Wah, Pak John...
Bukannya si Cho itu jadi sakit karena dia selalu melihat orang2 selalu 
hura2?
dan dengan kondisinya yang menjadiimigran dan harus hidup susah..
saya setuju dengan Mbak Anik,..
rasanya tambah mumet liat mal yang makin berjamur di kota jakarta ini...
bahkan sudah merambah sampai ke kota2 kecil...
yang berakibat pada akhirnya bangkrut..

toh, klo kita telusuri mal demi mal, maka pemandangannya akan tetap sama..
kita tetap akan menjumpai counter2 baju yang sama, counter2 toko kaset 
yang sama...
justru saya lebih suka jakarta ini lebih banyak pohon rimbunnya dari pada 
Mal..

Dulu, waktu kecil saya sering banget diajak orangtua saya untuk pagi2 
pergi ke kebon raya bogor,
sampai di sana kita bebas berlari2an, terus makan bersama di sana bareng 
dengan org2 laen..
bawa sepeda ke ancol, disana kita bisa keliling2..
atau hanya ke taman safari, dan taman mini...
kayanya seperti itu lebih indah buat saya..

Justru,mal membuat anak2 jaman sekarang menjadi lebih konsumtif..
mereka taunya mau apa2 tinggal beli di mall..
padahal, waktu kecil saya sering dibuatkan mainan dari bahan2 yang ada di 
rumah oleh saya..
mobil2an, layang2, panah2an..banyak deh...


From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of john simon
Sent: Thursday, April 26, 2007 9:46 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana

Saya kok kurang sependapat dengan opini Senor Enrique.
Dalam kondisi Indonesia saat ini, dimana tingkat pengangguran sangat 
tinggi,
makin banyak mal yang dibuka justru makin baik, karena bisa menyerap
lapangan kerja formal dan informal, menyumbang APBD, dll.

Bagi masyarakat urban Jakarta, mal justru telah berubah menjadi tempat 
untuk
bersosialisasi sekaligus berekreasi. Pengelola mal juga makin giat
menyelenggarakan event-event sosial dan budaya termasuk pentas musik 
gratis
yang dapat dijadikan wadah penyaluran kreatifitas seni anak-anak muda 
kita.

Saya bukan membela para pengelola mal. Namun jujur saja, kalau di Jakarta
misalnya dikeluarkan larangan membuka Mal di tengah kota, saya rasa kota 
ini
justru kehilangan pesonanya. Dan masyarakat yang tak punya hiburan (baca :
mal) justru berpotensi menjadi masyarakat yang "sakit", dan ekstrimnya 
bisa
saja berubah menjadi si Cho dengan aksi Virginia Tech Massacre-nya.

Salam.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke