Pemerataan pembangunan dan pendapatan ... saya setuju. Baik merata untuk
seluruh kalangan, maupun merata untuk seluruh wilayah.
Yang kaya merendah hati untuk peduli pada yang kekurangan.
Yang kekurangan jangan mencari perhatian orang lain dengan wajah memelas yang
dibuat-buat, melainkan harus aware dengan kondisi anda masing-masing berada
dimana, dan berjuanglah keras dengan kebahagiaan, jangan malas.
Aku sering melihat anak mengemis yang memelas dibuat-buat saat minta uang,
namun kemudian berlarian dengan tertawa-tawa setelahnya.
Aku juga sering melihat acara di TV dengan thema membantu yang kekurangan,
namun si penerima bantuan (entah disuruh oleh stasiun TV itu atau memang
keinginan si penerima bantuan sendiri) menampilkan wajah sangat memelas,
seolah-olah mereka tidak berdaya sama sekali.
Tapi saya juga pernah membaca, ada ibu yang berusaha menulis surat ke lembaga
dan majalah, untuk mendapat bantuan biaya untuk anaknya yang sakit, dan dia
tidak punya cukup biaya. Akhirnya surat itu (kalau tidak salah) dimuat oleh
majalah Parents Guide, dan akhirnya ia mendapat bantuan. Ini contoh berusaha
dengan bahagia ... saya pikir.
Atau juga masyarakat di suatu daerah yang menolak bantuan pemerintah karena
mereka merasa masih mampu untuk ber swadaya. Mereka hanya menonton saja acara
ceremony yang dilakukan dalam pemberian bantuan itu. (Saya lupa ini artikel
kompas tanggal berapa). Masyarakat ini juga smart saya pikir. Mungkin mereka
ingin agar bantuan itu diberikan kepada pihak lain saja yang lebih membutuhkan.
Jadi ada kalanya, kaum miskin pun harus diberdayakan, agar mereka tidak
menjadi malas dan menjadi bergantung di saat ada pihak yang memberi bantuan.
Apalagi jika mental mereka dalam mencari bantuan itu dengan kondisi mereka
malas, dengan berpura-pura atau berbohong, ataupun dengan cara memaksa dan
melanggar kesopanan. Karena hal-hal tersebut pastilah akan menyebalkan
sekitarnya. Mari kita bantu mereka supaya tidak bermental demikian, sehingga
tidak menyebalkan sekitarnya.
Dan mari kita bina diri kita masing-masing yang mampu dan kemaruk ini, agar
bisa lebih melihat ke dalam hati kita masing-masing dan berpikir "siapakah
saya", "darimanakah uang yang kudapat untuk hidupku", "apa yang harus kulakukan
dengan hartaku ini".
Jawaban yang berbeda-beda juga akan menunjukkan pribadi yang berbeda-beda.
Haruskah kita menista jawaban orang lain yang berbeda dengan kita? Tidak perlu!
Karena semua jawaban itu akan membawa hasil, akibat dan karmanya
sendiri-sendiri.
Bagaimana dengan jawaban diri anda sendiri???
bodo_kerlchen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nuwun sewu mbak yu ..
Kalau kita lihat di negara-negara yang "tertib", apakah ke tiga
faktor: tugas pemerintah, hak warganegara dan simpati sosial juga
saling berbenturan? Engga kan? Padahal "fundamen hitam diatas putih"
nya untuk negara yang "kurang tertib" ini tidak bisa dikatakan
mendukung benturan seperti itu. Ternyata memang masalah ini sangat
komplex, bagi negara tertib sekalipun. Saya sangat setuju dengan
uraian anda yang menurut saya tepat sasaran dan sangat jelas, juga
kata kunci sebagai salah satu akar permasalahan pun telah terucap,
yaitu "ketidak merataan pembangunan yang notabene pendapatan".
Menurut saya ini point yang terpenting, tanpa memprioritaskan itu
maka mengikis kemiskinan akan sia-sia. Namun, bila negara kita ini
benar-benar ingin bergerak menuju kearah mengupayakan itu, maka
permasalahannya akan jauh lebih komplex, malah mungkin untuk
sekarang ini nyaris mustahil terwujud. Buktinya, seperti yang anda
katakan, masih begitu banyak orang-orang "terkemuka" yang sangat
berminat menjadi Gubernur DKI. Mereka bukan golongan IQ rendah,
berarti mustahil mereka tidak paham akan hal ini, tapi mereka jauh
lebih paham bagaimana cara "menggaruk sampah masyarakat" itu
nantinya. Istilah apa lagi yang lebih pantas selain .. memalukan ..
Salam prihatin,
Bodo