Pak Wal, Haha saya Andi yang rakyat jelata, Pak. Bukan yang karaeng.
Bolehkah saya lancang menduga bahwa Anda tidak tinggal di Indonesia? Ungkapan Anda mengingatkan saya kepada koran-koran asing yang membesar-besarkan ancaman Islam radikal di Indonesia. Mereka lupa bahwa debat antara Indonesia yang Pancasila dan Indonesia yang Islam (saja) bukan terjadi baru-baru ini saja. Kita sudah berdebat bahkan sebelum kita merdeka, dan debat itu masih belum usai sampai sekarang. Selama 62 tahun itu, Pak Wal, Anda bisa melihat sendiri bangsa Indonesia masih tetap pada satu pilihan saja, Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Soal Singapura Anda juga terbalik. Pemerintah Singapura sedang mengupayakan bagaimana agar penduduknya bertambah sampai 6.5 juta orang (saat ini cuma 4 juta lebih sedikit) karena jumlah penduduk yang sekarang tidak memadai untuk semua kegiatan ekonomi yang tengah mereka rencanakan. Sementara itu rakyatnya sudah terlanjur berpikir super pragmatis. Begitu ada masalah ekonomi sedikit, rame-ramelah mereka beremigrasi ke Perth atau Vancouver. Sampai-sampai dulu PM Goh Chok Tong berkampanye Are You a Stayer or a Quitter? Itulah sebabnya saya merasa alangkah beruntungnya bangsa yang memiliki ikatan emosional terhadap tanah airnya seperti bangsa kita ini. Begitu banyak episode dalam sejarah yang hendak memecah-belah kebangsaan kita, tapi selama 62 tahun kita masih keukeuh memilih Indonesia kan? Andi --- In [email protected], "walsuparmo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Aggangku Karaeng Lompo Andi (seloroh), > Apa yang Anda katakan memang BENAR tetapi ada juga yang tidak karena > perkembangan zaman sekarang adalah sbb: > 1) Rasa senasib bangsa Indonesia dengan NKRI-nya sudah sangat > terancam oleh perpecahan yang diperjoangan agama tertentu. > 2) Rakyat Kerajaan Arab, Maroko, Belanda,Denmark,Jepang, Thailand > dsb yang berimigrasi kenegara lain, hanya nostagia saja terhadap > bangsa dan rajanya tetapi sama sekali tidak merasa mempunyai ikatan > lagi dengan tanah air apalagi rajanya. > 3) Singapura malah senang, makin banyak rakyatnya yang pindah keluar > negeri makin baik karena merasa pulaunya sudah tidak dapat > mendukungnya namun malah kurang yang pergi sebab tidak ada negara > lain yang WELL REGULATED( negatifnya OVER REGULATED daripada SIN). > Wasalam, > Wal Suparmo > > > --- In [email protected], "si_andi" <si_andi@> > wrote: > > > > Agak melenceng sedikit dari topik: > > > > Berbeda dengan raja zaman sekarang, Pak Wal, yang dibatasi dalam > > monarki konstitusional. Peran raja bukan sebagai penyelenggara > > pemerintahan, melainkan sebagai lambang negara. Raja menjadi > semacam > > perekat budaya yang menyatukan rakyatnya sebagai satu bangsa. > > > > Kalau untuk bangsa kita barangkali persamaannya adalah proklamasi > 17 > > Agustus. Yang merekat kita sebagai bangsa adalah pengalaman > bersama > > dijajah Belanda dan revolusi menuju kemerdekaan. > > > > Tidak semua bangsa "beruntung" memiliki sejarah revolusi menuju > > kemerdekaan seperti kita. Jadi tanpa ikatan budaya pun kita, baik > > yang di Sumatra maupun di Maluku, kita tetap merasa sebangsa > setanah > > air. Saya perhatikan negara semacam Singapura amat susah membangun > > perasaan sebangsa itu dari rakyatnya karena mereka tidak punya > > sejarah emosional dalam membentuk negara yang seperti kita ataupun > > ikatan budaya sebagai saudara sebangsa seperti orang Thailand atau > > Jepang. Kalau ekonomi Singapura sedang merosot, pemerintahnya > selalu > > >
