Betul salah satu kelemahan lulusan-lulusan sekolah kita adalah lemah dalam
presentation skill termasuk lemah dalam keterampilan bertutur-kata merangkai
argumentasi. Keterampilan diatas sebenarnya sama pentingnya dengan
keterampilan dalam menjawab soal-soal tertulis (apapun bentuknya),

Sistem masyarakat telah membuat orang (bukan hanya pelajar) terjebak kedalam
suasana dimana mereka jadi peserta pasif berkata dan berinteraksi, Seperti
yang pernah dikatakan ibu Ratih, kebanyakan tipe sekolah kita sama sekali
sangat kurang dalam mengadakan aktivitas dan yang memungkinkan setiap
individu "tergiring" menampilkan diri memperagakan, mempamerkan, menyajikan
dan mempresentasikan sesuatu didepan orang. Ini akibatnya mereka tidak punya
rasa percaya diri karena kurang pengalaman dalam berpresentasi berdialog dan
bertutur-kata dengan orang lain dalam acara resmi. Padahal ketika si pelajar
lulus sekolah dan siap masuk bursa pasaran tenaga kerja maka keterampilan
semacam ini sangat diperlukan. Orang yang hanya terampil menjawab soal-soal
diatas kertas hanya cocok menangi kerja-kerja dibidang tertentu saja. Tapi
sesungguhnya sangat jauh lebih banyak peluang kerja yang justeru memerlukan
keterampilan berdialog, berargumentasi, berkomunikasi dan berpresentasi.

Kaitan aktivitas baca buku dan kualitas dialog /presentasi sangat erat.
Orang yang kurang membaca tidak akan bisa menyajikan presentasi yang menarik
dan berbobot. Dia tidak akan terasah pula fikirannya dalam menjawab
persoalan-persoalan yang diajukan oleh para pendengarnya. Jadi dalam
kerangka seperti ini memang aktivitas membaca buku akan dengan sendirinya
meningkat kalau aktivitas harian masyarakat banyak bersinggungan dengan
keperluan mencari informasi. Bahasa presentasi berbeda dengan bahasa rumpi.
Dalam merumpi diwarung kopi orang bisa seenaknya melempar kata apaun karena
tidak ada beban moral, demam panggung dan tanggung-jawab. Di warung
kopi tidak ada beda antara serius dan dusta, antara ngomongin orang dan
berfikir untuk kemaslahatan. Masyarakat yang doyan merumpi tidak berarti
masyarakat yang potensial jadi mahluk terampil tampil kedepan berdialog,
berpidato dan memberi presentasi.
SH


On 5/3/07, Ratih Gandasetiawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>   Yth Pak Sulaeman,
>
> Ya memang dinegri kita ini sudah termasuk yang sangat
> menyedihkan untuk mengangkat minat baca atau aktiv
> baca pada anak. Permasalahannya terletak pada model
> ujian yang multiple choice.....pertama itu sebetulnya
> tidak manusiawi, dan kedua itu membuat anak malas
> membaca malah, mengaktivkan mereka menjadi "GAMBLER"
>
> Saya menjadi ingat sekali ketika saya kuliah dulu,
> dosen saya pernah berkata begini"Karena ujian kita
> dalam bentuk Multiple choice bila anda ingin "lulus"
> dengan baik. Maka tidak mungkin anda belajar hanya
> setengah2, malah lebih baik anda sama sekali tidak
> belajar atau anda harus secara mutlak mengingat semua
> isi buku kalian, sanggupkah anda????
>
> Karena memang yang diminta jawabannya adalah yang
> paling benar diantara yang benar.......Dan saya
> sendiri memutuskan untuk maju ujian tanpa belajar
> sedikitpun dari buku-buku atau materi yang saya punya
> dan ternyata.....akhirnya saya lulus meskipun tidak
> dengan baik, dan yang lebih parah lagi selesai ujian
> saya sama sekali tidak pernah tahu isi dari mata
> pelajaran tersebut.Saya rasa pasti abnyak diantara
> anda2 yang mempunyai pengalaman seperti saya, but who
> cares??????
>
> Dan saya juga mengulangi kata2 dosen saya pada anak2
> saya mereka ternyata juga lulus.....karena apa karena
> kita sudah menjadi "GAMBLER" yang ulung.
>
> Dan kapan saya mulai menyadari kebodohan ini ????
> Yaitu saat saya kuliah di LN ternyata di LN jarang
> sekali menggunakan multiple Choice karena memang itu
> adalah science yang harus dibuktikan melalui
> kata-kata, dari mana datangnya kata-kata yang ingin
> kita sampaikan, sehingga bisa membantu kita untuk
> menjelaskan science yang ingin kita buktikan itu ya
> melalui buku. Dan saya mulai rajin menggunakan
> perpustakaan...sejak itu minat baca saya terpacu.
>
> Meskipun anak-anak saya besar di Tanah Air dan saya
> menyadari dengan terlalu seringnya penggantian buku
> pelajaran yang juga merupakan salah satu penyebab anak
> menjadi malas belajar. Maka saya selalu ajak mereka ke
> pameran buku, atau bila saya pergi ke Mall untuk
> berbelanja maka saya suruh mereka menunggu saya di
> toko Gramedia untuk mengisi waktunya dengan mencari
> buku yang mereka sukai. Karena saya tidak memang saya
> tidak pernah menemukan perpustakaan yang nyaman di
> negri ini seperti yang di"luar" sana.
>
> Untuk itu saya berikan acungan jempol pada Gramedia
> yang telah membuatkan membuatkan celah agar anak-anak
> bisa dengan nyaman mencari buku yang disukainya.
>
> Sampai sekarang anak2 saya yang sudah menjadi dewasa
> dan kuliah di LN dengan mudah karena mereka
> beradaptasi cara belajar yang lebih menggunakan esay
> atau presentasi dimuka kelas.Mereka sudah terbiasa
> menggunakan "Perpustakaan" Gramedia dan kebetulan
> dengan adanya sekolah2 swasta yang sekarang juga sudah
> lebih menekankan penggunaan Esay dan cara presentasi.
>
> Meskipun demikian Pemerintah kita belum juga maju
> selangkah untuk mengubah sistem ujian ataupun model
> pendidikan yang nyaman bagi anak-anak didiknya
>
> Untuk itu saya juga ingin haturkan terimakasih saya
> pada pihak Gramedia tentunya, bahwa banyak anak
> mendapatkan kesempatan untuk mencari buku yang disuka
> dengan tidak dibatasi waktunya, anak-anak disitu
> dipersilahkan membaca dulu buku-buku yang ada disitu,
> hingga akhirnya mereka menemukan buku yang mereka
> sukai untuk dikoleksi sehingga bisa selalu dibaca
> kembali.
>
> Ini saya hanya mau sharing saja mengenai penyebab
> mengapa anak-anak Indonesia kurang berminat untuk
> membaca, juga bagaimana kita sendiri sebagai orang tua
> harus bisa mengatasinya.
>
> Salam dari Ratih

Kirim email ke