Oleh Muhammad Qodari
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/09/opini/3521297.htm
=========================

Hingga Senin (7/5/2007) pagi, peta reshuffle telah mengerucut pada
pergeseran tujuh menteri dan setingkat menteri: Menteri Sekretaris
Negara, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Perhubungan, Menteri Komunikasi
dan Informatika, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Menteri
Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Jaksa Agung.

Nama-nama calon menteri untuk mengisi kursi yang ditinggalkan itu pun
mulai jelas. Berturut-turut: Hatta Rajasa, Andi Mattalatta, Jusman
Syafii Djamal, Mohammad Nuh, Sofyan Djalil, Lukman Edy, dan Hendarman
Supandji. Hatta Rajasa dan Sofyan Djalil adalah muka lama yang
dirotasi. Sisanya wajah baru, yang baru kali ini menjadi menteri.

Dua strategi

Melihat pos-pos yang dirombak, tema reshuffle kali ini adalah
Reshuffle Polhukam dan Kesra. Sebab, hanya satu kementerian yang
terkait langsung dengan ekonomi, yakni Menneg BUMN. Ini kebalikan
dengan jilid I tahun 2005 di mana menteri yang diganti umumnya
berlatar bidang ekonomi. Sekadar mengingatkan, pos-pos yang dirombak
waktu itu mencakup: Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri
Keuangan, Menteri Perindustrian, Menneg Perencanaan Pembangunan
Nasional/ Kepala Bappenas, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi,
serta Menko Kesra.

Melihat perkembangan sejauh ini, kita bisa menafsir Presiden punya dua
strategi besar dalam melakukan perombakan. Strategi pertama ditujukan
ke dalam, yakni menyisihkan beban-beban yang potensial memperlambat
optimalisasi kinerja kabinet. Strategi kedua ditujukan keluar, yakni
memenuhi sentimen publik tentang perombakan dan restrukturisasi peta
dukungan partai politik di pemerintahan.

Tentang yang pertama, bandul yang bisa memperlambat percepatan kinerja
kabinet antara lain, pertama, menteri yang sakit; kedua, menteri yang
terkena kontroversi hukum; ketiga, menteri yang kinerjanya belum
optimal sehingga perlu diganti atau dirotasi ke tempat baru.

Soal status kesehatan, banyak yang menduga Menteri Dalam Negeri Moh
Ma'ruf, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, dan Menteri Pekerjaan
Umum Djoko Kirmanto akan diganti. Ma'ruf kini masih terbaring sakit
dan dirawat di Singapura. Juwono dan Djoko dikabarkan kena serangan
jantung berkali-kali. Namun, merujuk pernyataan Presiden, Jumat (4/5),
laporan tim kedokteran istana berkesimpulan Juwono dan Djoko masih
fit, sementara Ma'ruf masih bisa dipulihkan.

Soal kontroversi hukum, dua menteri yang paling banyak disorot, yakni
Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra dan Menteri Hukum dan
HAM Hamid Awaludin, tergusur dari posisinya. Sorotan publik dan media
terhadap dua nama ini amat intens. Pergantian dua nama ini bahkan
telah dijadikan "litmus test" oleh media dan pengamat hukum untuk
menilai keseriusan Presiden SBY menegakkan hukum tanpa pilih bulu.
Eksistensi keduanya di kabinet sering dikaitkan tudingan politik
"tebang pilih" SBY, terkait pemberantasan korupsi di negeri ini.

Soal penilaian kinerja, yang menarik justru sorotan terhadap para
menteri ekonomi yang tidak diganti. Sejumlah ekonom meminta agar
menteri-menteri ekonomi diganti karena kondisi ekonomi riil Indonesia
masih buruk. Mungkin Presiden memakai logika sebaliknya. Misalnya, tim
ekonomi dinilai sudah bekerja cukup baik sehingga bisa memperbaiki
ekonomi makro. Dengan landasan ekonomi makro itu, pekerjaan rumah
berikutnya bagi tim ekonomi adalah perbaikan sektor riil. Waktu akan
membuktikan apakah logika tahapan kerja semacam ini akan menunjukkan
hasilnya menjelang 2009.

Strategi ke arah luar

Kini kita coba baca strategi reshuffle SBY ke arah luar. Pertanyaan
apakah perombakan kali ini akan mampu meningkatkan popularitas
(approval rating) SBY, yang menurut survei LSI, Maret 2004, turun
drastis, harus menunggu hasil survei nasional berikut.

Dugaan sementara, dengan akumulasi harapan publik yang begitu tinggi
terhadap reshuffle, pelaksanaan reshuffle oleh Presiden akan memberi
harapan baru yang berakibat membaiknya popularitas SBY.

Hal ini bisa saja salah jika terjadi tiga hal. Pertama, publik tidak
cukup tahu telah ada perombakan kabinet.

Kedua, publik tidak puas dengan nama-nama menteri pengganti.

Ketiga, nilai dari perbaikan sektor ekonomi riil jauh lebih penting di
mata publik sehingga perombakan tidak cukup mampu mendongkrak kepuasan
publik.

Hal lain yang menarik soal reshuffle adalah komposisi menteri dari
partai politik dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Dari tujuh nama yang
menempati pos baru, tiga dari partai politik, sisanya dari nonpartai.
Partai Golkar mendapat satu tambahan lewat Andi Mattalatta. Partai
Kebangkitan Bangsa "dikembalikan" jatahnya dengan masuknya Lukman Edy.
Sementara Partai Amanat Nasional dipertahankan proporsi
keterwakilannya lewat Hatta Rajasa. Yang berkurang drastis adalah
Partai Bulan Bintang karena Yusril dan Abdul Rahman Saleh diganti.
Partai Persatuan Pembangunan juga berkurang, namun ini agak relatif
karena eks Menneg PPDT Saifullah Yusuf sebelumnya di PKB dan eks
Menneg BUMN Sugiharto sering diberitakan tidak lagi dekat dengan PPP.

Yang menarik dan penting dicermati dari dua kali perombakan kabinet
Presiden SBY dan presiden-presiden sebelumnya, seolah selalu terjadi
dilema antara unsur kompetensi-kinerja menteri dan keterwakilan partai
politik.

Memang agak naif untuk mempertentangkan keduanya. Menteri dari partai
harus punya kompetensi, sebaliknya menteri nonpartai harus mampu
menjalin komunikasi yang baik dengan partai politik sehingga mendapat
dukungan politik. Sistem pemerintahan kita memang presidensial, tetapi
selama Indonesia menganut sistem multipartai seperti sekarang,
perwakilan dari aneka partai politik masih merupakan hal yang niscaya.

Muhammad Qodari Direktur Eksekutif Indo Barometer (IB), Jakarta



Kirim email ke