Bu Ratih...

Saya juga miris...kok solusinya HomeSchooling yg notabene di negaranya sono
karena letak geografinya yg tidak memungkinkan....apalagi untuk anak2
berkebutuhan khusus.....duh ngeri.....dan denger2 diknas juga sudah
mengucurkan dananya untuk HSer ini.

Apalagi dengan "kegagalan" UN tahun ini.....para HSer semakin gencar sekali.

Bukan berarti saya anti HSer...namun kalo di jadikan basis untuk solusi
carut marutnya pendidikan di endonesia apa tdk ada cara yg lebih baik.

Terkait kualitas Guru SD memang benar mengkhawatirkan menurut pengamatan
saya.

Kebetulan rumah di kampung di kelilingi SD Negeri.....boro2 mikirin kualitas
lah wong gedungnya saja masih ada yg bocor...namun skg dah agak mendingan yg
bocornya tinggal dikit...ini kl di kampung saya.....apalagi kl di luar
jawa...kl kata kang imam prasojo...wah...mengenaskan sekali kondisinya.

Gurunya masih mikir kreditan perlengkapan rumah...kreditan motor.....apalagi
dgn program sekolah gratis skg ini....bener2 kering....meskipun yg nakal
juga tdk sedikit.....buktinya dana BOS banyak yg masuk kantong.....ndak usah
di kampung....di bekasi sendiri.....kebetulan saya sering denger
radio.....saya suka mendengar keluhan masyarakat ...masih ada saja pungutan
macam2 di SD negeri...entah itu alasan untuk beli buku.....etc......

Mengenai keengganan untuk memperkaya keilmuannya yg di tulis Kompas ...ndak
juga,
Bamyak kok yg dari SPG kemudian meraih gelar S.Pd.....termasuk kakak saya
dan teman-temannya...apalagi sejak dipakainya angka kredit untuk kenaikan
golongan....mereka berlomba-lomba untuk belajar lagi meskipun sudah 2 atau 3
orang anak yg mengendolinya....dan saya tetep berkhusnudzon....bukan semata2
ingin mencapai angka kredit saja...tp ilmu yg bermanfaat juga buat anak
didiknya.

semoga

salam,
bapakeghozan


----- Original Message ----- 
From: "Ratih Gandasetiawan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; "Beta Hermano"
<[EMAIL PROTECTED]>; "yana fik" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, May 17, 2007 12:26 PM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Mutu Guru SD Memprihatinkan


> Dear Rekan2 FPK,
>
> Menyikapi tulisan  di koran Kompas mengenai "Kualitas
> dan mutu guru sekolah di Indonesia" masih rendah. Saya
> sebagai pribadi yang belum pernah terjun di dunia
> pendidikan guru di Indonesia tentunya tidak dapat
> mengkomentari mengenai kurikulum pendidikan yang
> seperti apa mereka(Guru) terima. Hanya tentunya saya
> sebagai "Pemakai" tenaga pendidik saya sangat
> mengutamakan kepribadian seorang pendidik sebagai cara
> untuk menilai kualitas dan mutunya Pendidik sebelum
> saya tempatkan mereka.
>
> Ternyata saat wawancara awalpun mereka yang ingin
> bekerja di tempat saya, anehnya yang banyak
> tergelincir malah yang lulusan dari Ilmu Pendidikan
> Guru.
>
> Awalnya saya pun ragu menerima tenaga pengajar dengan
> lulusan D 3 (Terapis) untuk dipadukan dengan tenaga
> psikolog untuk mendidik anak-anak dengan kebutuhan
> khusus pada usia dini. Yang tentunya mereka harus
> mempunyai skill tertentu dan juga ke"mampuan"
> kepribadian yang specifik yang saya pilih untuk bisa
> saya tempatkan sebagai tenaga pendidik usia dini tadi.
>
> Karena saya lebih mengutamakan kualitas dan mutu maka
> saya memberanikan diri tanpa melihat jurusan yang
> mereka jalani melainkan, lebih ke Kreatifan, interaksi
> sosial dan personalnya, dan pola pikir mereka yang
> saya jadikan acuan untuk memilih tenaga pengajar di
> tempat kami.
>
> Karena menurut penilaian saya, justru malah tenaga
> guru yang di luluskan dari Jurusan Ilmu pendidikan
> guru. Mereka rata-rata sulit berinteraksi, intuitifnya
> kurang, sangat tidak trampil dan tidak kreatif. Pola
> pikirnya cenderung konservatif, kurang mempunyai
> inisiatif untuk berkembang. Dan rata-rata mereka
> kurang paham akan masalah perkembangan anak padahal
> ini sangat dibutuhkan bila ingin bekerja di dunia
> pendidikan anak. Umumnya Sarjana pendidikan lulusan
> negri kita ini sangat teoritis.....tidak peduli
> lingkungan, wawasan terbatas,kurang mengetahui
> literatur anak....terpaku pada rambu-rambu aturan main
> perusahaan....tidak kritis, dan kurang dapat
> mengembangkan ilmunya menjadi ilmu yang modern dan
> positif.
>
> Pendek kata mereka sangat sangat takut berbuat
> "Kesalahan" sehingga selalu ragu-ragu dalam
> meng"eksplor" dunianya, lingkungan hidupnya dll.
> Mereka lebih cenderung bergerak seperti siput (Slowly
> but Sure) atau dengan arti kata lain takut akan
> tantangan dan selalu mencari rasa aman, sehingga
> ragu-ragu dalam mengambil sikap untuk memperbaiki atau
> mengembangkan sesuatu atau memang karakter yang sudah
> ada ini yang di inginkan oleh Pemerintahan
> kita?????.Padahal ini semua membuat kepribadian
> seorang Guru, Real Guru sama sekali tidak terbentuk,
> seperti ramah, tapi tegas, konsisten, mau
> berkembangan, mawas diri, bisa mengeritik dan
> dikritik, kreatif, bertanggung jawab dengan apa yang
> dilakukan, bisa mengambil keputusan disaat yang tepat,
> terutama bisa mengatasi permalasahan dengan cara yang
> terdidik, mampu bekerja secara teamwork dengan bidang
> lain, tidak mengkotak-kotakan teman kerja.
>
> Dan tanpa kepribadian seperti itu akan sangat fatal
> bila di terima untuk mengajar dan membentuk
> kepribadian pada anak.Bukankah tugas guru bukan hanya
> sekedar mengajarkan ilmu, tetapi juga harus ikut
> bertanggungjawab dalam pembentukan kekpribadian anak
> yang sesungguhnya. Bukankah ada peribahasa yang
> mengatakan : Guru kencing berdiri, murid kencing
> berlari"? Berarti kan disini Guru selalu dinilai
> sebagai Panutan murid2nya....jadi bagaimana guru bisa
> menjadi panutan bila kepribadian mereka sendiri sulit
> untuk berkembang?????
>
> Ya tidak heran lagi bila masyarakat di Indonesia
> menghadapi globalisasi, saat ini lebih memilih Home
> Schooling sebagai alternatif baru dalam bidang
> pendidikan.Padahal untuk memilih jalur ini banyak hal
> yang patut didiskusikan dan juga diperhatikan agar
> kelak perkembangan pribadi bangsa ini tidak Stagnan
> atau berjalan ditempat saja.Ini akan menjadi Fatal
> bagi kita semua.
>
> Salam Ratih
>

Kirim email ke