Dear All,

Diskusi cukup Ramai di Forum dan bahkan KOMPAS
beberapa hari ini, punya pelbagai sudut pandang.
Pertanyaan: AR pahlawan atau (maaf) Pecundang?

Analogi ini dibuat. Kelima kontestan ini adalah
finalis salah satu kejuaraan Voli Pantai. Kelima
pasangan, tidak soal berapa besar-kecilnya, sama-sama
sepakat menggunakan zat-zat doping untuk dapat tenaga
yang dalam pertandingan. Keluar salah satu duet
pemeenang voli Pantai.

Kemudian hari, ternyata bocorlah ke publik bahwa
kelima duet Voli Pantai menggunakan doping. Nah,
silahkan berinterpretasi lebih untuk kasus "SUMBANGAN
RD dari DKP" ke para Manta Cawapres dan tentu (kalo
juga benar) "pemenang duet voli pantai". 

Bung Irry sudah memberikan gambaran, bahwa mungkin
akhirnya Rokhmin Dahuri akan memikul sendiri bebannya.
Pengakuan Amin di mata sementara orang sebagai
Pahlawan, sebagian sebagai Pahlawan Kesiangan, dan
sebagian lagi menganggap Pecundang/Pengecut!

Dalam filosofi hukum Pidana, Pengakuan Amien Rais
hanya dapat mengurangi/meringankan ancaman hukuman
atas tindak pidana, karena sudah diakui dan adanya
alat bukti, NAMUN TIDAK MENIADAKAN. Jadi, tersangka
dan siap dipenjara? Better Later, than Never, Sir!
Sorry! 

wassalam,

berthy b rahawarin



--- Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Tentu saja kita bebas berpendapat dan memiliki
> persepsi apapun, itu hak saudara Patrick untuk
> beropini seperti itu. Fakta yang ada, setelah RD dan
> stafnya yang ikut diperiksa mengatakan ada dana DKP
> ke capres, tidak ada capres yang segera menanggapi
> kecuali AR. Setelah AR mengaku, baru SBY lewat Andi
> menanggapi, Mega lewat Pramono menanggapi, Hasyim
> Muzadi menanggapi, Siswono dan juga Sarwono
> menanggapi. Terakhir Akbar Tanjung soal dana ke
> Golkar dan ke tim sukses Wiranto. Itu faktanya. Kini
> malah berkembang ke wacana fitnah memfitnah.
>    
>   Mengharapkan kejaksaan, toh sudah ditegaskan oleh
> jaksa penuntut bahwa mereka tidak akan mengusut soal
> kemana larinya dana..siapa penerimanya. (padahal
> sudah ada yang mengaku...apalagi jika tidak ada yang
> mengaku). KPK mengatakan itu bukan wewenang dia,
> tidak masuk dalam tugas dia. Timtas Tipikor tidak
> jelas lagi kiprahnya setelah Hendarman jadi Jaksa
> Agung, apa dibubarkan atau Hendarman merangkap
> jabatan..tidak jelas lagi. Selain itu, sudah pernah
> didiskusikan di forum ini, syaratnya agenda politik
> dibalik langkah pemberantasan korupsi ini.
>    
>   Kita mengharapkan bahwa setelah Amien Rais
> menyebutkan bahwa capres lain juga menerima bahkan
> juga menerima dana dari luar negeri, yang dilakukan
> adalah kepala negara memerintahkan kapolri untuk
> menyelidiki hal tersebut. Mekanismenya rasanya tidak
> usah yang susah susah. Cek daftar penerima sumbangan
> di DKP (jika ada kuitansinya lebih baik lagi),
> panggil dan periksa dia atas dasar apa atau sebagai
> apa dia menerima sumbangan tersebut...dst sehingga
> masalah ini terus berkembang, siapa tahu bisa
> diungkap. Jika ada indikasi pelanggaran UU
> tingkatkan penyelidikan ke tahap penyidikan dan jika
> makin jelas...temukan tersangkanya. Dalam soal dana
> luar negeri, perintahkan PPATK untuk membuka akses
> datanya ke Polri dst. Jika dalam penyelidikan tidak
> ditemukan apa2 baru pernyataan tentang fitnah, wajar
> dikeluarkan.
>    
>   Saya melihat, bahwa potensi masalah itu dapat
> bergulir, dibuka atau distimulasi oleh pengakuan
> Amien Rais. Bahwa anda tidak melihat itu atau
> melihat itu tapi tidak mengakuinya, silahkan
> saja...itu hak anda. Ingat lho, saya tidak masuk ke
> perdebatan mengenai motivasinya melakukan
> pengakuan....juga tidak masuk ke basis moral yang
> melatar belakangi pengakuan itu.
>    
>   Yang terakhir, rame ramenya kasus ini...bukankah 
> telah mulai membuat kita atau publik agak lupa soal
> pencairan dana Tommy ? Apa yang Hendarman lakukan
> thd Hamid Awaludin dan Yusril ?
>    
>   Tiba tiba kita dikejutkan dengan dibukanya kembali
> kasus BPPC. Mengapa kasus lama ini dibuka kembali ?
> Substansi kejahatannya atau ada motivasi lain ?
> Konon ada dana yang totalnya 60 juta Euro milik
> Tommy yang mau direbut kembali.
>    
>   Salam, Irry

Kirim email ke