Kita kagum atas prestasinya. Ayu, Dian dll telah mengungkapkan kekaguman itu. 
Namun ada hal lain yang lebih penting dari itu. Yaitu, bagaimana orang orang 
cerdas seperti ini dapat optimal menyumbangkan tenaga, pikiran dan 
kompetensinya bagi kemajuan bangsa dan masyarakat (bukan negara).
   
  Dalam beberapa kesempatan, saya bertemu, membaca atau mengetahui betapa 
banyaknya orang orang cerdas, putra nusantara, yang bekerja sebagai peneliti 
handal di negara orang. Semua hasil penelitiannya menjadi milik negara lain dan 
dimanfaatkan oleh negara lain. Di Silicon Valley, Bell Laboratories, Philip 
Laboratory dll. Mereka tidak kembali karena merasa yakin mereka tidak akan 
optimal mengembangkan ilmunya jika berada di negara ini.
   
  Penelitian Arief adalah dalam rangka disertasi program doktor dan dia berhak 
atas hak paten dari hasil penelitiannya. Ini merupakan suatu bentuk fairness 
dari institusi penelitian, tempatnya meneliti. Saya tidak tahu ada berapa 
banyak disertasi yang dikerjakan oleh peneliti kita dalam kerangka disertasi 
yang kemudian dipatenkan tetapi menjadi milik dari institusi, atau group riset 
atau bahkan Prof. Pembimbingnya. Mahasiswa kita mendapat beasiswa (bahkan ada 
yang bukan hibah tapi pinjaman lunak), meneliti di lembaga penelitian negara 
lain, dana beasiswanya dihabiskan di negara tersebut (dana pinjaman tetap 
dipakai dinegaranya), hasil penelitiannya menjadi milik mereka. Mahasiswa kita 
kembali dengan ijasah PhD, Dr.rer.nat, Dr.-Ing, Dr.Eng dll. (Arief lebih dari 
itu, dia kembali dengan ijasah dan sebuah paten..hak milik intelektual yang 
diakui secara internasional.)
   
  Tenaga tenaga cerdas tersebut, dengan kompetensi yang langka serta mumpuni 
kembali dengan semangat menggebu-gebu, kembali ke tanah airnya tercinta. 
Berbagai usulan dibuat dan diajukan ke atasannya. Tanggapannya umumnya sangat 
lambat. Bahkan ada yang tidak digubris, malah dipandang sebagai saingan baru 
yang bisa mengancam posisi atasannya. Jika atasannya cukup suportif, atasannya 
akan mencoba memperjuangkan gagasan gagasannya namun kemudian akan menghadapi 
rangkaian kendala birokratis dan kemudian dana. Yang tinggal adalah frustasi 
dari tenaga tenaga, putra putra terbaik bangsa yang frustasi. Jika ternyata dia 
dan atasannya berhasil meyakinkan the big bos, akhirnya ada dana yang turun 
untuk merealisasikan gagasannya, yang umumnya adalah meneruskan penelitiannya. 
Namun itu terjadi dua atau paling cepat satu tahun dari kepulangannya. Dalam 
iklim riset yang sangat pesat seperti sekarang ini, dimana 24 hours research 
activity dapat dilakukan dengan kerjasama lembaga lembaga
 riset dunia, waktu dua tahun sudah membuat putra terbaik ini ditinggalkan oleh 
kemajuan riset di bidangnya.
   
  Hal tersebut, tidak akan terjadi..jika kita konsisten pada penentuam 
prioritas bidang riset yang akan menjadi frontier technology atau third 
milenium technology dan memberi perhatian yang khusus pada tenaga tenaga 
langkah ini.
   
  Dalam contoh kita ini, alangkah baiknya jika Arief Indrasumunar langsung 
disediakan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk melanjutkan riset dalam 
bidang kloning tiga
gen dan mengembangkannya dengan obyek lain dengan metoda yang sama atau 
mengembangkan metoda metoda baru yang dapat diinsipirasi oleh mekanisme kerja 
dari metoda yang digunakan ini. Pengembangan metoda hanya mungkin oleh mereka 
yang sangat mahir menggunakanmetoda metoda sebelumnya.
   
  Manfaat yang didapat dengan penyediaan sesegera mungkin peralatan bagi Arief 
misalnya, adalah:
   
  1. Arief dapat segera melanjutkan risetnya sehingga bersama seluruh tim riset 
dunia di bidangnya, dia akan bergerak maju dari titik yang sama.
   
  2. Dia dapat membangun piramida riset grup dengan membimbing calon calon 
doktor, master bahkan s1 dalam riset grup yang segera dibangun untuknya. Jika 
dia terlalu muda untuk memimpin sebuah lembaga sendiri dan biayanya juga 
terlalu mahal, integrasikan saja peralatan itu ke lembaga riset suatu 
universitas (dalam contoh Arief pasti fakultas biologi) atau lembaga riset 
nasional (dalam contoh Arief mungkin Lembaga Eichman yang memfokuskan 
penelitian di bidang biomolekuler). Biotek dengan basis biologi molekuler 
adalah salah satu frontier technology terpenting. Dengan peralatan yang 
disediakan, Arief akan menjadi faktor multiplikator bagi peneliti peneliti 
lainnya di tanah air. 
   
  3. Jangan sedikit pun memasukan unsur diskriminasi dalam mendorong siapapun 
yang berprestasi...baik diskriminasi SARA maupun PN atau Swasta. Siapapun putra 
nusantara terbaik harus didorong agar optimal mengeksplor seluruh kemampuannya 
untuk kemajuan bangsa dan masyarakat.
   
  4. Jaman dulu dengan program yang diberi nama Staid, Habibie mengirim ribuan 
orang ke luar negri dan kembali mengantongi gelar gelar keren. Kita tetap saja 
ketinggalan, walaupun Habibie sudah yakin akan tinggal landas ehhh malah 
ketinggalan di landasan. konsep konsep seperti RUT (riset unggulan terpadu), 
hibah bersaing dll sudah dicanangkan. Tidak tahu sudah berapa dana yang 
dikucurkan dan gimana hasilnya bagi kemajuan industri kita.
  Yang pasti Menristek kita pak KK, yang anggota forum ini juga, seminggu yang 
lalu masih meributkan soal link antara riset dan industri kita. Jadi sejak 
berdirinya kementerian ini oleh pak Mitro sampai kini masalah ini tidak 
terselesaikan.
   
  Pak Kusmayanto mungkin sebaiknya mencerahkan kami semua mengenai masalah ini.
   
  Salam,
   
  Irry
   
   
  

Ambarini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Selamat, dan semoga bisa mengimplementasikan ilmunya di Indonesia 
sehingga semakin banyak orang pintar di negara kita

Ayu

Dian Kartika Sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ternyata banyak orang-orang 
Indonesia yang pinter ya .
Mudah-mudahan penemuan Arief ini berguna bagi orang banyak di Indonesia. 

salam 
dks




         

       
---------------------------------
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke