Harga minyak ketika itu cuma $3 per barel, Pak Haniwar. Mungkin kalau digalipun baru lama kemudian bisa untuk membayar utang. Boom minyak baru terjadi tahun 1970-an. Uang minyak ini oleh Suharto sebagian dipakai untuk pembangunan, sebagian dibiarkan dikorupsi bawahannya. Jadi bukannya tanpa manfaat.
Sebagai perbandingan, tahun 1960-an itu Nigeria lebih kaya dari Indonesia. Tahun 1970-an sama-sama menikmati boom minyak. Tahun 2006 ini kita 25 kali lebih kaya dari tahun 1965 dan 3 kali lebih kaya dari Nigeria. Andi --- In [email protected], Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > At 09:38 PM 4/24/2007, you wrote: > > >Utang luar negeri zaman Orla cuma USD 2.5 miliar, tapi itu sebagian > >besar utang pemerintah, dan untuk ekonomi berukuran "cuma" USD 5.5 > >miliar setahun. Saat ini ekonomi Indonesia berukuran hampir USD 290 > >miliar setahun, relatif terhadap utang yang USD 125 miliar. Itupun > >setengahnya utang swasta. > > Bandingkan dong dengankemampuan asset kita utk membayarnya... begitu minyak > nya kita gali dan dimanfatakn dgn benar pastilah USD 2.5 milyar nggak ada > artinya/ > > > >Apakah hidup sekarang lebih susah dari zaman Orla? Saya tidak pernah > >mengalami hidup zaman Orla, tapi pernah merasakan sakitnya inflasi > >75% tahun 1998. Entah bagaimana rasanya inflasi 600% seperti zaman > >Orla itu. > > Saya hidup di zaman itu... , nggak ada yg sakit.. krn kita semua > sependeritaan dan penuih dgn harapan krn asset yg masih tinggi... > > Dan saya bisa hidup dgn baik kok waktu itu , > > jurang kaya miskin kecil sekali. > > > >Apakah konfrontasi itu kebijakan yang benar? Sayangnya zaman > >Presiden Sukarno belum ada pemilihan presiden secara langsung. Kalau > >presiden saya sibuk konfrontasi menentang "imperialisme" yang entah > >apa hubungannya dengan kesejahteraan rakyat, sementara ekonomi dalam > >negeri tengah morat-marit, maka saya juga yakin tidak akan mudah > >diapusi dalam pemilu berikut; tidak perlu diajari. > > kalo sy tetap pilih utk nggak menggadekan asset asset kita.. dan , , lalu > morat marit itu apa... , kebanyakan orang tua spt sy yg mengalami masa > itu.. merasa.. bhw utk perbandingan sejajar dgn negara negara AAA waktu itu > kita nggak tergolong morat marit, sebaliknya dibandingkan denganbanyak > negara AA bahkan Afrika.. ya kita morat morat tertutama dgn hasisnya hutan > dan minyak kita tanpa manfaat. > > > Kalo mas ,nggak bisa diapusi ya baguslah, tapi peringatan Budhiarto.. cukup > tepat utk banyak orang.. > > > Salam > > Haniwar > > > >Terakhir, Australia dan New Zealand bukan "menganggap Inggris > >majikan". Mereka secara resmi di bawah kekuasaan Inggris. Sampai > >sekarang Ratu Inggris (lewat Gubernur Jenderalnya) masih berhak > >membubarkan pemerintahan di Australia dan New Zealand kalau dia mau > >(dan sudah pernah kejadian tahun 1960-an kalau tidak salah). > > > >Andi >
