Saya kira opini kita tidak banyak bedanya. Dengan mngatakan bahwa kekerasan
bukan monopoli laki laki dan wanita bukan pemilik satu-satunya dari wanita,
jelas cocok dengan pernyataan bahwa patriarki bukan persoalan jenis kelamin.
Tidak perlu jauh ke India. Ketika Mega naik jadi presiden banyak teman teman
aktifis gender tegas mengatakan Mega tidak memiliki paradigma gender bahkan
Mega lebih dekat ke Maskulinisme ketimbang feminisme. (Lebih tegas lagi, dia
cenderung lebih dekat ke militer daripada pada kekuatan masyarakat sipil.).
Saya tetap kuatir jika paradigma feminisme yang ultraliberal itu mempengaruhi
gerakan feminis di tanah air. Tidak mengapa toh, saya berhak untuk kuatir.
Tentu saja sekaligus bersyukur bahwa ada orang seperti anda, bung Maneke dll
yang memberikan optimisme bahwa feminisme yang diperjuangkan di tanah air tidak
dengan versi itu.
Saya kira dengan ini, saya ingin mengakhiri diskusi dalam tema ini. Terima
kasih atas berbagai masukan dari ibu dan juga dari bung Maneke juga Nana P yang
menstimulasi diskusi ini dengan postingnya.
Salam, Irry
Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya malah bukan lagi orang yang melihat persoalan patriarkhi
berdasarkan jenis kelamin, maskulin dan feminin. Misalnya, banyak pula
patriarkhi yang tertancap di kepala perempuan. Misalnya kasus mertua perempuan
dengan
mantu perempuan di India, yang banyak membuat mantu perempuan
dijadikan manusia domestik dan pabrik anak dan sering mengalami
kekerasan oleh mertua perempuannya. Itu berarti biar jenis
kelamin perempuan tetapi bisa juga menjadi agen patriarkhi.
Soal Kekerasan dalam rumah tangga yang dibawa ke publik, saya pernah
ke Ambon dan mengikuti bagaimana kerja Polwan menangani pasangan
suami-istri. Istri yang disirami air panas di wajahnya mengadu
suaminya kalap mengejar-ngejar dia. Si istri merasa mengadukan ke
polisi sebagai pencarian perlindungan terhadap dirinya. Dia masih
ingin menjalankan kehidupan bahagia bersama suaminya.
Yang terpenting, saya suka sekali dengan Polwan yang menangani ini di
RUang Pelayanan Khusus Perempuan di AMbon, yang penuh empati dan
banyak memberikan informasi pada si korban. Selain itu pihak suami
juga dipanggil dan dinasihati bahwa keluarga itu tidak saling
menyakiti dan lihatlah istrimu wajahnya penuh luka, katanya. Apakah
seperti itu dalam berkeluarga? Polwan ini sangat komunikatif seperti
seorang konsultan keluarga.
Esoknya, suaminya ternyata kumat lagi, istrinya dipukuli lagi,
akhirnya polwan tersebut harus bertindak menangkap sang suami karena
telah menganiaya, dan memberi perlindungan pada istri.
Intinya, yang penting adalah pihak aparat, bagaimana menangani kasus
kekerasan dalam rumah tangga, yang tujuannya justru untuk
keharmonisan, bukan ditakuti sebagai intervensi yang menambah runyam.
Karena tanpa keterlibatan hukum, saya yakin istri itu sudah mati dari kemarin.
Dan tak ada pula orang yang akan mengenangnya.
Mariana