saya rasa analoginya kurang tepat.
pemain voli tahu penggunaan doping dilarang.

sementara dalam kasus DKP, (i) belum ada kepastian apakah ada
kesepakatan antara para capres/cawapres untuk menerima dana DKP, (ii)
kita belum tahu juga apakah mereka tahu bahwa dana yg mereka terima
itu dana haram.

AR pahlawan atau pecundang?
IMO sih dia bukan pahlawan dan juga bukan pecundang. saya melihat dia
sebagai orang yg tidak mau sengaja berbuat suatu kesalahan. ketika dia
terpeleset (yg bisa terjadi pada siapa saja) dia mengakui kesalahannya
walaupun konsekuensi yg dihadapi cukup berat.

AR pengecut? bisa dijelaskan letak kepengecutan dia dimana?

--- In [email protected], Barnabas Rahawarin
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear All,
>
> Diskusi cukup Ramai di Forum dan bahkan KOMPAS
> beberapa hari ini, punya pelbagai sudut pandang.
> Pertanyaan: AR pahlawan atau (maaf) Pecundang?
>
> Analogi ini dibuat. Kelima kontestan ini adalah
> finalis salah satu kejuaraan Voli Pantai. Kelima
> pasangan, tidak soal berapa besar-kecilnya, sama-sama
> sepakat menggunakan zat-zat doping untuk dapat tenaga
> yang dalam pertandingan. Keluar salah satu duet
> pemeenang voli Pantai.
>
> Kemudian hari, ternyata bocorlah ke publik bahwa
> kelima duet Voli Pantai menggunakan doping. Nah,
> silahkan berinterpretasi lebih untuk kasus "SUMBANGAN
> RD dari DKP" ke para Manta Cawapres dan tentu (kalo
> juga benar) "pemenang duet voli pantai".
>
> Bung Irry sudah memberikan gambaran, bahwa mungkin
> akhirnya Rokhmin Dahuri akan memikul sendiri bebannya.
> Pengakuan Amin di mata sementara orang sebagai
> Pahlawan, sebagian sebagai Pahlawan Kesiangan, dan
> sebagian lagi menganggap Pecundang/Pengecut!
>
> Dalam filosofi hukum Pidana, Pengakuan Amien Rais
> hanya dapat mengurangi/meringankan ancaman hukuman
> atas tindak pidana, karena sudah diakui dan adanya
> alat bukti, NAMUN TIDAK MENIADAKAN. Jadi, tersangka
> dan siap dipenjara? Better Later, than Never, Sir!
> Sorry!
>
> wassalam,
>
> berthy b rahawarin

Kirim email ke