Bung Manneke yang budiman,
Istilah bung untuk bukunya Pak Mochtar Riady lebih saya sukai ketimbang judul
aslinya. Pak Mochtar memberi judl bukunya Nanotechnology management style. Jika
yang dilihat adalah penempatan unit terkecil dalam aspek aspek management
sebagai faktor kunci dari suatu perform yang optimal dari sistem managemen yang
dibangun, mungkin lebih baij dan juga enak didengar jika digunakan istilah:
Nano Management. Namun Pak Mochtar lebih berusaha mengcopy struktur dobel
helixnya DNA serta menganaloginya dengan model management yang diterapkan.
Contoh contoh analogi lalu diberikan dalam managemen perbankan, managemen
pendidikan serta managemen usaha ritel. Ini buku yang lumayan menarik.
Tulisan saya dibawah sebenarnya tidak sangat serius walaupun sebenarnya
datang dari pemikiran yang sering menggoda saya namun belum pernah saya olah
secara serius. Saya sadari bahwa usaha untuk melakukan analogi antara suatu
sistem fisik atau sistem materi yang bersifat mekanik dengan suatu sistem
sosial akan sangat sulit. Namun kekhasan dalam mekanika kuantum yang bahkan
mampu mendekati pandangan2 transedental, serta juga ciri khas interaksi
interaksi energi tinggi yang menghasilkan efek efek non linear sehingga materi
pun bahkan dapat memberikan respon secara self organized terhadap suatu input,
seperti halnya respon dari suatu "organisma"..memang menantang untuk melihat
kemungkinan suatu analogy yang lebih luas, bukan saja pada managemen seperti
yang coba dilakukan oleh Pak Mochtar tetapi juga pada ilmu sosial yang lain. F.
Capra bahkan mencoba merumuskan padanan antara Quantum dengan filsafat timur.
Apa yang dijelaskan oleh pak Manneke tentang trend dalam ilmu sosial yang
melakukan riset pada aspek aspek mikro sebelum merumuskan secara makro tentu
saja sesuai dengan gagasan ini. Pertanyaan yang sangat praktis dalam konteks
Indonesia kontemporer misalnya: mengapa walaupun indikator makro ekonomi terus
menerus membaik, sejak masa MSP (jadi bukan baru membaik masa SBY) tetap saja
baik pada masa MSP maupun pada masa SBY perbaikan itu tidak mencerminkan
perbaikan secara mikro ? Apakah itu tidak berarti bahwa memang secara strategic
kebijakan tersebut bersifat macro oriented dan bukan micro atau lebih kecil
lagi nano oriented. Pertanyaan bisa diteruskan pada sistem politik, sistem
budaya dll.
Persoalan yang paling utama dalam melakukan analogi adalah defini nanoscale
dalam masing masing cabang ilmu sosial. Apa partikel terkecil yang memiliki
unit energi terkecil (quanta) dalam sistem politik, sistem budaya atau sistem
ekonomi ?
Saya kira gitu dulu untuk keisengan kecil jilid dua ini, bung Maneke.
Salam nanosolidaritas ( solidarity for small things ),
Irry
manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pemikiran yang amat kreatif dan menantang. Saya suka tulisan seperti
ini. Bisa Bung Irry jelaskan lebih rinci,persisnya bagaimana nanoscience ini
bisa diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya? Mochtar Riady, boss LIPPO,
pernah menerbitkan buku tentang nano management, yang mencoba menerapkan
nanoscience dalam ilmu manajemen.
Di dalam ilmu sosial dan budaya saat ini, ada gerakan untuk tidak lagi
melakukan riset yang bersifat makro atas suatu masyarakat dengan segala aspek
kehidupannya, melainkan lebih terpusat pada salah satu aspek spesifik saja.
Jadi, sifatnya lebih mikroskopik. Nantinya akan dilihat bagaimana temuan dari
riset atas tiap-tiap aspek mikro itu dapat mengatakn sesuatu yang rada umum
tentang struktur batin masyarakat tersebut. Apakah kira-kira ini sejalan dengan
pemikiran Anda, atau ada trend berbeda yang ingin Anda gagas?
Mohon pencerahan lebih lanjut, ya. Dan terima kasih banyak.
manneke