Aggangku Karaeng Lompo Andi (seloroh), Apa yang Anda katakan memang BENAR tetapi ada juga yang tidak karena perkembangan zaman sekarang adalah sbb: 1) Rasa senasib bangsa Indonesia dengan NKRI-nya sudah sangat terancam oleh perpecahan yang diperjoangan agama tertentu. 2) Rakyat Kerajaan Arab, Maroko, Belanda,Denmark,Jepang, Thailand dsb yang berimigrasi kenegara lain, hanya nostagia saja terhadap bangsa dan rajanya tetapi sama sekali tidak merasa mempunyai ikatan lagi dengan tanah air apalagi rajanya. 3) Singapura malah senang, makin banyak rakyatnya yang pindah keluar negeri makin baik karena merasa pulaunya sudah tidak dapat mendukungnya namun malah kurang yang pergi sebab tidak ada negara lain yang WELL REGULATED( negatifnya OVER REGULATED daripada SIN). Wasalam, Wal Suparmo
--- In [email protected], "si_andi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Agak melenceng sedikit dari topik: > > Berbeda dengan raja zaman sekarang, Pak Wal, yang dibatasi dalam > monarki konstitusional. Peran raja bukan sebagai penyelenggara > pemerintahan, melainkan sebagai lambang negara. Raja menjadi semacam > perekat budaya yang menyatukan rakyatnya sebagai satu bangsa. > > Kalau untuk bangsa kita barangkali persamaannya adalah proklamasi 17 > Agustus. Yang merekat kita sebagai bangsa adalah pengalaman bersama > dijajah Belanda dan revolusi menuju kemerdekaan. > > Tidak semua bangsa "beruntung" memiliki sejarah revolusi menuju > kemerdekaan seperti kita. Jadi tanpa ikatan budaya pun kita, baik > yang di Sumatra maupun di Maluku, kita tetap merasa sebangsa setanah > air. Saya perhatikan negara semacam Singapura amat susah membangun > perasaan sebangsa itu dari rakyatnya karena mereka tidak punya > sejarah emosional dalam membentuk negara yang seperti kita ataupun > ikatan budaya sebagai saudara sebangsa seperti orang Thailand atau > Jepang. Kalau ekonomi Singapura sedang merosot, pemerintahnya selalu >
