Terlepas pro dan kontra dari pembangunan PLTN tersebut, saya melihat bahwa 
pembangunan PLTN di Indonesia ini bagai memakan buah simalakama. Maju kena, 
mundur kena. Penilaian saya pribadi, PLTN mempunyai banyak keuntungan dibanding 
kerugiannya. Memang sangat susah untuk meng-educate masyarakat, menjadikan 
masyarakat paham apa itu PLTN. Mungkin yang ada dipikiran masyarakat, PLTN 
diidentikan dengan "BOM" yang meledak di hirosima dan Nagasaki, atau kecelakaan 
fatal di chernobyl. Padahal didunia ini banyak sekali PLTN yang beroperasi dan 
semuanya aman aman saja tuh.

Sedikit informasi saja : 1 gram uranium melalui reaksi fisi akan menghasilkan 
energi yang setara dengan 3 metrik ton batubara. Bayangkan efisiensi yang bisa 
didapat dengan PLTN. Ini salah satu contoh saja...

Konon sewaktu para anggota DPR berkunjung ke Negeri Ginseng beberapa waktu yang 
lalu, mereka menanyakan bagaimana cara yang terbaik untuk meyakinkan masyarakat 
agar yakin bahwa dengan pembangunan PLTN akan membawa kepada kemaslahatan ummat 
manusia.

Ini hanya sekedar komentar dari orang yang sedang belajar nuklir.

Salam
CH - SeouL

Zakariyya El Anshariyy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
   
       Dialog Marem Jepara    MENGGALANG SIKAP ANTI PLTN SEMENANJUNG MURIA  
        
       Jepara-   Rencana pembangunan PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) 
Semenanjung Muria,  di  Ujung Lemah Abang, Jepara, semakin mendapatkan 
tentangan. Bahkan sikap  penentangan ini mulai dilakukan secara terbuka. 
Khususnya oleh  masyarakat Jepara, sikap penentangan ini mulai digalang secara 
nyata.
        
         Hari  Sabtu (19/5) kemarin, sekitar 200 orang yang terdiri dari tokoh 
LSM,  Tokoh Agama, tokoh masyarakat dan tokoh ormas serta tokoh politik,  
menyatakan sikap penolakan atas rencana pemerintah untuk membangun PLTN  di 
Jepara. Sikap tersebut terbentuk dalam sebuah acara dialog yang  digelar oleh 
LSM Marem (Masyarakat Reksa Bumi) Jepara. 
        
         Ketua  LSM Marem Jepara, Lilo Sunaryo menyatakan, kegiatan dialog 
tersebut  memang sengaja dilakukan untuk menjaring aspirasi masyarakat terkait  
akan dibangunnya PLTN di Jepara. Melihat sikap masyarakat Jepara yang  pada 
kenyataannya menolak, pihaknya menyatakan siap untuk terus maju  menyuarakan 
sikap penolakan.
        
       "Tanggal 5 Juni, bertepatan dengan peringatan hari bumi, kami akan 
mengerahkan ribuan   massa  ke lapangan untuk menyatakan sikap penolakan ini 
secara terbuka.  Nuklir, secara sosial budaya dan ekonomi atau dari sudut lain, 
lebih  banyak memberi ancamannya," ujar Lilo memberikan pernyataan, usai acara.
        
         Dalam  dialog yang berlangsung sekitar 4 jam tersebut, tidak ada 
satupun  peserta yang menyatakan dukungan atas program tersebut. Ketua HSNI  
(Himpunan Serikat Nelayan Indonesia) Jepara, Sudiyatno pada kesempatan  
tersebut menegaskan, rencana pembangunan PLTN tersebut lebih baik  dibatalkan  
Biaya untuk membangun PLTN yang mahal, lebih baik diarahkan untuk pembangunan 
lainnya yang lebih bermanfaat. 
          
       "Pembangunan  PLTU Tanjung Jati B saja menimbulkan dampak luar biasa 
bagi nelayan.  Akibat pembangunan itu sekitar 160 hektar perairan tidak 
diperbolehkan  untuk dijadikan daerah operasi nelayan. Lha kalau kemudian PLTN 
jadi  dibangun berapa lagi lahan yang tidak boleh dijamah oleh nelayan,' ujar  
Sudiyatno memberikan alasan penolakannya.
          
       Sementara  itu H. Wahyudi, salah seorang tokoh NU di desa Kembang 
Jepara,  menandaskan pihaknya berharap ada penjelasan berimbang mengenai 
masalah  Nuklir ini. Informasi tentang Nuklir diharapkannya bisa diberikan  
secara menyeluruh, baik dampak negative ataupun positifnya. Jangan  sampai 
masyarakat dibuat bingung dengan informasi yang simpang siur  seperti saat ini.
        
       "Masyarakat  harus bisa memutuskan hal ini atas dasar rasa paham pada 
dirinya.  Menerima dengan "paham" atau menolak dengan "paham". Itu yang perlu  
dalam hal ini," tegasnya. 
        
       Dari 200 peserta, hampir seluruhnya ikut menanda tangani Piagam 13 yang 
berisi penolakan terhadap PLTN Semananjung Muria.    Mereka  memberikan tanda 
tangannya di kotak penolakan. Sedangkan di kotak  menerima, tidak ada satupun 
yang menanda tangani. Sebagian kecil  peserta memang ada yang tidak memberikan 
tandan tangannnya. (dis)
   

Kirim email ke