dapat dihasilkan oleh sistem
pendidikan tersebut akibat trauma tertentu.
>   Coba kita lihat kenyataan HASIL dari metoda pendidikan disiplin
yang telah dilaksanakan dalam dunia pendidikan kita selama ini
terhadap para siswa sekolah (ada berbagai bentuk metoda yaitu dari
metoda baris-berbaris, upacara s.d. kepramukaan yang dilaksanakan
disekolah), hasilnya sangat berbeda dengan para siswa PASKIBRA yang
mendapat kesempatan pendidikan secara militer (dengan MODIFIKASI /
PENYESUAIAN sesuai kebutuhan).
>   Sejak kecil disekolah kita telah dicekoki dengan pendidikan
disiplin membentuk barisan untuk masuk ke kelas, upacara setiap
senin atau hari besar nasional, cerita-cerita kepahlawanan oleh guru
di kelas dan berbagai nasehat seperti disiplin buang sampah, tidak
ribut dikelas dan masih banyak lagi petuah kedisiplinan lainnya.
>   Saya berharap rekan sekalian berpendapat demikian bukan karena
trauma militeristik sehingga segala sesuatu yang berbau militer
adalah hal yang HARUS dijauhi.
>   Koruptor berjamaah di negeri tercinta ini bukanlah produk
pendidikan disiplin militeristik, tetapi adalah produk mental
berbangsa yang buruk, mereka melakukan korupsi bukan karena takut
dengan atasan atau sebaliknya (kelompok korupsi), tetapi memang
orientasi kapitalis negeri ini yang mengharuskan/mengiming-imingkan
mereka untuk melakukan korupsi ditunjang lagi dengan buruknya
penyelenggaraan negara, agar memiliki materi yang banyak dan dapat
menikmati kehidupan serba ada dalam pergaulan sosialnya.
>
>   Salam,
>   csd
>
>

Kirim email ke