saya kira yang cengeng dalam hal ini adalah pemerintah Indonesia 
bukan pengusaha. Pengusaha yang mahir adalah pengusaha yang mau 
meraup keuntungan sebanyak2-nya, kalau pengusaha tidak memiliki 
sentimen dan bakat untuk membuat keuntungan yang berlipat ganda maka 
lebih baik pengusaha tersebut memecat diri-nya sendiri alias jangan 
berusaha.

Naik turun-nya nilai uang di satu negara akan perpengaruh positiv 
dan negativ, ketika nilai naik maka berpengaruh jelek terhadap 
export, begitu juga sebaliknya ketika nilai turun akan berpengaruh 
jelek terhadap export. 

Di sinilah kehadiran pemerintahan pada satu negara sangat di 
perlukan, agar menjaga kesetabilan ekonomi, berani mengambil langkah 
untuk perlu atau tidak-nya meningkatkan atau menurunkan suku bunga 
perbankan di seluruh negeri pada sat tertentu tanpa ada tekanan dari 
pelaku usaha(pengusaha)

Nilai alat tukar Indonesia bagaikan daun2 yang berjatuhan di musim 
rontok, bahkan malah cendrung kembali ke model bisnis sebelum 
manusia menciptakan alat tukar(barter) sebakul beras di tukar dengan 
sebakul uang persis seperti di Afganistan pikul uang pakai kuda.

Kalau pemerintah masih terus  malu2 untuk menata sistim perbankan 
dan sistem perpajakan di Indonesia maka sangat mungkin RUPIAH akan 
menjadi kertas yang tak berharga karena nilai kertasnya akan lebih 
mahal daripada angka yang ada di dalam-nya.

Di negara maju yang produktivitas sumber daya baik alam,manusia 
maupun teknologi-nya sangat cepat dan tinggi pemerintahnya harus 
cekatan untuk membuat terobosan baru untuk memperlambat inflasi baik 
dengan peningkatan suku bunga bank maupun membuat produk2 baru dalam 
sistim perpajakan mereka.

Di negara2 yang sekarang sedang sehat ekonominya seperti Swedia, New 
Zealand dan Australia sebagai contoh kecil, negaranya mengambil 
hampir 50% dari hasil bersih usaha pengusaha . Kalau ini di terapkan 
di Indonesia maka hasilnya ada dua, pengusaha menangis atau perang2-
an di jalan. Di mana persatuan dan kesatuan??. Kalau saja 
transparansi di bangun dan di tata di indonesia bisa saja di masa 
yang akan datang pengusaha rela membayar pajak banyak yang penting 
jelas kemana uang negara pergi. apa gunanya bayar pajak tinggi kalau 
jalan2 negara saja rusak, apalagi jalan propinsi, kabupaten dst.

Di negara yang ekonominya sehat bahkan bukan saja pajak yang di 
wajibkan kepada pengusaha tapi juga pengusaha wajib membayar 10% 
dari setiap transaksi jual beli ke kas negara ( di Australia dan New 
Zealand sistim ini terkenal dengan sebutan GST atau goods and 
service tax). Dengan demikian selain kas negara tambah tebal juga 
akan mengurangi transaksi gelap(black ekonomi).

Saya setuju dengan pandangan pak Iwan kalau di lihat dari kacamata 
pemerintah tapi tidak setuju kalau di pandang dari kacamata 
pengusaha....then again kita setuju untuk tidak setuju bukan?

salam


--- In [email protected], Iwan Wibawa 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> menguatnya nilai rupiah kita terhadap dollar disambut masyarakat 
dengan baik, karena itu berarti barang-barang konsumsi yang diimpor 
menjadi lebih murah dan terjangkau masyarakat, namun hal ini 
ditanggapi para pengusaha dengan sebaliknya, lucunya mereka minta 

Kirim email ke