Hehehe kalau para Menteri; Anggota DPR; dan pejabat-pejabat dikantor
ke-Presidenan, semua merasa sangat "aib" jika telah melakukan korupsi dan pada
meniru para Menteri di Jepang, dengan melakukan bunuh diri jika terkena skandal
korupsi, maka jalan untuk para pemimpin Indonesia yang muda-muda dan yang tidak
ada hubungan nya dengan ORBA, akan terbuka lebar untuk mendapatkan kedudukan,
dong?
Karena kedudukan para pejabat tinggi di Indonesia tersebut jadi pada kosong
semua :-))
dan para pemimpin muda dibawah 40 tahun akan mendapatkan kesempatan
berpolitik. Kan, jadi asyik banget tuh. Biar enggak "itu-itu" saja yang selalu
berkuasa diajang pemerintahan Indonesia.
Alih-alih rakyat miskin yang pada bunuh diri, maka gantian deh...para Menteri
dan pejabat-pejabat "yang terhormat" yang melakukan hal tersebut, karena merasa
malu melakukan korupsi, bukan karena tidak bisa lagi menghidupi keluarganya
seperti kebanyakan rakyat kecil saat ini.
Kali ini hanya "impian" disiang bolong, yach? Soalnya para pejabat di
Indonesia ini enggak ada yang merasa malu atau bersalah jika melakukan KKN,
bukan?
Selamat bermimpi.
Yuli
Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Berita di Radio Nederland, 28 Mei 2007, ini kembali menggarisbawahi
bahwa bangsa Jepang bukanlah bangsa yang soft dalam masalah korupsi. Benar,
korupsi juga ada di Jepang, bukan cuma di negara berkembang semacam Indonesia.
Tetapi rasa malu ketika korupsi itu terungkap, masih sangat kuat. Seorang
pejabat yang ketahuan korupsi, akan mundur. Bahkan, dalam wujud ekstrem,
melakukan harakiri, seperti contoh di bawah ini.
Menteri Pertanian Jepang, Toshikatsu Matsuoka, melakukan bunuh diri setelah ia
dihubungkan dengan skandal korupsi. Menteri berusia 62 tahun tersebut
menggantung diri di tempat tinggalnya di Tokyo. Dia kemungkinan menerima dana
kampanye untuk ditukar dengan tender pemerintah bagi perusahaan. Minggu lalu
dua pejabat tinggi juga ditahan sehubungan dengan skandal ini. Popularitas
pemerintahan
Perdana Mentri Shinzo Abe turun sebagai akibat dari masalah ini. Di bulan Juli
2007, dijadwalkan akan diadakan pemilihan parlemen di Jepang.
Bandingkan di negeri kita! Orang yang sudah terang-terangan ketahuan korupsi,
bukannya malu, tetapi malah bangga. Buktinya? Oh, banyak sekali. Misalnya,
seorang pegawai negeri yang --secara akal sehat-- tidak mungkin bisa beli rumah
mewah dan sedan jaguar dengan mengandalkan gajinya semata, malah bangga
menunjukkan bahwa ia punya rumah dan mobil mewah! Apalagi rumah dan mobil mewah
itu lebih dari satu pula!
Lebih buruk lagi, masyarakat kita sekarang makin jauh dari menghargai nilai
kejujuran. Buktinya, seorang pejabat yang ketahuan korupsi, atau pengusaha
pengemplang dana BLBI, masih diperlakukan dengan hormat di mana-mana. Mereka
bahkan tetap diberi jabatan di pemerintahan! Tidak ada sanksi moral, atau
sanksi sosial. Apalagi hukuman pidana!
Jadi, tidak usah heran jika kita melihat orang menunduk-nunduk atau tersenyum
lebar, ketika mereka menyalami pejabat tinggi dan pengusaha korup. Bahkan
banyak orang justru merasa bangga, jika bisa dekat dengan mereka, para
penghisap uang rakyat! Tapi, coba lihat, bagaimana sikap mereka jika bertemu
dengan --katakanlah-- seorang guru SD yang jujur, hidup bersih, tetapi miskin?
Atau, rakyat kecil korban lumpur Lapindo, atau korban penggusuran, dan
orang-orang "tak bernama" lainnya!
Ketika di sebuah negeri, orang-orang yang bermoral bejad dan dzalim dihormati,
sementara orang jujur dan miskin diejek atau direndahkan, maka tak heran jika
negeri itu selalu dalam bencana atau krisis. Kita tidak bisa menunggu
kedatangan "Ratu Adil" atau "Messiah" untuk memperbaiki kondisi bangsa ini.
Semua itu harus kita ubah dengan tangan kita sendiri! Allah SWT tidak akan
mengubah nasib suatu bangsa, kecuali bangsa itu sendiri mau mengubah nasibnya.
Satrio Arismunandar
Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026, Fax: 79184558, 79184627
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
"If you know how to die, you know how to live..."